Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan memantau fluktuasi harga minyak mentah usai perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas dan Selat Hormuz diblokade kembali.
Airlangga mengatakan, harga minyak mentah terlalu bergejolak, setelah sempat menurun karena melandainya tensi perang, saat ini kembali merangkak naik.
"Ya kan kita monitor saja, kan setiap minggu up and down (naik dan turun)," ungkapnya kepada awak media saat ditemui di kantornya, Senin (13/7).
Airlangga mengatakan, harga minyak mentah tergantung kondisi Selat Hormuz yang ditutup Iran sebagai langkah retaliasi negara tersebut atas serangan AS dan Israel.
"Harga minyak tergantung Selat (Hormuz)," imbuh Airlangga.
Harga minyak melonjak setelah AS melanjutkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Selain itu, kedua negara juga saling berselisih mengenai status Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran energi strategis dunia.
Harga minyak mentah acuan global Brent naik menembus level USD 79 per barel setelah menguat lebih dari 5 persen sepanjang pekan lalu. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati USD 74 per barel.
Pada Minggu (12/7), Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup “hingga pemberitahuan lebih lanjut”. Pernyataan itu disampaikan setelah pasukan Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal terhadap sekutu-sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Yordania dan Qatar.
Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia hampir terhenti pada Senin (13/7). Hal itu memperpanjang perlambatan yang telah terjadi sejak ketegangan meningkat pekan lalu.
Analis senior energi MST Marquee, Saul Kavonic, menilai eskalasi terbaru memang meningkatkan ketegangan, tetapi masih belum mengarah pada perang terbuka secara penuh.
Serangan terhadap fasilitas pengeboran minyak di Kuwait pada akhir pekan lalu menjadi serangan langsung pertama terhadap infrastruktur energi dalam beberapa pekan terakhir. Menurut Kavonic, apabila konflik meluas hingga menyasar lebih banyak infrastruktur energi, harga minyak berpotensi melonjak hingga mencapai USD 100 per barel.





