Iran Serang Pangkalan AS di 6 Negara Timur Tengah Hingga Pelabuhan Oman, AS Gempur 140 Target Militer dalam Semalam!

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran terus mengalami eskalasi tajam. Memasuki hari ketujuh operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, kedua negara saling melancarkan serangan dalam skala yang semakin besar. 

Amerika Serikat mengklaim telah menyelesaikan gelombang ketiga serangan udara terhadap Iran dengan menghantam sekitar 140 sasaran militer, sementara Iran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) terbesar dalam beberapa bulan terakhir ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Serangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik yang semula berfokus di sekitar Selat Hormuz kini mulai meluas ke berbagai wilayah strategis di Teluk Persia dan Timur Tengah.

Amerika Serikat Klaim Hantam 140 Target Militer Iran

Pada 12 Juli 2026, militer Amerika Serikat mengumumkan telah menyelesaikan gelombang ketiga operasi militer terhadap Iran.

Dalam operasi tersebut, pasukan Amerika mengerahkan kekuatan udara dan laut dalam jumlah besar, meliputi:

Menurut keterangan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), sekitar 140 sasaran militer Iran berhasil dihantam dalam operasi tersebut.

Target yang diserang mencakup berbagai fasilitas strategis, antara lain:

CENTCOM juga menyatakan bahwa jika digabungkan dengan dua gelombang serangan sebelumnya, selama satu pekan terakhir Amerika Serikat telah menghantam lebih dari 300 sasaran militer di berbagai wilayah Iran.

Pete Hegseth: Iran Harus Menanggung Konsekuensinya

Menanggapi perkembangan tersebut, Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa operasi militer dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Iran yang dinilai terus meningkatkan eskalasi konflik.

Dalam pernyataannya ia mengatakan: “Iran telah memilih jalan yang salah. Kini mereka harus menanggung konsekuensinya.”

Pernyataan tersebut kembali menegaskan bahwa Washington belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi tekanan militernya terhadap Teheran.

Ketua Parlemen dan Menteri Luar Negeri Iran Tunjukkan Perubahan Sikap

Di tengah meningkatnya tekanan militer, sejumlah pejabat tinggi Iran mulai menyampaikan pernyataan yang menunjukkan perubahan pendekatan diplomatik.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui akun media sosial X menyatakan bahwa:

“Era kesepakatan sepihak telah berakhir.”

Dalam unggahannya, Ghalibaf secara khusus mengutip Pasal Kelima Memorandum Saling Pengertian Amerika Serikat–Iran.

Ia menyoroti bagian yang berbunyi:

“Iran akan membuat pengaturan…”

Menurut Ghalibaf, frasa tersebut menunjukkan bahwa Iran tetap memiliki kewenangan dalam mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Namun apabila keseluruhan isi dokumen dibaca secara utuh, pasal tersebut sebenarnya berbunyi:

“Iran akan mengatur agar kapal-kapal dagang dapat melintasi Selat Hormuz secara aman dan tanpa biaya selama 60 hari, serta menyelesaikan pembersihan ranjau laut dalam waktu 30 hari.”

Dengan demikian, isi memorandum tersebut tidak secara eksplisit memberikan hak kepada Iran untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional ataupun menentukan kapal mana yang diperbolehkan melintas di Selat Hormuz.

Iran Ajukan Syarat Baru dalam Inspeksi Program Nuklir

Perkembangan lain muncul pada 11 Juli 2026, ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ditanya mengenai kemungkinan mengizinkan tim Amerika Serikat melakukan inspeksi terhadap fasilitas nuklir Iran.

Araghchi menyatakan bahwa Iran pada prinsipnya bersedia menerima inspeksi internasional, namun mengajukan syarat tambahan.

Ia mengatakan: “Tentu saja boleh, tetapi dengan syarat kami juga diizinkan mengirim tim inspeksi ke Israel untuk memastikan apakah mereka memiliki senjata nuklir. Jika Israel memiliki senjata nuklir, maka Iran juga seharusnya berhak memilikinya.”

Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan bahwa isu nuklir Israel tetap menjadi salah satu syarat utama yang diajukan Teheran dalam setiap pembahasan mengenai pengawasan program nuklirnya.

Sikap tersebut bertolak belakang dengan kebijakan Washington.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menegaskan bahwa: “Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.”

Menurut pemerintah Amerika Serikat, larangan tersebut merupakan garis merah yang tidak dapat dinegosiasikan dalam kondisi apa pun.

Serangan terhadap Kapal Dagang Siprus Memicu Operasi Baru AS

Ketegangan meningkat tajam pada malam 12 Juli 2026 setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menyerang sebuah kapal kargo berbendera Siprus yang sedang berlayar di kawasan Teluk Persia.

Tidak lama setelah insiden tersebut, militer Amerika Serikat mengumumkan dimulainya gelombang ketiga operasi serangan terhadap Iran.

Washington menilai serangan terhadap kapal dagang internasional kembali mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

CENTCOM Klaim Amankan Jalur Perdagangan Global

Selain mengumumkan keberhasilan operasi militer, CENTCOM juga memaparkan perannya dalam menjaga keamanan jalur perdagangan internasional.

Menurut data yang disampaikan, sejak awal Mei 2026, militer Amerika Serikat telah membantu mengawal lebih dari:

agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman tanpa gangguan.

Hingga pertengahan Juli 2026, jalur pelayaran internasional tersebut dilaporkan masih tetap beroperasi dan terus digunakan oleh kapal-kapal dagang dari berbagai negara.

Lima Wilayah Strategis Iran Menjadi Sasaran Utama

Laporan berbagai media Iran menyebutkan bahwa gelombang ketiga serangan Amerika Serikat kali ini terutama difokuskan pada lima kawasan strategis di Iran bagian selatan.

1. Bushehr

Bushehr merupakan lokasi berdirinya satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang masih beroperasi. Wilayah ini selama bertahun-tahun menjadi salah satu aset energi paling vital bagi negara tersebut.

2. Asalouyeh

Asalouyeh dikenal sebagai pusat industri gas alam terbesar Iran.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa salah satu fasilitas pemrosesan gas di kawasan ini mengalami kebakaran setelah terkena serangan.

3. Bandar Abbas

Bandar Abbas merupakan pelabuhan militer dan komersial terbesar Iran sekaligus pintu utama menuju Selat Hormuz.

Wilayah ini juga menjadi pusat logistik utama Angkatan Laut Iran.

4. Sirik

Sirik merupakan kawasan garis depan yang menjadi lokasi penempatan berbagai sistem rudal pertahanan pantai Iran.

Posisi geografisnya menjadikan wilayah ini sangat penting dalam pengawasan lalu lintas kapal di Teluk Persia.

5. Pulau Qeshm

Pulau Qeshm merupakan salah satu basis pertahanan laut terbesar Iran.

Selain memiliki nilai strategis bagi operasi Angkatan Laut, pulau ini juga menjadi lokasi berbagai infrastruktur energi nasional.

Kelima wilayah tersebut selama ini menjadi pusat konsentrasi:

Iran Lancarkan Serangan Balasan Terbesar dalam Beberapa Bulan

Di saat yang hampir bersamaan, Iran meluncurkan operasi balasan berskala besar.

Menurut sejumlah laporan awal, beberapa gelombang rudal balistik dan drone ditembakkan menuju berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, meliputi:

Laporan awal dari negara-negara tersebut menyebutkan bahwa sebagian besar rudal dan drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara sehingga dampak kerusakan di lapangan relatif terbatas.

Meski demikian, serangan tersebut menunjukkan meningkatnya jangkauan operasi militer Iran.

Pelabuhan Duqm di Oman Ikut Menjadi Sasaran

Salah satu perkembangan yang paling menarik perhatian adalah klaim Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menyatakan bahwa serangan kali ini juga menjangkau Pelabuhan Duqm di Oman.

Pelabuhan Duqm diketahui merupakan salah satu pusat logistik penting yang selama ini digunakan Angkatan Laut Amerika Serikat dalam mendukung operasi militernya di kawasan Timur Tengah.

Perkembangan ini dinilai cukup ironis.

Sebelumnya Iran sempat berupaya menjalin kerja sama dengan Oman dalam pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, bahkan sempat muncul rencana untuk menerapkan mekanisme biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas.

Namun dalam waktu singkat, hubungan kedua pihak tampaknya berubah menjadi jauh lebih tegang seiring meluasnya konflik regional.

Serangan Diduga Mulai Menjangkau Pedalaman Iran

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan bahwa Amerika Serikat juga melancarkan serangan terhadap sebuah menara komunikasi di Kerman, Iran bagian tengah-selatan.

Sedikitnya dua orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Apabila laporan tersebut benar, maka perkembangan ini memiliki arti strategis yang penting.

Dalam tiga gelombang serangan sebelumnya, hampir seluruh operasi militer Amerika Serikat berfokus pada kawasan pesisir selatan Iran, terutama wilayah yang berkaitan dengan Selat Hormuz.

Serangan terhadap Kerman menunjukkan kemungkinan bahwa cakupan operasi Amerika Serikat mulai meluas hingga ke wilayah pedalaman Iran, menandai perubahan pola operasi dibandingkan fase-fase sebelumnya.

Situasi Masih Sangat Dinamis

Hingga 13 Juli 2026, belum terlihat adanya tanda-tanda penurunan eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Washington terus memperluas tekanan militernya terhadap berbagai fasilitas strategis Iran, sementara Teheran menunjukkan kemampuan untuk melakukan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di berbagai negara kawasan Teluk.

Dengan kedua belah pihak sama-sama mempertahankan sikap keras dan belum menunjukkan kemajuan berarti dalam jalur diplomasi, perkembangan konflik dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama masyarakat internasional karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, jalur perdagangan global, serta pasar energi dunia. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar pemain terkuat di Piala Dunia 2026
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Eko Sapto Purnomo Ditunjuk Jabat Plt Bupati Sukoharjo, Gantikan Etik Suryani Tersangka KPK
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Perjuangan Bidan Vina Lawan Stigma, Ubah Rumah di Gang Sempit Tambora untuk Anak-anak HIV
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Eks Penyidik KPK Yakin Polisi dan Kejaksaan Sepakat Lanjutkan Kasus Febrie Adriansyah
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Kasus Febrie di Tangan Kejagung, KPK Supervisi
• 12 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.