Wall Street Ditutup Menguat Usai Bank-bank Besar AS Bukukan Laba Solid

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada Selasa (14/7) usai laporan keuangan yang solid dari bank-bank besar Amerika Serikat (AS) serta data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan selera investor terhadap aset berisiko, meski ketegangan di Timur Tengah terus meningkat.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 10,02 poin atau 0,02 persen menjadi 52.508,66. Sementara itu, S&P 500 menguat 28,55 poin atau 0,38 persen ke level 7.543,89 dan Nasdaq Composite melonjak 233,83 poin atau 0,90 persen menjadi 26.107,01.

Pemulihan saham-saham sektor semikonduktor mendorong penguatan Nasdaq, sedangkan kenaikan Dow Jones relatif lebih terbatas.

Data Consumer Price Index (CPI) yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi pada Juni melambat lebih besar dari perkiraan analis. Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh meredanya tekanan harga energi seiring munculnya tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan perdamaian antara AS dan Iran pada bulan lalu.

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve (The Fed) AS Kevin Warsh menjalani kesaksian pertamanya di hadapan Kongres sejak dikukuhkan sebagai pimpinan bank sentral. Dalam kesempatan itu, Warsh memaparkan rencana The Fed untuk mengendalikan tekanan inflasi.

Kesaksian tersebut berlangsung ketika perebutan kendali atas Selat Hormuz memicu meningkatnya serangan udara antara AS dan Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah serta kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Meski demikian, setelah rilis data CPI, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 83,4 persen bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan Juli. Angka tersebut meningkat dibandingkan 58,3 persen pada Senin (13/7).

Namun, berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pasar masih memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.

“Laporan inflasi tampaknya telah melemahkan argumen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga. Untuk saat ini, laporan tersebut memberi ruang bagi The Fed,” ujar Chief Executive Horizon Investment Services, Chuck Carlson.

Carlson menambahkan Warsh ingin menunjukkan kepada publik bahwa inflasi dapat ditekan tanpa harus menaikkan suku bunga.

“(Warsh) mengatakan kita bisa menurunkan inflasi, dan itulah yang ingin didengar oleh pihak-pihak yang ia hadapi. Mungkin inflasi memang bisa turun tanpa perlu menaikkan suku bunga,” kata Carlson.

Adapun musim laporan keuangan kuartal II resmi dimulai dengan lima bank terbesar di AS membukukan hasil yang solid, didukung oleh kuatnya aktivitas perdagangan dan meningkatnya transaksi korporasi.

Saham Goldman Sachs melonjak 9 persen setelah laba kuartal II melampaui ekspektasi pasar, didorong meningkatnya aktivitas merger dan akuisisi serta ketidakpastian geopolitik yang menguntungkan bisnis perdagangan perusahaan.

Sementara itu, saham JPMorgan Chase dan Bank of America masing-masing naik 2,5 persen dan 1,9 persen setelah membukukan laba yang melampaui konsensus analis.

Sebaliknya, saham Citigroup turun 5,3 persen karena kekhawatiran terhadap peningkatan beban biaya menutupi capaian laba yang lebih baik dari perkiraan. Saham Wells Fargo juga melemah 2,7 persen.

“Ini merupakan pekan penting bagi musim laporan keuangan, sehingga akhirnya kita bisa mendengar langsung kondisi dunia usaha Amerika,” ujar National Investment Strategist di U.S. Bank Asset Management, Tom Hainlin.

“Yang terus kami perhatikan dari bank-bank adalah bagaimana kondisi kesehatan konsumen. Sejauh ini, kabar yang muncul cukup positif,” lanjutnya.

Di sisi lain, saham IBM anjlok 25,2 persen setelah perusahaan memperingatkan bahwa pendapatan kuartal II diperkirakan akan berada di bawah ekspektasi pasar.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, saham-saham teknologi mencatat kenaikan terbesar, sedangkan sektor kesehatan menjadi yang berkinerja paling lemah.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik melampaui saham yang turun dengan rasio 1,78 banding 1. Tercatat 205 saham mencetak level tertinggi baru, sementara 108 saham menyentuh level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 2.651 saham menguat dan 2.103 saham melemah, sehingga rasio saham yang naik terhadap yang turun mencapai 1,26 banding 1.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 16,38 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 21,66 miliar saham per sesi selama 20 hari perdagangan terakhir.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fans Argentina Bakar Bendera Inggris Jelang Semifinal Piala Dunia 2026, Rivalitas Lama Memanas
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
KPK Panggil ASN BPK Jadi Saksi Seusai Geledah Rumah Bobby Rizaldi
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Terungkap Pembicaraan Prabowo-Jaksa Agung: Ekonomi Butuh Stabilitas, Minta Kegaduhan Reda
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Kemenpora dan GP Parmusi Bersinergi Bangun Karakter Pemuda Berbasis Aksi
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Alibi Negara di Balik UU Konsumen yang Basi
• 17 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.