Bisnis.com, JAKARTA — PT Graha Buana Cikarang, anak usaha PT Jababeka Tbk. (KIJA) memperkuat daya tarik kawasan Kota Jababeka bagi investor Jepang.
Di tengah dominasi investasi manufaktur asal China yang masih mengalir ke kawasan industri tersebut, Jababeka menyiapkan berbagai strategi untuk memperluas kerja sama dengan pelaku usaha Negeri Sakura, mulai dari proyek properti hingga penguatan ekosistem melalui penyelenggaraan Sakura Matsuri 2026.
Direktur PT Graha Buana Cikarang Ivonne Anggraini mengatakan perseroan masih membuka peluang kolaborasi baru dengan pengembang maupun investor Jepang.
Menurutnya, hubungan Jababeka dengan mitra Jepang telah terjalin melalui sejumlah proyek, termasuk pengembangan kawasan hunian bersama Mitsui.
"Kami sudah berjalan kerja sama dengan investor Jepang. Untuk perumahan kami kerja sama dengan Mitsui," ujarnya dikutip, Selasa (14/7/2026).
Dia menambahkan Jababeka juga berharap dapat memperluas jejaring dengan perusahaan Jepang melalui penyelenggaraan Sakura Matsuri 2026.
Baca Juga
- Pemerintah Siapkan Dewan Kawasan Industri, Ini Saran Jababeka (KIJA)
- Langkah Jababeka (KIJA) Kejar Target SDG's
- Saham Jababeka (KIJA) Bertahan di Indeks ISSI Meski Keluar dari IDX Sharia Growth
"Tentunya kami ingin ada kerja sama baru dengan investor Jepang. Oleh karena itu kami mengadakan Sakura Matsuri supaya lebih luas jangkauannya ke orang-orang Jepang, CEO-CEO perusahaan, jadi lebih mengenal Jababeka," imbuhnya.
Meski demikian, Ivonne mengakui hingga saat ini investor asing yang paling aktif masuk ke kawasan industri Jababeka masih berasal dari China.
"Sementara ini China, masih tetap mendominasi," ujarnya.
Untuk memperkuat daya tarik kawasan, Jababeka tak hanya mengandalkan pengembangan kawasan industri baru, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung kehidupan komunitas internasional.
Sebagai bagian dari strategi memperkuat hubungan Indonesia-Jepang, Jababeka bersama KAJI kembali menggelar Sakura Matsuri 2026 pada 25–26 Juli 2026 di Hollywood Junction, Kota Jababeka.
Penyelenggaraan festival dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap iklim investasi. Dengan semakin dikenalnya Kota Jababeka sebagai kawasan yang ramah bagi komunitas internasional, khususnya Jepang, diharapkan citra kawasan tersebut turut meningkat di mata pelaku usaha dan investor.
Festival budaya tahunan tersebut bukan sekadar ajang hiburan, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem kota industri yang ramah bagi komunitas internasional, khususnya Jepang.
Ivonne mengatakan Kota Jababeka saat ini menjadi rumah bagi lebih dari 2.000 perusahaan nasional dan multinasional dengan komunitas Jepang sebagai salah satu yang terbesar.
Kehadiran komunitas Jepang tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan industri, tetapi juga memperkaya kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Ia menilai Sakura Matsuri menjadi representasi komitmen Jababeka dalam membangun kawasan yang tidak hanya berorientasi pada industri, tetapi juga pendidikan, pariwisata, kebudayaan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Festival tersebut akan menghadirkan berbagai pertunjukan budaya Jepang, kompetisi cosplay, bazar kuliner Indonesia-Jepang, Miss Sakura, workshop, talkshow pendidikan dan karier, hingga kesempatan memperoleh beasiswa belajar bahasa Jepang.
Rangkaian acara juga dimeriahkan oleh penampilan JKT48 bersama sejumlah musisi dari Jepang seperti RyuBand, Koki Ota, Shun, Hiro Umeda, serta berbagai komunitas budaya Jepang.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





