EtIndonesia.com Pada Minggu 12 Juli 2026 malam hingga 13 Juli 2026 dini hari, banjir bandang menerjang Kuancheng, Kota Chengde, Provinsi Hebei, Tiongkok. Jalan-jalan berubah menjadi sungai yang deras, rumah-rumah terendam, ketinggian air sempat mencapai sekitar 3 meter, banyak mobil hanyut terbawa arus, sejumlah jembatan rusak diterjang banjir, bahkan dilaporkan ada warga yang ikut terseret arus. Rekaman dari lokasi memperlihatkan pemandangan yang sangat memprihatinkan.
Banyak video yang diunggah warganet menunjukkan bahwa kawasan perkotaan Kuancheng dalam semalam berubah menjadi sungai berarus deras. Mobil-mobil pribadi terbawa arus seperti benda terapung, terguling dan hanyut. Di beberapa desa, genangan air bahkan mencapai atap rumah.
Banyak warga Kuancheng yang bekerja di luar daerah mengunggah permohonan bantuan di internet, di antaranya:
“Kampung halaman saya di Kabupaten Kuancheng, Kota Chengde, Provinsi Hebei sedang dilanda banjir. Banyak warga di Desa Xibingjiao terjebak, desa terendam, jalan-jalan rusak. Kami memohon bantuan penyelamatan dari luar.”
Warga lainnya menulis : “Ini adalah kampung halaman saya, Kuancheng. Hanya karena satu hujan lebat, kota kecil ini berubah total. Kota ini memang sudah tertinggal, sekarang sebagian besar wilayah mengalami pemadaman air, listrik, dan jaringan komunikasi.”
“Banyak jalan rusak parah, longsor terjadi di mana-mana, jumlah mobil pribadi yang hanyut tak terhitung. Bahkan ada tiang listrik tegangan tinggi yang roboh dan jembatan yang ambruk. Tolong bantu kami menghubungi pihak luar agar segera datang memberikan bantuan.”
Seorang warga mengatakan: “Kuancheng juga mengalami bencana yang sangat parah. Saya mendengar dari teman bahwa banyak orang hanyut. Kami ingin menolong, tetapi tidak mampu. Kuancheng benar-benar membutuhkan bantuan.”
Warga lain menulis: “Beberapa hari terakhir Kuancheng terus diguyur hujan deras dan kini mengalami bencana yang sangat serius. Banyak jembatan hanyut, air dan listrik padam, jaringan komunikasi terputus.”
Ada juga yang berkata: “Satu banjir telah membuat kampung halaman kami porak-poranda. Hati ini sungguh pilu.”
Seorang warga mengungkapkan: “Dulu saya selalu mengira bencana itu jauh dari kami. Baru kali ini saya melihat hujan sebesar ini menyebabkan banjir sedahsyat ini di Kuancheng. Jalan-jalan yang dulu ramai kini hancur diterjang air. Tak terhitung berapa banyak mobil yang hanyut. Di hadapan bencana alam, manusia benar-benar sangat kecil. Saya sungguh berdoa semoga Kuancheng dapat melewati musibah ini dengan selamat.”
Pada 13 Juli pagi, air banjir mulai surut. Yang tersisa hanyalah lumpur di mana-mana, kendaraan yang berserakan dan rusak, serta deretan toko dengan bagian depan yang hancur diterjang banjir.
Menurut laporan media daratan Tiongkok, seorang pemilik toko peralatan bernama Qiao mengatakan bahwa hujan deras mulai turun sekitar pukul 19.00 pada 12 Juli dan berlangsung hingga sekitar 01.00 dini hari tanggal 13. Ketinggian air di jalan sempat melebihi 2 meter. Ia mengaku belum pernah mengalami banjir sebesar ini. Banyak barang dagangannya hanyut, sementara pintu rolling door dan kaca tokonya hancur diterjang arus.
Seorang staf Klub Perahu Motor Jianye Kuancheng mengatakan bahwa sekitar pukul 20.00 malam 12 Juli, sebanyak 12 anggota tim penyelamat membawa 5 perahu motor menuju Desa Dongbingjiao, Desa Xibingjiao, dan daerah lain yang terdampak parah.
Kedalaman air di lokasi terdalam mencapai 3 meter, bahkan rumah satu lantai ada yang terendam hingga atap. Sebagian warga terjebak di lantai dua rumah mereka. Hingga 13 Juli pukul 08.00 pagi, tim tersebut telah bekerja sepanjang malam dan berhasil mengevakuasi puluhan warga.
Pada 11 Juli pukul 12.41, Stasiun Meteorologi Kabupaten Kuancheng telah mengeluarkan peringatan hujan lebat tingkat merah, memperkirakan curah hujan dalam 24 jam akan melebihi 200 milimeter.
Pada 12 Juli pukul 20.43, peringatan tersebut kembali ditingkatkan dengan perkiraan curah hujan dalam 24 jam mencapai lebih dari 280 milimeter.
Sepanjang 12 Juli, pemerintah setempat juga berturut-turut mengeluarkan:
- Peringatan merah hujan lebat.
- Peringatan merah bencana geologi (longsor).
- Peringatan oranye banjir bandang.
Hujan deras terus berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 malam.
Akibat hujan ekstrem tersebut, 9 desa yang berada di 4 kecamatan, yaitu Kuancheng, Mengziling, Boluotai, dan Longxumen, mengalami kerusakan jalan yang sangat parah sehingga lalu lintas terputus. Sekitar lebih dari 1.800 warga desa mengalami kesulitan untuk keluar masuk wilayah mereka.
Disusun berdasarkan laporan wartawan Li Siya





