Persaingan Himpun DPK Kian Ketat, Bank Kecil Sulit Tambah Dana Mengendap

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Persaingan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) antarbank diperkirakan akan semakin ketat dan tidak merata di tengah perubahan pola simpanan masyarakat. 

Data distribusi simpanan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan nominal simpanan hanya terjadi pada kelompok bank KBMI 2 dan KBMI 4, sedangkan KBMI 1 dan KBMI 3 masih mengalami stagnasi bahkan penurunan.

Berdasarkan data LPS, nominal simpanan di bank KBMI 1 per Mei 2026 turun 0,3% secara tahun berjalan (year-to-date/YtD) menjadi Rp938,5 triliun dari Rp941,8 triliun pada akhir 2025. Simpanan KBMI 3 juga praktis stagnan di level Rp2.784,5 triliun dari Rp2.784,8 triliun. Sebaliknya, simpanan KBMI 2 meningkat menjadi Rp1.056,2 triliun dari Rp1.014,9 triliun, sedangkan KBMI 4 naik menjadi Rp5.550,8 triliun dari Rp5.347,1 triliun.

Menariknya, pertumbuhan jumlah rekening justru terjadi di hampir seluruh kelompok bank. Rekening di KBMI 1 meningkat 4,6%, KBMI 2 melonjak 28,5%, dan KBMI 3 bertambah 2,4% YtD. Hanya KBMI 4 yang mencatat penurunan jumlah rekening sebesar 4,4% YtD.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah rekening belum otomatis diikuti pertumbuhan dana yang dihimpun bank.

“Jumlah rekening menggambarkan jangkauan nasabah, sedangkan nominal simpanan mencerminkan isi dananya. Dengan pola saat ini, saldo rata-rata per rekening cenderung turun di KBMI 1, KBMI 2, dan KBMI 3,” kata Josua kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (12/7/2026).

Baca Juga

  • Himpun DPK, Bank Bisa Andalkan Bundling Kombinasi Produk
  • LPS: Masyarakat Jangan Khawatir Nabung di Bank, Simpanan Dijamin
  • Perang Suku Bunga Simpanan Ancam Margin Bank

Dia menuturkan, kenaikan rekening sebesar 4,6% YtD di KBMI 1 justru disertai penurunan simpanan 0,3% YtD. Di KBMI 2, jumlah rekening melonjak 28,5% YtD, tetapi nominal simpanan hanya bertambah sekitar 4% YtD. Sementara itu, rekening KBMI 3 naik 2,4% YtD ketika nominal simpanannya nyaris tidak berubah.

Menurut Josua, kondisi tersebut mengindikasikan banyak rekening baru diisi saldo relatif kecil, baik berupa rekening transaksi, rekening digital, rekening gaji, maupun rekening yang dibuka untuk memenuhi kebutuhan layanan tertentu, bukan sebagai rekening tabungan dengan saldo besar.

Fenomena tersebut dipengaruhi perubahan perilaku masyarakat sekaligus kondisi ekonomi. Dia mengatakan, nasabah kini cenderung membagi dana ke beberapa rekening, lebih aktif menggunakan rekening untuk transaksi harian, dan mengalihkan sebagian dana ke instrumen investasi dengan imbal hasil lebih menarik.

Di sisi lain, kemampuan masyarakat untuk menabung juga belum pulih sepenuhnya. Survei Konsumen Bank Indonesia Juni 2026 menunjukkan porsi pendapatan yang dialokasikan untuk konsumsi meningkat menjadi 73,0% dari sebelumnya 72,3%, sedangkan porsi untuk tabungan turun menjadi 17% dari 17,5%.

Kondisi tersebut diperkuat oleh perlambatan konsumsi. Penjualan eceran Juni 2026 diprakirakan turun 0,8% secara bulanan dan terkontraksi 4,4% secara tahunan, terutama pada kelompok makanan dan minuman, bahan bakar kendaraan, barang budaya dan rekreasi, serta peralatan informasi dan komunikasi.

“Bertambahnya rekening lebih mencerminkan perluasan layanan bank, tetapi dana masyarakat belum otomatis bertambah karena daya beli dan ruang menabung masih terbatas,” ujar Josua.

Kompetisi DPK Bergeser

Josua memperkirakan persaingan penghimpunan DPK akan bergeser dari sekadar mengejar pembukaan rekening baru menjadi memertahankan saldo aktif nasabah.

Menurut dia, kondisi KBMI 4 justru menunjukkan pola berbeda. Meski jumlah rekening berkurang, nominal simpanan tetap meningkat sehingga saldo rata-rata per rekening bertambah. Hal itu mengindikasikan dana semakin terkonsentrasi pada nasabah besar.

“Ini memperkuat posisi bank-bank besar dalam menghimpun dana, tetapi sekaligus meningkatkan risiko konsentrasi apabila terlalu bergantung pada deposan besar,” ungkapnya.

Sebaliknya, bank KBMI 1 dan KBMI 3 menghadapi tantangan lebih besar karena harus mengubah rekening-rekening baru menjadi dana yang benar-benar mengendap.

Josua juga mengingatkan tekanan biaya dana (cost of fund) berpotensi meningkat di tengah tingginya imbal hasil instrumen investasi. Dengan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 7,24% dan nilai tukar rupiah masih berada di sekitar Rp18.055 per dolar AS pada 10 Juli 2026, deposan besar dan korporasi akan semakin aktif membandingkan bunga deposito dengan alternatif investasi lain.

“Bank yang memiliki basis dana murah lebih lemah akan terdorong menawarkan bunga deposito lebih tinggi untuk memertahankan dana,” katanya.

Karena itu, lanjut dia, bank perlu memperkuat rekening payroll, layanan transaksi harian, pengelolaan kas perusahaan, ekosistem UMKM, layanan digital yang aktif digunakan, hingga program loyalitas agar rekening baru berkembang menjadi rekening utama nasabah.

“Jika bank hanya mengejar jumlah rekening, biaya akuisisi nasabah meningkat tetapi dampaknya terhadap dana murah relatif kecil. Sebaliknya, apabila rekening baru menjadi rekening aktif dengan saldo stabil, biaya dana dapat lebih terkendali,” tutur Josua.

KBMI 2 Optimistis Perluasan Basis Nasabah

Dari sisi industri, bank-bank KBMI 2 memandang lonjakan jumlah rekening tetap menjadi sinyal positif karena menunjukkan keberhasilan memperluas basis nasabah.

Corporate Secretary PT Bank Mandiri Taspen Tulus P. Hutabarat mengatakan, pertumbuhan rekening yang lebih tinggi dibandingkan nominal simpanan menunjukkan akuisisi nasabah berjalan baik dan tidak semata ditopang deposan besar yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.

“Namun, pertumbuhan rekening yang masif harus diimbangi akuisisi nasabah dengan biaya yang efisien agar profitabilitas tetap terjaga,” kata Tulus kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (12/7/2026).

Menurut Tulus, Bank Mandiri Taspen menjalankan sejumlah strategi untuk mendorong pertumbuhan rekening sekaligus DPK, mulai dari digital onboarding melalui e-KYC, pemberian special rate secara selektif sesuai profil deposan, optimalisasi ekosistem pensiunan, pengembangan rekening payroll dan operasional UMKM, hingga program loyalitas berupa cashback, reward, dan referral.

Dia juga melihat perubahan profil nasabah semakin mengarah ke segmen digital yang memiliki frekuensi transaksi lebih tinggi. Karena itu, perseroan terus menyempurnakan fitur aplikasi mobile banking Movin untuk meningkatkan pengalaman transaksi nasabah.

Sementara itu, Direktur Direktur Kepatuhan, Risiko, dan Hukum di PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Ganda Raharja Rusli menilai dinamika penghimpunan DPK pada Mei 2026 tidak lepas dari pengetatan likuiditas yang dilakukan BI.

Menurut dia, penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang telah melampaui Rp1.000 triliun hingga akhir Juni 2026 menyerap likuiditas dari sistem perbankan. Imbal hasil SRBI yang tinggi mendorong bank menaikkan suku bunga simpanan untuk memertahankan dana masyarakat.

Sementara itu, lanjut Ganda, bank penghuni KBMI 4 sesuai dengan size banknya akan memiliki daya serap yang paling tinggi, menyerap likuiditas dari pasar.

“Fakta bahwa jumlah simpanan di bank KBMI 2 masih bertumbuh, lebih karena bank KBMI 2 berusaha menyesuaikan suku bunga lebih antisipatif, dibandingkan bank KBMI 1 dan 3,” tutur Ganda kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (12/7/2026).

Menurut Ganda, sejauh ini penyesuaian suku bunga menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan rekening dan simpanan secara bersamaan. Kendati begitu, dia menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya perubahan profil nasabah karena fenomena tersebut baru berlangsung sekitar satu bulan.

Jika tren tersebut berlanjut pada data Juni 2026, kata dia, industri perbankan akan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai arah pergeseran perilaku penyimpanan dana masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Ibaratkan Koperasi seperti Sapu Lidi: Satu Lemah Kalau Digabung Jadi Kuat
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Kritik MAKI Soal Pelimpahan Berkas ke Kejaksaan Kasus Eks Jampidsus Febri Adriansyah: Prematur!
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Kemlu: Rusia siap berdialog dan tak akan serang negara NATO
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo: Saya Maju 5 Kali, 4 Kali Kalah Tapi Nggak Pernah Saya Suruh Anak Buah Bakar-Bakar, Demo Aja Enggak!
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Omzet Koperasi Kelurahan Merah Putih Ini Tembus Ratusan Juta
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.