JAKARTA, KOMPAS.com – Warga di sekitar tanggul Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, memprotes aktivitas pengurukan dan pembuangan puing di kawasan tersebut. Mereka khawatir kegiatan itu berpotensi mencemari lingkungan sekaligus memicu kembali insiden tanggul jebol seperti yang terjadi pada 2007.
Arie (bukan nama sebenarnya), salah satu warga, mengatakan trauma akibat peristiwa banjir 2007 masih membekas. Saat itu, rumahnya yang berjarak sekitar 10 meter dari tanggul ikut terdampak.
"Ya itu, satu, pencemaran lingkungannya. Yang kedua, ya itu apa kayak wabah penyakitnya, sama tanggul jebol itu. Karena kita di sini warga itu pernah kejadian (tanggul jebol) 2007 itu, mungkin rasa traumanya masih ada," ungkap dia kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2026).
Baca juga: Dulu Ramai Pemancing dan Bocah Berenang, Kini Pesisir Muara Baru Penuh Puing dan Sampah
Menurut Arie, jika aktivitas pengurukan tersebut legal, seharusnya disertai langkah mitigasi untuk memperkuat tanggul.
"Harusnya sebelum melakukan pengurukan itu harusnya ada mitigasi untuk pemasangan tiang pancangnya terlebih dahulu kan," ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Fatan (bukan nama sebenarnya). Ia menilai pengurukan yang dilakukan tanpa perhitungan konstruksi berisiko membahayakan tanggul.
"Soalnya kan itu enggak ada hitung-hitungan dari buat pengurukannya itu kan. Secara konstruksi enggak ada lah hitung-hitungan harus diapain dulu, pakai bambu ditancapin dan lain-lain kan," jelas dia.
Ia bahkan memperingatkan dampak yang bisa terjadi jika tanggul kembali jebol akan jauh lebih parah dibandingkan kejadian 2007, mengingat kondisi permukaan laut saat ini.
Baca juga: Puing Terus Dibuang ke Tanggul Muara Baru Jakut, Warga Khawatir Pencemaran hingga Tanggul Jebol
"Apalagi kan tinggi laut udah di atas kan. Udah pasti kalau emang efek sampai tanggul jebol, udah lebih parah dari yang waktu itu pernah 2007 ya," tutur dia.
Meski demikian, Fatan menegaskan warga tidak menolak pengurukan selama dilakukan sesuai aturan dan tidak membahayakan lingkungan maupun tanggul.
"Balik lagi, kalau memang itu entah nanti mau diuruk buat tanggul raksasa atau apapun itu, kita pun enggak masalah. Selama memang itu sesuai dengan aturannya dan intinya enggak membahayakan tanggul warga ini juga," tambah dia.
Sebelumnya diberitakan, perairan di sekitar tanggul Muara Baru masih dipenuhi tumpukan sampah dan puing. Aktivitas pembuangan material di lokasi tersebut juga disebut masih berlangsung.
Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Selasa, area di sekitar tanggul telah berubah menjadi hamparan tanah akibat pengurukan. Debu dan pasir beterbangan setiap kali kendaraan melintas.
Di bibir area urukan, terlihat sampah seperti kantong plastik berukuran besar, potongan kayu, hingga limbah bekas proyek berserakan. Sebagian di antaranya juga mengambang di perairan sekitar tanggul.
Di lokasi yang sama, sejumlah pria tampak mengais puing-puing dari tumpukan tersebut. Tak lama kemudian, sebuah truk berwarna kuning dengan muatan tertutup terpal datang dan menumpahkan puing ke area urukan.
Hingga kini, aktivitas pembuangan material di kawasan tersebut masih terus berlangsung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




