Bisnis.com, JAKARTA – Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia masih menarik di tengah siklus kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Meski demikian, investor dinilai masih mencermati sejumlah arah kebijakan ekonomi pemerintah ke depan.
Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia Freddy Tedja mengatakan secara valuasi, surat utang pemerintah Indonesia saat ini menawarkan imbal hasil yang kompetitif dibandingkan negara berkembang lainnya.
Baca Juga
- SBN Ritel ORI030 Tenor 3 Tahun Mulai Ramai Peminat, 6 Tahun Masih Sepi
- Yield Surat Utang Korporasi vs SBN Beda Tipis, Investor Pilih yang Mana?
- Pefindo: Kupon Surat Utang Korporasi Turun saat Yield SBN Melejit
Bahkan, posisi Indonesia lebih menarik dibandingkan negara berkembang yang memiliki peringkat kredit lebih rendah dari RI.
Menurutnya, hingga akhir Juni 2026 spread imbal hasil SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury (UST) tenor serupa mencapai 273 basis poin (bps), lebih lebar dibandingkan rata-rata satu tahun terakhir sekitar 220 bps.
"Artinya, secara valuasi sebenarnya obligasi Indonesia saat ini sangat atraktif. Tetapi masih ada ketidakpastian yang masih ditunggu investor, yaitu stabilitas Rupiah, arah BI Rate, dan konsistensi & komitmen disiplin fiskal," ujar Freddy dalam ulasan pasar Seeking Alpha edisi Juli 2026.
Dia menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menopang pasar obligasi domestik, antara lain meredanya ketegangan geopolitik global dan normalisasi harga minyak dunia yang diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, serta arah kebijakan suku bunga.
Di sisi domestik, MAMI menilai langkah pemerintah melakukan sejumlah penyesuaian kebijakan sejak Juni 2026, ditambah kenaikan BI Rate sebesar 50 bps pada Juni untuk menjaga stabilitas rupiah, menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar.
Selain pasar obligasi, MAMI juga melihat valuasi pasar saham Indonesia sudah berada pada level yang menarik. Forward price to earnings (P/E) MSCI Indonesia per akhir Juni 2026 tercatat sebesar 8,7 kali, jauh di bawah rata-rata lima tahun sebesar 13,2 kali.
Namun, valuasi yang murah belum cukup menjadi alasan bagi investor untuk kembali masuk secara agresif. Pasar dinilai masih menantikan kejelasan arah kebijakan ekonomi, konsistensi implementasi kebijakan pemerintah, serta perbaikan kondisi ekonomi riil, terutama konsumsi masyarakat dan daya beli.
Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, MAMI menyarankan investor menerapkan strategi seleksi aset dan disiplin dalam melakukan alokasi investasi.
"Untuk obligasi, naiknya imbal hasil memberi peluang akumulasi selektif, terutama jika stabilitas Rupiah terjaga. Sementara di pasar saham, kualitas emiten lebih penting daripada sekadar valuasi murah," tegasnya.





