Badan Pengelola (BP) BUMN dan Danantara Indonesia mendukung rencana pemerintah menjadikan Bali sebagai lokasi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria memimpin rapat bersama Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir, jajaran Managing Director, serta Board of Directors (BoD) Danantara pada Selasa (14/7).
Rapat membahas kesiapan pengembangan PFII, mulai dari strategi investasi, pembangunan ekosistem keuangan berstandar global, hingga optimalisasi peran Danantara dalam mendukung pengembangan aset, infrastruktur, dan layanan pendukung kawasan tersebut.
"PFII bukan sekadar membangun kawasan keuangan, tetapi juga membangun kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Dengan ekosistem yang kompetitif dan berstandar global, kami ingin menghadirkan lebih banyak investasi yang memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Dony, dalam keterangan resminya, Rabu (15/7).
Kawasan tersebut diharapkan mampu menarik investasi global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keuangan internasional. Dalam pengembangannya, pemerintah menjadikan Dubai International Financial Centre (DIFC) sebagai acuan.
DIFC dinilai sukses mentransformasi Dubai menjadi salah satu pusat keuangan dunia dengan berbagai insentif, mulai dari pajak korporasi hingga 0 persen selama 40 tahun, menjadi pusat aktivitas lebih dari 50.000 profesional, hingga dikenal sebagai "Wall Street of MEASA" (Middle East, Africa, and South Asia).
Pemerintah berharap penerapan praktik terbaik dari DIFC dapat memperdalam pasar keuangan domestik, memperluas akses pembiayaan, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam ekosistem keuangan global.





