CELEBESMEDIA.ID, Makassar - PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan stok dan penyaluran Biosolar bersubsidi di wilayah Sulawesi aman di tengah antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.
Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menegaskan tidak ada pengurangan kuota Biosolar bersubsidi.
Menurut dia, antrean yang terjadi lebih dipengaruhi oleh tingginya permintaan pada jam-jam tertentu, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta proses verifikasi melalui sistem Subsidi Tepat.
"Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memahami perhatian masyarakat terkait antrean kendaraan di sejumlah SPBU. Perlu kami sampaikan bahwa secara umum stok dan penyaluran Biosolar subsidi di wilayah Sulawesi dalam kondisi aman dan tidak terdapat pengurangan kuota," kata Lilik dalam keterangan resminya, Senin (13/7).
Ia menjelaskan, tingginya antrean juga dipengaruhi oleh proses verifikasi dalam program Subsidi Tepat yang bertujuan memastikan penyaluran BBM subsidi dilakukan sesuai ketentuan dan tepat sasaran.
"Antrean yang terjadi dipengaruhi oleh tingginya permintaan Biosolar di jam-jam tertentu, perubahan pola konsumsi, serta proses verifikasi melalui sistem Subsidi Tepat untuk memastikan penyaluran dilakukan sesuai ketentuan dan tepat sasaran," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina mengaku terus mengoptimalkan distribusi BBM ke SPBU, melakukan pemantauan stok secara real time, serta memperkuat pengawasan bersama aparat penegak hukum dan instansi terkait guna mencegah penyalahgunaan BBM subsidi.
Selain itu, masyarakat diimbau menggunakan jenis BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan masing-masing agar performa kendaraan tetap optimal.
Pertamina juga meminta masyarakat berperan aktif melaporkan apabila menemukan dugaan penyimpangan dalam penyaluran BBM subsidi.
Dalam beberapa hari terakhir, antrean truk, bus, dan kendaraan angkutan barang terjadi di sejumlah SPBU di Kota Makassar maupun di jalur Trans Sulawesi.
Kondisi tersebut dikeluhkan para sopir karena harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan Biosolar, sehingga mengganggu jadwal distribusi barang dan mengurangi pendapatan mereka.
Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Sulselbar sebelumnya menyebut antrean solar telah berdampak pada keterlambatan distribusi logistik, berkurangnya ritase armada, hingga berpotensi memicu inflasi apabila pasokan barang ke pasar terganggu.




