JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menanggapi isu cawe-cawe presiden di Muktamar organisasi yang dipimpinnya tersebut.
Eks Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu memastikan tidak ada campur tangan presiden dalam acara tersebut.
Ia juga menegaskan, NU memiliki tradisi dan mekanisme organisasi yang matang dalam menentukan kepemimpinan.
Menurutnya, NU telah berdiri lebih dulu dibandingkan negara Indonesia sehingga mampu menyelesaikan dinamika organisasi secara mandiri dan dewasa.
"Saya tidak melihat kepentingan presiden atau Istana untuk cawe-cawe terkait NU, buat apa? Tidak ada gunanya bagi presiden," katanya di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Ia juga menegaskan, siapa pun yang mengklaim mendapat restu presiden untuk menjadi Ketua Umum NU dapat dipastikan tidak benar.
Baca Juga: Usai Islah dengan Miftachul Akhyar, Gus Yahya Pastikan Tidak Ada Perubahan di Kepengurusan PBNU
Menurut informasi dari laman NU Cilacap Online, Muktamar NU ke-35 akan digelar di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026.
Keputusan itu diambil dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026) lalu.
Adapun Muktamar NU adalah permusyawaratan tertinggi Organisasi NU yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali dengan 7 agenda yang sudah ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) NU.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV, NU Cilacap Online
- pbnu
- nu
- muktamar nu
- nahdlatul ulama
- gus yahya
- yahya cholil staquf





