Mengenal 5 Tokoh Wanita di Pagelaran Sabang Merauke "Hikayat Srikandi Nusantara"

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Lima perempuan, lima kisah, lima dimensi emosi, dalam satu panggung. Pagelaran Sabang Merauke hadir kembali dengan membawa kisah "Hikayat Srikandi Nusantara" yang mengajak kita menyelami emosi, kekuatan, keteguhan, keberanian, dan bagaimana kelima tokoh dalam cerita rakyat ini mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup.

Srikandi yang hingga saat ini digunakan untuk menggambarkan sosok "perempuan tangguh". Ceritanya menjadi contoh bagaimana keberanian perempuan—dan kemampuannya mengambil ruang-ruang yang dulu dilekatkan pada pria—sejatinya bukan hal baru dalam cerita dan budaya Nusantara.

Mahadewi yang dianggap sebagai representasi dari keagungan dan kewibawaan. Kekuatannya tak selalu muncul lewat perlawanan, tetapi juga melalui ketenangan, keyakinan, dan kemampuan mempertahankan posisi di tengah tekanan.

Dayang Sumbi dan ibu Malin Kundang membuka diskusi tentang peran perempuan yang dalam cerita rakyat biasanya hanya digambarkan lewat relasi dengan anak. Mereka bukan sekadar tokoh sampingan. Sosok ibu adalah individu dengan perasaan, pertimbangan, dan pergulatan batin dalam menentukan pilihan.

Calonarang adalah penggambaran bagaimana perempuan tak bisa dilihat dari satu label saja. Kisahnya memberikan pelajaran bagaimana masyarakat memandang berbeda kemarahan pria dan perempuan. Kemarahan laki-laki dianggap bentuk keberanian dan perlawanan; sedangkan perempuan kerap dicap berlebihan, berbahaya, dan tak terkendali.

Memang mengangkat kisah kelimanya tak berarti membenarkan setiap tindakan mereka. Namun menampilkan kisah mereka secara utuh memberikan kesempatan pada penonton untuk memahami bahwa perempuan—dalam cerita rakyat pun—punya lapisan emosi dan pertimbangan yang kompleks.

Cerita-cerita mereka pun masih relevan dengan kondisi perempuan di era modern. Mereka kerap dituntut memenuhi ekspektasi tertentu: harus kuat tapi tak boleh terlalu kuat, harus mandiri tapi harus mendahulukan orang lain, harus mampu menyampaikan pendapat tapi tak boleh dianggap terlalu emosional.

"Hikayat Srikandi Nusantara" menunjukkan bahwa tak ada satu pun tokoh yang, sikap, atau pilihan hidup yang bisa mewakili sosok perempuan sendirian. Keberagaman inilah yang membuat kelima tokoh cerita rakyat tersebut menarik untuk dipertemukan dalam satu panggung pertunjukan.

Melalui musik, tari, busana, dan visual panggung, kita tak hanya akan melihat mereka sebagai pahlawan, ibu, putri, dewi, atau tokoh antagonis saja. Pagelaran Sabang Merauke akan membawa kita menyelami karakter mereka sebagai perempuan dengan suara, pilihan, kekuatan, kerentanan, dan perjalanan masing-masing. Pada akhirnya cerita rakyat tidak selalu harus diperlakukan sebagai kisah lama yang selesai pada zamannya. Ceritanya bisa terus hidup ketika dibaca kembali, dipertanyakan, dan dihubungkan dengan masa kini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
2 Orang Pelaut India Tewas Terkena Serangan di Selat Hormuz
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Dokter PPDS Anestesi di Siak Ditemukan Tewas di Semak-semak: Ada Hp-Alat Suntik
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Tinggal Nestapa di Gang Sempit, Anak Sayuti Melik Kenang Main Gundu Bareng Megawati
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Daya Tampung Hampir 10 Juta m3, Bendungan Meninting Perkuat Ketahanan Pangan dan Air di Lombok
• 35 menit laludisway.id
thumb
Komisi VII DPR Minta Kementerian UMKM Perkuat Pembinaan agar Pelaku Usaha Lebih Mudah Akses Kredit Bank
• 23 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.