Purbaya Yakin Penilaian S&P jadi Sentimen Positif untuk Rupiah hingga IHSG

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai  penilaian terbaru dari S&P Global Ratings akan menjadi sentimen positif kepada investor di pasar keuangan. Sentimen ini diharapkan membalikkan persepsi negatif di pasar obligasi hingga saham yang memicu pelemahan rupiah hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Untuk diketahui, penilaian S&P terbaru memertahankan peringkat kredit (sovereign credit) Indonesia pada kategori BBB atau layak investasi (investment grade). Prospek kredit Indonesia juga dipertahankan di level Stabil, kendati Moody's dan Fitch menurunkan prospek ke Negatif. 

Menurut Purbaya, penilaian S&P yang lebih baik ini merupakan konfirmasi bahwa kebijakan ekonomi pemerintah berada di jalan yang benar dan dilakukan dengan baik serta hati-hati. Dengan ini, sentimen negatif investor di pasar obligasi hingga saham bisa segera hilang. 

"Seharusnya ke depan sentimen negatif di pasar modal, di pasar obligasi, maupun nilai tukar rupiah akan hilang dengan cepat," terangnya usai rapat dengan Badan Anggaran DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Purbaya mengeklaim bahwa S&P memiliki standar penilaian paling tinggi. Dia juga memastikan bahwa sudah memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan lembaga pemeringkat terkait dengan data-data ekonomi. 

"S&P kan yang paling keras dan standarnya paling tinggi, jadi dia enggak akan main-main, enggak akan terpengaruh politik. Jadi lihat apa adanya," tuturnya. 

Baca Juga

  • Purbaya Lapor ke DPR, Pembiayaan APBN 2025 Tembus Rp742,7 Triliun atau 120% dari Target
  • Purbaya Sebut Rasio Utang APBN Masih Aman, Begini Penilaian Teranyar S&P
  • Beredar Video Menkeu Purbaya Ajak Warga Daftar Bantuan, Kemenkeu: Hoaks!

Di sisi lain, pemerintah hingga DPR telah melakukan roadshow untuk menjalin komunikasi dengan investor asing. Hal ini dilakukan untuk mengkomunikasikan kebijakan fiskal maupun ekonomi pemerintah ketika muncul berbagai sentimen negatif di pasar keuangan. 

Di sisi lain, lanjut Purbaya, S&P mendasarkan penilaiannya terhadap kebijakan fiskal pemerintah sampai dengan kuartal II/2026. Sampai dengan akhir Juni 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB. 

Sementara itu, penilaian Moody's dan Fitch saat itu didasarkan pada posisi defisit APBN akhir 2025 2,93% terhadap PDB (sebelum LKPP) dan kuartal I/2026 sebesar 0,93% terhadap PDB. 

Tidak hanya penilaian negatif dari Moody's dan Fitch, gejolak di pasar keuangan Indonesia turut diperburuk dengan penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penilaian MSCI turut memicu aksi jual besar-besaran investor pada pasar saham Indonesia.

"Saya udah bilang berkali-kali, lembaga-lembaga yang sebelumnya ada kemungkinan mereka offside, karena mereka melakukan assessment sebelum data triwulan pertama keluar. Saya bilang bukan mereka salah, tetapi terlalu cepat. Jadi ini yang lebih fair saya pikir," terangnya. 

Oleh sebab itu, mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini mendorong agar investor segera kembali membeli aset rupiah maupun saham dalam negeri. Sebab, dia optimistis penilaian S&P ini akan diikutii oleh sentimen positif dari berbagai lembaga internasional lainnya. 

"Jadi ke depan kalau itu siap-siap beli saham, kalau punya dolar, jual dolarnya," paparnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Janji Siapkan Tempat Kumpul Lansia
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
DPR Buka Peluang Bentuk Lembaga Pengelola Aset Melalui RUU Perampasan Aset
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pemprov Jabar Dorong Reformasi BUMD dan Penataan Gedung Sate
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Wamendagri Wiyagus: Poral TNI AL Cerminkan Komitmen Membangun SDM Unggul
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Historia Bisnis Es Teler 77, Bertahan Selama 44 Tahun di Tengah Gempuran Kuliner Kekinian
• 17 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.