Timur Tengah di Ambang Ledakan Besar! AS Gempur Markas Rahasia Iran, Trump Umumkan Blokade Selat Hormuz

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dilaporkan melancarkan salah satu operasi militer terbesar terhadap Iran dalam beberapa waktu terakhir. Serangkaian serangan udara dan rudal yang dilakukan terhadap berbagai fasilitas militer strategis Iran diklaim menghantam pangkalan rudal bawah tanah, markas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), hingga infrastruktur energi penting.

Di saat yang sama, konflik juga meluas ke kawasan Yaman setelah kelompok Houthi dan Arab Saudi kembali terlibat dalam saling serang. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa ketegangan di kawasan dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.

Operasi Militer Besar Amerika Serikat Menargetkan Infrastruktur Militer Iran

Menurut berbagai laporan, pada 12 Juli, militer Amerika Serikat melaksanakan operasi gabungan berskala besar yang melibatkan Angkatan Udara dan Angkatan Laut.

Operasi tersebut difokuskan pada penghancuran berbagai fasilitas militer penting milik Iran, terutama yang berada di wilayah selatan negara itu.

Sasaran utama disebut mencakup:

Serangan dilakukan menggunakan kombinasi pesawat tempur, rudal presisi, dan bom penghancur bunker (bunker buster) yang dirancang untuk menembus lapisan beton tebal sebelum meledak di bawah permukaan tanah.

Pangkalan Rudal Bawah Tanah Dezful Menjadi Target Utama

Salah satu sasaran paling penting dalam operasi tersebut adalah fasilitas penyimpanan rudal bawah tanah yang berada di Pangkalan Tempur Taktis Keempat di kawasan Dezful, Iran bagian barat.

Bom penghancur bunker dilaporkan berhasil menembus kompleks bawah tanah sebelum memicu ledakan besar.

Tak lama kemudian terjadi ledakan sekunder yang jauh lebih dahsyat.

Bola api raksasa terlihat membubung tinggi ke udara sementara kawasan sekitar berubah menjadi lautan api.

Menurut analisis sejumlah pengamat militer, ledakan kedua kemungkinan berasal dari ikut meledaknya berbagai persenjataan yang tersimpan di dalam fasilitas tersebut, antara lain:

Serangan terhadap fasilitas ini disebut sebagai salah satu pukulan paling berat yang pernah diterima IRGC terhadap jaringan penyimpanan rudalnya.

“Kota Rudal” Borazjan Ikut Digempur

Selain Dezful, kawasan Borazjan di Provinsi Bushehr juga dilaporkan menjadi sasaran pemboman.

Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kompleks rudal bawah tanah milik Garda Revolusi Iran atau yang sering dijuluki sebagai “kota rudal”.

Amerika Serikat kembali menggunakan bom penghancur bunker untuk menghancurkan berbagai fasilitas bawah tanah yang berada di lokasi tersebut.

Dalam operasi yang sama, sejumlah fasilitas rudal yang disebut selama ini mengancam keamanan kawasan Teluk juga diklaim berhasil dihancurkan, termasuk sistem yang diarahkan ke wilayah:

Selain itu, gudang amunisi milik Brigade Lapis Baja Independen ke-292 Angkatan Darat Iran juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Markas Rahasia Garda Revolusi Diklaim Berhasil Dihancurkan

Laporan lain menyebutkan bahwa Amerika Serikat memperoleh informasi intelijen yang sangat rinci mengenai keberadaan sebuah markas rahasia Garda Revolusi Iran yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan.

Melalui serangan presisi, markas tersebut diklaim berhasil dihancurkan.

Selain itu, dua markas penting Garda Revolusi juga dilaporkan menjadi sasaran, yaitu:

Dalam operasi tersebut, sedikitnya 20 rudal dilaporkan ditembakkan ke berbagai sasaran di sepanjang pesisir selatan Iran.

Kota-kota yang disebut terdampak antara lain:

Infrastruktur Minyak Iran Turut Menjadi Sasaran

Selain fasilitas militer, operasi tersebut juga dilaporkan menyasar sejumlah infrastruktur energi Iran.

Sebuah kapal tanpa awak permukaan (USV) milik Amerika Serikat dikabarkan menghancurkan salah satu pelabuhan militer Iran.

Di Mahshahr, sebuah stasiun pompa air juga disebut mengalami kerusakan berat.

Sementara itu di Pulau Kharg, fasilitas ekspor minyak seperti:

Menurut laporan tersebut, ini merupakan pertama kalinya Amerika Serikat secara langsung menyerang salah satu pusat utama ekspor minyak mentah Iran.

Citra satelit yang disebut berasal dari NASA juga diklaim memperlihatkan kobaran api besar di lokasi serangan.

Laporan Korban Jiwa di Pihak Iran

Media Iran melaporkan bahwa seorang perwira pertahanan udara Angkatan Laut Iran bernama Dehghan tewas dalam serangan tersebut.

Selain itu, Jenderal Ajili, Komandan Pasukan Komunikasi Operasi Khusus Garda Revolusi, juga disebut meninggal akibat serangan rudal sehari sebelumnya.

Laporan yang sama turut mengklaim bahwa Ayatollah Alafi, seorang tokoh agama berpengaruh di Iran, juga menjadi korban. Namun, informasi mengenai korban-korban tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Trump: Amerika Akan Menjamin Keamanan Selat Hormuz

Pada 13 Juli, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer yang dilakukan telah memberikan pukulan besar terhadap kemampuan militer Iran.

Menurut isi pernyataan yang dikutip dalam naskah, Trump juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan mengambil tanggung jawab keamanan kawasan Timur Tengah secara lebih permanen.

Ia menegaskan bahwa:

Blokade tersebut disebut dijadwalkan mulai berlaku pada 14 Juli pukul 16.00.

Trump juga menyatakan bahwa pemerintahannya telah secara resmi memberi tahu Kongres mengenai dimulainya kembali operasi perang terhadap Iran.

Iran Mengeluarkan Peringatan bagi Seluruh Kapal

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan kepada seluruh kapal yang beroperasi di sekitar:

Iran memperingatkan bahwa kapal yang tetap memasuki kawasan tersebut berisiko menjadi sasaran tindakan militer.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa konfrontasi kedua negara masih berpotensi meningkat.

CENTCOM Kembali Meluncurkan Serangan Baru

Pada hari yang sama, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan dimulainya gelombang baru serangan udara terhadap Iran selatan.

Tahap awal operasi disebut melibatkan empat rudal yang menghantam sasaran di sekitar Konarak, Provinsi Sistan dan Baluchestan, memicu ledakan besar yang terlihat dari berbagai lokasi.

Konflik Houthi dan Arab Saudi Kembali Memanas

Di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, konflik lain juga meletus di kawasan Yaman.

Sebuah pesawat milik Mahan Air yang terbang dari Teheran menuju Bandara Internasional Sana’a dilaporkan membawa delegasi Houthi beserta sejumlah pakar yang disebut berasal dari Garda Revolusi Iran.

Menanggapi informasi tersebut, pemerintah Yaman dikabarkan melakukan serangan terhadap landasan pacu Bandara Sana’a untuk mencegah pesawat tersebut mendarat.

Kelompok Houthi menuduh serangan dilakukan oleh Angkatan Udara Arab Saudi menggunakan rudal jelajah Storm Shadow.

Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan besar pada landasan pacu bandara.

Houthi Membalas dengan Enam Rudal

Tak lama setelah insiden tersebut, kelompok Houthi meluncurkan serangan balasan.

Enam rudal ditembakkan ke wilayah selatan Arab Saudi dengan sasaran:

Laporan tersebut menyebutkan bahwa ini merupakan salah satu serangan rudal terbesar Houthi terhadap Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.

Seorang pejabat senior Houthi, Mohammed Farah, juga menyerukan penutupan penuh Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Jika ancaman tersebut benar-benar direalisasikan, maka jalur perdagangan internasional berpotensi kembali terganggu.

Rusia Kirim Pesawat Komando ke Teheran

Di tengah meningkatnya eskalasi, sebuah pesawat komando pemerintah Rusia dilaporkan mendarat di Teheran.

Pesawat tersebut disebut berfungsi sebagai pusat komando bergerak yang digunakan untuk:

Kedatangannya memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan meningkatnya koordinasi antara Moskow dan Teheran di tengah situasi yang semakin memanas.

Laporan Mengenai Mahmoud Ahmadinejad Memicu Perhatian

Pada hari yang sama, media Amerika Serikat juga menerbitkan sebuah laporan investigasi yang mengklaim bahwa badan intelijen Israel, Mossad, selama bertahun-tahun menjalin hubungan rahasia dengan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Menurut laporan tersebut, berbagai pertemuan dilakukan di luar Iran dengan memanfaatkan forum akademik internasional sebagai kedok.

Laporan itu juga mengklaim Ahmadinejad dipersiapkan sebagai figur potensial untuk memimpin pemerintahan transisi apabila terjadi perubahan rezim di Iran.

Namun demikian, tuduhan tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi maupun verifikasi independen sehingga masih berupa klaim yang memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Situasi Masih Sangat Dinamis

Rangkaian perkembangan sepanjang 12–13 Juli menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah terus meningkat dengan melibatkan semakin banyak pihak. Operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, respons dari Garda Revolusi Iran, kembali memanasnya konflik Houthi dan Arab Saudi, serta munculnya berbagai manuver diplomatik dan militer dari negara-negara lain memperlihatkan bahwa situasi masih sangat dinamis.

Meski berbagai klaim mengenai serangan, korban, maupun perkembangan politik terus bermunculan, sebagian informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Oleh karena itu, perkembangan terbaru masih perlu dipantau melalui pernyataan resmi dari pihak-pihak terkait dan lembaga internasional yang berwenang. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Instagram Cuan dari Konten Biadab, Kelakuan Bos Meta Diungkap
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KPK Limpahkan Berkas Kasus Korupsi Kuota Haji 2023-2024, Gus Yaqut Segera Disidang
• 23 jam lalueranasional.com
thumb
Pantauan Harga Sembako di Semarang: Harga Timun Melonjak Dua Kali Lipat
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Sulawesi Utara, Getaran Terasa hingga Manado
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tzuyu TWICE Dikabarkan Belum Pasti Perpanjang Kontrak, JYP Sebut Masih Dalam Pembahasan
• 20 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.