Bisnis.com, JAKARTA — S&P Global Ratings memperkirakan nilai tukar rupiah akan melemah hingga mencapai Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026.
Proyeksi tersebut didorong meningkatnya tekanan eksternal akibat lonjakan harga energi, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga ketidakpastian implementasi sejumlah kebijakan domestik.
Dalam laporan S&P soal penegasan peringkat kredit Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook stabil, Lembaga tersebut memproyeksikan kurs rupiah berada di level Rp17.700 per dolar AS pada akhir 2026.
Level tersebut lebih lemah dibandingkan Rp16.782 per dolar AS pada akhir 2025. Adapun pada 2027 hingga 2029, nilai tukar rupiah diperkirakan membaik ke kisaran Rp17.500 per dolar AS.
S&P menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi sentimen global, tetapi juga memburuknya kondisi eksternal Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak.
Lembaga pemeringkat itu menyebut neraca perdagangan Indonesia terus mengalami pelemahan sejak Maret 2026 seiring kenaikan harga bahan bakar dan pakan ternak yang menekan berbagai sektor perekonomian.
Baca Juga
- Menanti Tenaga S&P Kembalikan Gairah Pasar Modal RI
- Purbaya Yakin Penilaian S&P jadi Sentimen Positif untuk Rupiah hingga IHSG
- Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.091 per Dolar AS, Rating S&P jadi Katalis
Akibatnya, defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar menjadi 2,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini.
Selain tekanan eksternal, S&P turut menyoroti cepatnya perubahan kebijakan pemerintah di sektor sumber daya alam. Berbagai kebijakan seperti hilirisasi, perubahan skema royalti, pengetatan tata kelola ekspor, hingga pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan ekspor dalam jangka panjang.
Meski demikian, lembaga tersebut mengingatkan bahwa implementasi berbagai kebijakan itu masih menyisakan ketidakpastian.
"Namun, cepatnya perubahan kebijakan dan ketidakpastian dalam implementasinya dapat memengaruhi kepercayaan investor serta menekan nilai tukar rupiah dan pasar keuangan," tulis S&P.
S&P mencatat tekanan tersebut sudah tercermin pada pasar keuangan Indonesia sepanjang semester I/2026.
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,6% secara tahunan pada kuartal pertama 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat kehilangan lebih dari 30% nilai kapitalisasi pasarnya. Pada periode yang sama, rupiah juga tercatat melemah sekitar 7% terhadap dolar AS.
Menurut S&P, perbedaan kinerja sektor riil dan pasar keuangan mencerminkan masih tingginya ketidakpastian global maupun domestik. Setelah tekanan akibat tarif Amerika Serikat mulai mereda, konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz justru memunculkan risiko baru yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Di tengah tantangan tersebut, S&P tetap mempertahankan outlook stabil bagi Indonesia. Lembaga itu memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026 dan rata-rata 4,9% hingga 2029.
Outlook stabil juga ditopang ekspektasi bahwa pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit APBN di bawah 3% dari PDB.
S&P memperkirakan pemulihan penerimaan pajak dan peningkatan penerimaan negara dari sektor komoditas akan memberikan ruang fiskal untuk menopang belanja pemerintah meski subsidi energi meningkat.
Di sisi moneter, S&P menilai Bank Indonesia akan terus mengandalkan kombinasi instrumen suku bunga, intervensi di pasar valuta asing, dan operasi pasar surat berharga untuk menjaga stabilitas rupiah.
Langkah bank sentral menaikkan suku bunga pada Juni 2026 juga dipandang sebagai respons yang diperlukan untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar.
Meski memproyeksikan rupiah masih berada dalam tren pelemahan pada tahun ini, S&P belum melihat kondisi tersebut mengubah profil kredit Indonesia.
Lembaga tersebut menilai pemulihan penerimaan negara, kenaikan ekspor komoditas, serta komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal akan tetap menjadi penopang utama peringkat utang Indonesia dalam jangka menengah.
Pergerakan Proyeksi Nilai Tukar Rupiah versi S&P (akhir tahun)- 2021: Rp14.269 per dolar AS
- 2022: Rp15.731 per dolar AS
- 2023: Rp15.416 per dolar AS
- 2024: Rp16.162 per dolar AS
- 2025: Rp16.782 per dolar AS
- 2026 (proyeksi): Rp17.700 per dolar AS
- 2027 (proyeksi): Rp17.500 per dolar AS
- 2028 (proyeksi): Rp17.500 per dolar AS
- 2029 (proyeksi): Rp17.500 per dolar AS





