Bisnis.com, MAGETAN – Keaslian varietas dan cita rasa kopi peninggalan era kolonial Belanda masih bertahan di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di kawasan ini, ratusan petani masih membudidayakan kopi dari bibit yang berasal dari pohon-pohon tua berusia lebih dari seabad sehingga menjadi daya tarik tersendiri di tengah meningkatnya tren kopi lokal.
Lebih dari satu abad lalu, kopi varietas Robusta, Arabika, dan Excelsa tumbuh subur kawasan lereng Gunung Lawu dengan karakteristik biji yang diklaim tidak berubah sejak pertama kali ditanam. Saat ini, ketiga jenis kopi tersebut terus dikembangkan karena memiliki peminat dan nilai ekonomi yang tinggi.
Salah satu petani kopi, Santoso, 57, menceritakan komoditas kopi dari kawasan Gunung Tambal, Desa Alastuwo, memiliki ciri khas bentuk biji yang lebih kecil dengan rasa yang kuat untuk tiap jenis jika dibandingkan dengan kopi dari daerah lain.
Menurutnya, ukuran biji yang cenderung lebih kecil disebabkan pohon kopi yang ada di wilayah tersebut sudah ada sejak era Kolonial Belanda dan tidak mengalami persilangan jenis baik alami maupun buatan.
Dari 3.000 pohon miliknya, sebagian besar berasal dari satu pohon kopi berusia lebih dari 100 tahun yang ada di belakang rumahnya. Selama bertahun-tahun, ia memperbanyak bibit tanaman dengan cara stek batang. Kini, pohon-pohon tersebut telah berbuah dan menghasilkan hingga satu ton tiap musim panen.
"Punya saya kopinya jenis Robusta dan Excelsa. Bibitnya itu sudah ada sejak kakek saya masih hidup, saya perbanyak terus sampai sekarang sudah ada 3.000 pohon di tiga titik," ujarnya saat ditemui Solopos/Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Minggu (12/7/2026).
Baca Juga
- Gerobak Kopi Keliling Jadi Strategi DIY Angkat Produksi Lokal
- Panen Brasil Tersendat, Harga Kopi Arabika Naik Meski Pasokan Global Surplus
- Susu Nabati Kian Diminati Para Pencinta Kopi
Menurut Santoso, keotentikan kopi dari wilayahnya ditandai dengan ukuran biji kopi robusta yang cenderung lebih kecil dibanding kopi dari kebun daerah lain. Sedangkan, kopi jenis Excelsa memiliki ukuran pohon yang tinggi dan daun lebih lebar serta biji besar dan cenderung lonjong.
Masyarakat sekitar menyebut kopi Excelsa dengan sebutan "Kopi Nangka" karena mempunyai aroma khas seperti buah nangka. Meski populasi jenis ini hanya sekitar 2 persen di seluruh dunia, harga kopi nangka terbilang tidak kompetitif jika dibanding dengan jenis lain. Selain itu, kopi jenis ini kurang diminati karena memerlukan tenaga ekstra saat memanen.
Untuk setiap kilogram biji kopi siap sangrai (green bean) jenis Robusta, Santoso membanderolnya dengan harga Rp100.000, sedangkan untuk jenis Excelsa dibanderol Rp110.000.
"Permintaan untuk jenis Excelsa ini mayoritas dari Solo dan Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Warga sini jarang yang suka, pohonnya tinggi dan metiknya lebih susah, beda kalau Robusta atau Arabika. Kalau Robusta yang ambil cafe-cafe di Magetan dan sekitarnya," jelasnya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kementerian Pertanian Kecamatan Poncol, Sayogo Pamungkas, mengatakan kopi kini menjadi salah satu komoditas perkebunan yang terus berkembang di wilayah tersebut. Tercatat ada sekitar 720 petani kopi yang tersebar di delapan desa di Kecamatan Poncol.
Luas lahan kopi saat ini mencapai sekitar 25 hektare hingga 30 hektare dengan potensi pengembangan yang masih sangat besar. Menurutnya, Poncol memiliki sekitar 2.200 hektare lahan kering yang berpeluang dikembangkan menjadi kawasan perkebunan kopi.
"Setiap tahun selalu ada pengembangan areal. Kami memfasilitasi kelompok tani untuk mendapatkan bantuan bibit, pupuk, obat-obatan hingga alat pengolahan kopi dari Dinas Pertanian. Kami juga bekerja sama dengan UNS dan Unesa dalam pendampingan petani," jelasnya.
Seiring meningkatnya permintaan terhadap kopi lokal dengan cita rasa khas, ia menambahkan pemasaran kopi Poncol kini tidak lagi terbatas di Magetan. Akan tetapi juga telah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur hingga luar provinsi.





