Yogyakarta (beritajatim.com)– Dinas Pariwisata (Dispar) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus berupaya memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor ekonomi kreatif. Salah satunya melalui pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi profesi bagi pelaku industri batik yang digelar bekerja sama dengan Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian.
Program yang berlangsung selama lima hari tersebut diikuti oleh 25 pelaku usaha batik dari berbagai wilayah di DIY. Fokus pelatihan diarahkan pada peningkatan kemampuan teknis dalam skema pewarnaan batik menggunakan zat warna sintetis sesuai standar kompetensi nasional.
Kepala Dispar DIY, Imam Pratanadi, mengatakan peningkatan keterampilan teknis menjadi langkah penting untuk menghasilkan produk batik yang berkualitas sekaligus mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Menurutnya, penguasaan teknik pewarnaan yang benar tidak hanya menghasilkan warna yang lebih tahan lama dan sesuai standar mutu, tetapi juga membuat proses produksi menjadi lebih efisien dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan kerja serta kelestarian lingkungan.
“Pelatihan ini merupakan investasi bagi masa depan industri batik Yogyakarta. Kompetensi pelaku usaha harus terus ditingkatkan agar mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat,” ujarnya saat membuka pelatihan di Yogyakarta, Senin.
Sertifikasi Jadi Nilai Tambah Perajin Batik
Setelah menyelesaikan pelatihan, seluruh peserta akan mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat profesi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Imam menegaskan bahwa sertifikat kompetensi bukan sekadar dokumen administratif, melainkan bukti pengakuan resmi atas kemampuan seseorang dalam bidang pekerjaannya.
Keberadaan sertifikasi dinilai mampu meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas peluang pemasaran, sekaligus memperkuat profesionalisme pelaku usaha batik sehingga lebih siap memasuki pasar nasional maupun internasional.
Ia pun mengingatkan peserta agar tidak hanya berorientasi pada kepemilikan sertifikat, tetapi benar-benar memanfaatkan pelatihan sebagai sarana meningkatkan kualitas karya dan kemampuan teknis.
“Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar dari para instruktur dan asesor yang berpengalaman. Kompetensi yang meningkat akan menjadi modal utama dalam mengembangkan usaha,” katanya.
Kolaborasi Perkuat Industri Batik Yogyakarta
Dispar DIY berharap sinergi dengan berbagai lembaga, termasuk BBSPJIKB Kemenperin, terus diperkuat guna mendukung pengembangan industri kreatif berbasis batik.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah optimistis batik Yogyakarta akan semakin inovatif, berkualitas, berkelanjutan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor ini.
Selain mencetak tenaga kerja yang kompeten, program tersebut juga diharapkan mampu memperkuat posisi batik Yogyakarta sebagai salah satu ikon budaya sekaligus penggerak ekonomi daerah.
Batik Bukan Sekadar Produk, tetapi Identitas Bangsa
Sementara itu, Kepala BBSPJIKB Kementerian Perindustrian, Zya Labiba, menegaskan bahwa batik memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar produk sandang.
Menurutnya, batik merupakan identitas budaya Indonesia yang menjadi sumber kreativitas sekaligus penggerak perekonomian masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa pengakuan UNESCO terhadap Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2 Oktober 2009 menjadi tanggung jawab bersama untuk terus menjaga kualitas, meningkatkan kompetensi SDM, dan mendorong inovasi agar batik tetap relevan di tengah perkembangan industri kreatif global.
“Pengakuan dunia tersebut harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing batik Indonesia,” ujarnya.
Zya juga menilai Yogyakarta memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat perkembangan batik nasional. Selain menjadi daya tarik wisata budaya, industri batik di daerah ini telah menjadi sumber penghidupan bagi ribuan UMKM, perajin, desainer, hingga pelaku ekonomi kreatif.
Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan sertifikasi dinilai menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda agar industri batik Yogyakarta mampu terus berkembang dan semakin kompetitif di tingkat nasional maupun internasional. [aje]




