Sektor komoditas dinilai memasuki fase yang semakin selektif. Meredanya ketidakpastian regulasi membuat sejumlah subsektor berpeluang menikmati re-rating.
IDXChannel – Sektor komoditas dinilai memasuki fase yang semakin selektif. Meredanya ketidakpastian regulasi membuat sejumlah subsektor berpeluang menikmati re-rating, tetapi tidak semuanya diperkirakan memiliki prospek yang sama.
Pandangan tersebut disampaikan analis Samuel Sekuritas Juan Harahap, Fadhlan Banny, dan Ahnaf Yassar dalam riset yang diterbitkan pada 7 Juli 2026.
Mereka merekomendasikan overweight pada sektor batu bara, perkebunan kelapa sawit hulu (upstream), dan logam, sementara sektor hilir sawit (downstream) serta nikel dipertahankan pada peringkat neutral.
Menurut Samuel Sekuritas, membaiknya prospek sektor komoditas didorong oleh mulai meredanya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan pemerintah, terutama terkait kejelasan peran Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Berdasarkan diskusi dengan DSI, lembaga tersebut dipastikan tidak akan berfungsi sebagai pedagang (merchant trader) yang menguasai ekspor komoditas seperti yang sebelumnya dikhawatirkan pasar.
Sebaliknya, DSI akan berperan sebagai platform pengawasan berbasis data yang memanfaatkan aplikasi SIMBARA untuk memantau aktivitas ekspor, mendeteksi anomali, dan meningkatkan transparansi.
Skema tersebut dinilai tidak mengubah kontrak dagang maupun hubungan komersial yang telah berjalan, sementara mekanisme harga tetap mengacu pada harga acuan dengan batas toleransi tertentu.
Selain itu, pemerintah juga disebut tengah mempertimbangkan revisi mekanisme harga Domestic Market Obligation (DMO) batu bara untuk PLN serta penyesuaian kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Samuel Sekuritas menilai perubahan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten batu bara.
Saat ini, produsen batu bara masih diwajibkan memasok sebagian produksinya ke PLN dengan harga tetap USD70 per ton melalui skema DMO.
Sementara itu, penyesuaian kuota RKAB diperkirakan memberikan dampak beragam bagi perusahaan mineral.
Emiten yang masih kekurangan pasokan bijih untuk memenuhi kebutuhan smelternya dinilai akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Di sisi lain, pembatalan rencana kenaikan royalti serta skema gross split juga dinilai mengurangi risiko tekanan terhadap profitabilitas perusahaan tambang.
Dari sisi rekomendasi saham, Samuel Sekuritas menjagokan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Timah Tbk (TINS).
BUMI menjadi pilihan utama di sektor batu bara karena memiliki porsi penjualan domestik yang besar serta hubungan yang kuat dengan PLN.
Sementara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) diperkirakan menjadi emiten yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan DMO karena tingginya porsi penjualan ke pasar domestik.
Di sektor logam, Samuel Sekuritas tetap optimistis terhadap ANTM, AMMN, dan TINS seiring meredanya risiko kebijakan serta prospek pertumbuhan laba yang ditopang oleh kuatnya harga emas dan timah.
Sementara itu, pada sektor perkebunan, Samuel Sekuritas lebih memilih emiten sawit hulu karena dapat menikmati kenaikan harga CPO secara langsung.
Sebaliknya, perusahaan sawit hilir dinilai lebih rentan mengalami tekanan margin akibat kenaikan harga bahan baku.
Pandangan netral terhadap sektor nikel didasarkan pada pertumbuhan pasokan Indonesia yang masih lebih cepat dibandingkan peningkatan permintaan dari industri baja nirkarat maupun baterai kendaraan listrik (EV). (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





