Potensi Kemenyan di Humbang Hasundutan, dari Kunjungan Temasek hingga Nilai Pasar Fantastis

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Pimpinan perusahaan investasi global Singapura, Temasek Holdings, mengunjungi Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Temasek menjajaki peluang investasi di pusat penelitian dan pengembangan herbal dan minyak asiri, khususnya yang berbasis kemenyan.

Chairman Temasek Holdings, Teo Chee Hean, diterima oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan dan Wakil Gubernur Sumut Surya di pusat penelitian yang berada di Kecamatan Pollung di sisi barat daya Danau Toba di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut itu.

“Sebanyak 70 persen kemenyan global berasal dari area ini. Pasarnya sebesar 23 miliar dolar Amerika Serikat,” kata Luhut kepada Teo dalam kunjungan pada Jumat (10/7/2026).

Luhut menyebut, dalam 72 bulan terakhir, neraca perdagangan Indonesia selalu surplus. Neraca ekspor-impor Indonesia selalu positif sejak Mei 2020 hingga April 2026. Menurut Luhut, hal itu terutama ditopang oleh hilirisasi komoditas unggulan nasional yang dilakukan di dalam negeri. Namun, pada Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia minus.

“Ekspor Indonesia selalu surplus selama 72 bulan terutama karena hilirisasi. Lalu, kenapa kita tidak melakukan hilirisasi juga pada produk pertanian kita,” kata Luhut.

Luhut menyebut, Taman Sains Teknologi Herbal itu bukan sekadar tempat mengembangkan benih, tetapi juga pondasi industri pangan dan pertanian nasional berbasis riset dan teknologi.

Hilirisasi di sektor pertanian, kata Luhut, akan dilakukan dengan pola dan semangat yang sama dengan hilirisasi di sektor sumber daya mineral. Dulu, banyak yang ragu pada kebijakan Indonesia yang menyetop ekspor bijih nikel.

Baca JugaHilirisasi Kemenyan, Kerja Sama dengan Industri Parfum Perancis Digagas

Namun, setelah hilirisasi nikel dilakukan, nilai ekspor nikel melompat dari 1,5 miliar dolar AS menjadi 35 miliar dolar AS. “Keberhasilan itu yang akan direplikasi ke sektor pertanian dan herbal untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional,” tutur Luhut.

Sementara itu, Teo mengaku tertarik berkunjung karena mendengar cerita Luhut tentang Taman Sains Teknologi Herbal. “Beliau berbicara kepada saya tentang lembaga penelitian dan lembaga pendidikan ini. Setiap saya bertemu dia, lembaga penelitian ini adalah hal yang sangat menarik yang diceritakan beliau kepada saya,” ujarnya.

Teo tidak menyampaikan secara langsung ketertarikan atau penilaiannya tentang investasi di Tanam Sains Teknologi Herbal. Namun, dia mengaku tertarik dengan berbagai penelitian yang dilakukan di Taman Sains Teknologi Herbal.

Secara berseloroh, Teo mengatakan, dirinya lebih tertarik pada penelitian pengurutan genom durian. “Mungkin yang paling menarik bagi hati dan perut kita adalah pengurutan genom durian,” tuturnya.

Baca JugaRibuan Tahun Kemenyan Diekspor Mentah, Hilirisasi di Dalam Negeri Mulai Digagas

Dalam catatan Kompas, Taman Sains Teknologi Herbal berdiri di lahan seluas 500 hektar di kawasan hutan dengan tujuan khusus. Taman itu dilengkapi fasilitas modern seperti green house (rumah kaca), screen house (rumah jaring), pilot plant (uji coba tanaman), fasilitas ekstraksi herbal, laboratorium pascapanen, bank gen, taman tanaman obat, dan fasilitas produksi biofertilizer (pupuk hayati).

Area taman tersebut terbagi menjadi tiga zona, yakni riset, manajemen, dan permukiman. Taman sains tersebut akan dikelola oleh badan otorita yang nantinya juga mengampu Food Estate Humbang Hasundutan.

Taman Sains Teknologi Herbal menjadi bagian dari pelestarian dan pemuliaan tanaman herbal khas Toba dan daerah-daerah lain di Indonesia. Indonesia memiliki sekitar 30.000 jenis tanaman herbal yang tersebar di sejumlah daerah, termasuk kawasan Danau Toba.

Selama ini, pengembangan kekayaan alam itu masih belum optimal. Di sektor perdagangan, misalnya, Indonesia masih mengimpor obat herbal dari negara lain. Jika pun diekspor, bentuknya masih bahan baku, belum bahan jadi.

Baca JugaWapres Tinjau Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura, Dorong Pengembangan Komoditas Lokal

Data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu Kementerian Kesehatan menunjukkan, Indonesia memiliki 32.013 ramuan obat tradisional dan 2.848 spesies tumbuhan sebagai bahan baku obat tradisional, terutama jamu.

Tak mengherankan jika pada pada 6 Desember 2023, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan jamu dari Indonesia sebagai warisan budaya tak benda (Kompas.id, 4/8/2024).

Mengutip data Trademap.org, pada 2024, ekspor produk getah alam, resin, dan oleoresin Indonesia, termasuk kemenyan, mencapai 43.685 ton dengan nilai 55,5 juta dolar AS atau rata-rata 1.270,45 dolar AS per ton.

Adapun produk hilirisasi berupa minyak asiri dan turunannya mencapai 42,3 juta dolar AS dengan volume hanya 1.776 ton, setara 23.817,56 dolar AS per ton.

Sebanyak 70 persen kemenyan global berasal dari area ini. Pasarnya sebesar 23 miliar dolar Amerika Serikat

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan, data itu menunjukkan nilai per ton produk hilirisasi jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah (Kompas.id 15/9/2025).

”Artinya, hilirisasi kemenyan mampu memberikan nilai tambah signifikan dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” katanya.

Awalnya, kemenyan lebih dikenal sebagai bahan ritual dan wewangian tradisional. Namun, pemanfaatannya berkembang pesat seiring kebutuhan industri global.

Resin dan minyak asiri berbasis kemenyan kini banyak digunakan sebagai bahan parfum, aromaterapi, pengharum ruangan, kosmetik, hingga insektisida alami.

Baca JugaPeradaban Sunyi Kemenyan Tanah Batak yang Mendunia

Bupati Humbang Hasundutan, Oloan Paniaran Nababan, mengatakan, daerahnya memiliki sejarah panjang dan identitas yang kuat sebagai daerah penghasil kemenyan.

Ke depan, dia ingin potensi tersebut tidak berhenti pada produksi bahan mentah. Peluang menjadi industri yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menarik investasi yang berkelanjutan, terbuka lebar.

Selama ini, kata Oloan, nilai ekonomi yang dinikmati petani dari hasil kemenyan masih sedikit dibandingkan rantai pasok lain, seperti pengepul, eksportir, dan pelaku industri. Untuk kemenyan kualitas 1, misalnya, harga di tingkat petani berkisar Rp 320.000 per kilogram.

Di tingkat pengepul, harga itu langsung naik 40 persen menjadi Rp 450.000 per kg tanpa pengolahan apa pun. Nilai tambah yang jauh lebih besar juga dinikmati eksportir hingga pelaku industri pengolahan. Akibatnya, nilai ekonomi yang dinikmati daerah tidak banyak.

Luhut menyebut, nilai pasar global kemenyan mencapai 23 miliar dolar AS atau setara Rp 415 triliun. Sekitar 70-80 persen berasal dari Indonesia. Namun, nilai ekspor kemenyan Indonesia pada 2024 hanya 52,1 juta dolar AS atau setara Rp 937 miliar. Dengan hilirisasi, nilai tambah yang dinikmati di dalam negeri diharapkan bisa melompat sangat besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mendagri Tutup HUT Dekranas, Apresiasi Wali Kota Munafri
• 1 jam lalucelebesmedia.id
thumb
MAKI Sebut Pelimpahan Penanganan Perkara Febrie Ardiansyah Tabrak KUHAP Baru
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
46 Tahun Dekranas Bukukan Transaksi Rp5 Miliar dan Gerakkan Sektor Pariwisata Sulsel
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Argentina ke Semifinal Piala Dunia, Messi Buka Baju dan Senyum Lebar
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prabowo Dadakan Panggil Menhan, Jaksa Agung hingga Kapolri Rapat Tertutup
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.