Bisnis.com, JAKARTA — Perum Bulog menggandeng Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Seluruh Indonesia (Perpadi) untuk mengolah 2 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi beras premium bermerek Beraskita.
Kerja sama tersebut dilakukan karena kapasitas penggilingan Bulog dinilai belum mencukupi untuk menyelesaikan target pengolahan dalam waktu efektif sekitar empat bulan.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan kolaborasi dengan Perpadi merupakan bagian dari strategi percepatan pengolahan CBP menjadi beras komersial sesuai arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman.
“Kami dari Bulog sengaja mengundang Perpadi untuk hadir rapat koordinasi terkait dengan penugasan Bulog ke depan, yaitu pengolahan cadangan beras pemerintah sejumlah 2 juta ton untuk dijadikan beras komersial,” kata Rizal dalam konferensi pers di Kantor Perum Bulog, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026).
Menurut Rizal, Bulog tidak memiliki kapasitas penggilingan yang memadai untuk mengolah seluruh stok tersebut secara mandiri. Karena itu, Perpadi dilibatkan sebagai mitra strategis dalam proses pengolahan.
Dia menambahkan seluruh perwakilan Perpadi dari berbagai daerah telah menyatakan kesiapan mendukung program tersebut.
Baca Juga
- Bulog Gandeng Perpadi untuk Olah CBP Jadi Beras Premium
- Super El Nino Berpotensi Picu Lonjakan Harga Pangan Global hingga 2028
- Belum Deal Harga, Ini Kata Bulog soal Ekspor Beras ke Malaysia & Singapura
Sebanyak 2 juta ton beras CBP nantinya akan diproses ulang (rice to rice) menjadi beras premium. Rizal mengatakan pelibatan penggilingan swasta diperlukan mengingat waktu yang tersedia untuk menyelesaikan program relatif singkat.
“Bulog punya kesanggupan kan penggilingannya terbatas, sedangkan waktu yang diberikan untuk mengolah cadangan beras pemerintah menjadi 2 juta ton beras komersial itu tinggal sekitar empat bulan lagi efektifnya. Oleh karena itu kami harus dibantu oleh teman-teman pihak swasta," ujarnya.
Rizal menuturkan kerja sama Bulog dan Perpadi telah berlangsung sejak 2025 saat Bulog menyerap sekitar 3 juta ton gabah. Kolaborasi itu berlanjut pada 2026 seiring target penyerapan gabah yang meningkat menjadi 4 juta ton.
Dia menjelaskan beras premium hasil pengolahan tersebut akan dipasarkan dengan merek Beraskita. Sementara itu, produk beras premium Bulog yang telah beredar tetap dipasarkan seperti biasa.
“Tidak ada berubah. Cuma kan Beraskita ini tujuannya untuk lebih memfamiliarkan, lebih mudah dicerna oleh masyarakat. Berasnya pemerintah, berasnya rakyat, maksudnya seperti itu. Kan ada Minyakita, ada Gula Maniskita, beras juga ada Beraskita supaya lebih mudah diterima oleh rakyat,” jelasnya.
Peluncuran resmi Beraskita masih menunggu hasil rapat koordinasi terbatas (Rakortas) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Selain Perpadi, Bulog juga akan melibatkan penggilingan swasta lain yang memenuhi standar kualitas. Skema teknis pengolahan hingga distribusi Beraskita akan dibahas lebih lanjut dalam rapat teknis bersama Perpadi sebelum program dijalankan.
Sementara itu, Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso menyatakan pihaknya siap mendukung pengolahan 2 juta ton beras premium tersebut.
“Kami mendapat kehormatan yang luar biasa diajak oleh Bulog bagaimana kita melakukan salah satunya kegiatan dalam rangka pengadaan beras atau prosesing beras premium yang akan datang sebanyak 2 juta [ton],” ujar Sutarto.
Dia mengatakan Perpadi siap mendukung program tersebut dan akan terus memperkuat kolaborasi dengan Bulog.
“Pengusaha juga diperlukan untuk membangun bangsa ini dan kami sepenuhnya mendukung apa yang menjadi kebijakan pemerintah untuk menuju kepada kemandirian pangan, kedaulatan pangan, yang tentunya kami memiliki bagian yang cukup besar dalam khususnya perberasan ini,” pungkasnya.





