JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena doom spending semakin banyak dibicarakan di kalangan generasi muda.
Istilah ini merujuk pada kebiasaan berbelanja sebagai pelarian dari rasa cemas, pesimis, atau putus asa terhadap masa depan finansial.
Berbeda dengan belanja untuk memenuhi kebutuhan, doom spending lebih didorong oleh dorongan emosional, ketika seseorang merasa tujuan keuangan seperti memiliki rumah atau mencapai kondisi finansial yang stabil semakin sulit diraih.
Di tengah meningkatnya biaya hidup dan tekanan ekonomi, nasihat klasik seperti "cukup menabung" pun dinilai tidak selalu menjawab persoalan yang dihadapi anak muda.
Perencana keuangan Rista Zwestika mengatakan, persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar kemampuan mengendalikan pengeluaran.
Menurut Rista, doom spending bukan sekadar kebiasaan boros, melainkan respons emosional terhadap kondisi ekonomi yang membuat banyak pekerja muda merasa masa depan semakin sulit diprediksi.
Baca juga: Fenomena Doom Spending di Kalangan Anak Muda, Kala Belanja Jadi Obat Stres
"Akibatnya muncul pola pikir, 'Kalau tujuan finansial terasa semakin jauh, kenapa tidak menikmati uang yang ada sekarang?'" ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (14/7/2026).
Meski dapat memahami alasan di balik munculnya perilaku tersebut, Rista mengingatkan bahwa kepuasan yang diperoleh dari berbelanja umumnya hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Sebaliknya, dampaknya terhadap kondisi keuangan dapat dirasakan dalam jangka panjang apabila kebiasaan itu terus dilakukan.
Menurut dia, seseorang yang terus-menerus menjadikan belanja sebagai pelarian emosional berisiko kehilangan kesempatan membangun fondasi keuangan, mulai dari dana darurat, investasi, hingga kebebasan finansial pada masa mendatang.
"Karena itu, saya melihat doom spending bukan hanya masalah uang, tetapi juga masalah cara kita mengelola emosi terhadap kondisi ekonomi," ujar dia.
Rista juga menyoroti nasihat yang selama ini kerap diberikan kepada generasi muda, yakni agar lebih banyak menabung.
Menurut dia, anjuran tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi sering kali terasa tidak relevan karena tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi yang dihadapi sebagian besar pekerja muda.
Ia mengatakan, banyak anak muda sebenarnya memiliki keinginan untuk menabung.
Namun, ruang untuk menyisihkan pendapatan menjadi semakin sempit karena sebagian besar penghasilan sudah habis digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar.
"Ketika pendapatan habis untuk kebutuhan pokok, transportasi, tempat tinggal, hingga cicilan pendidikan, nasihat 'hemat saja' terdengar terlalu sederhana untuk persoalan yang kompleks," kata Rista.
Selain tekanan biaya hidup, menurut dia, generasi muda juga menghadapi tantangan sosial yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Kehadiran media sosial membuat standar gaya hidup yang ditampilkan orang lain tampak semakin tinggi sehingga memicu kecenderungan untuk terus membandingkan diri.
"Mereka bukan hanya membandingkan pendapatan, tetapi juga membandingkan liburan, gadget, kendaraan, bahkan pencapaian hidup," ujar Rista.
Baca juga: Di Balik Doom Spending Gen Z: Mau Nabung Juga Buat Apa, Harga Rumah Tak Terjangkau
Karena itu, Rista menilai solusi keuangan tidak cukup hanya berupa ajakan mengurangi pengeluaran.
"Jadi, solusi finansial tidak cukup hanya mengatakan 'kurangi jajan'. Yang lebih penting adalah membantu mereka menyusun prioritas, meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan, dan mengelola pengeluaran secara realistis," katanya.
Meski demikian, Rista menegaskan masih ada langkah-langkah sederhana yang tetap realistis dilakukan, bahkan ketika pendapatan masih terbatas.
Menurut dia, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak lebih besar dibanding menunggu kondisi keuangan benar-benar ideal.
Ia menyarankan tiga langkah sederhana.
Pertama, membayar diri sendiri di awal ketika menerima gaji.
Menurut dia, nominalnya tidak harus besar karena yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang.
"Saya biasanya menyarankan tiga langkah sederhana. Pertama, bayar diri sendiri di awal. Tidak harus 20 persen. Kalau baru mampu Rp20.000 atau Rp50.000 setiap menerima gaji, itu sudah membangun kebiasaan yang baik," ujar Rista.
Langkah kedua adalah membedakan kebutuhan dengan keinginan yang bersifat mendesak.
Ia menyarankan setiap orang memberikan jeda minimal 24 jam sebelum memutuskan membeli sesuatu karena banyak pembelian impulsif justru batal dilakukan setelah seseorang memiliki waktu berpikir.
"Banyak pembelian impulsif hilang keinginannya setelah kita memberi waktu berpikir," kata Rista.
Sementara itu, langkah ketiga ialah berfokus meningkatkan kapasitas diri agar memiliki peluang memperoleh penghasilan yang lebih tinggi pada masa depan.
Menurut dia, menaikkan pendapatan sering kali memberikan dampak yang lebih besar dibanding terus-menerus memangkas pengeluaran kecil.
Baca juga: Cerita Anak Muda Terjebak Doom Spending: Belanja Jadi Pelarian, Senang Sesaat Lalu Menyesal
"Yang terpenting bukan besar kecilnya nominal, tetapi konsistensinya," ujarnya.
Di sisi lain, Rista tidak menyarankan seseorang menghilangkan kebiasaan memberikan penghargaan kepada diri sendiri atau self-reward.
Menurut dia, melarang seluruh bentuk kesenangan justru dapat memicu seseorang melakukan belanja dalam jumlah yang lebih besar pada kemudian hari.





