JAKARTA, KOMPAS.com - Deru mesin poles batu terdengar bersahut-sahutan terdengar dari dalam Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (14/7/2026).
Suara gesekan batu dengan mata gerinda berpadu dengan percakapan pedagang dan pembeli yang sesekali menawar harga.
Aroma khas debu batu yang baru dipoles masih memenuhi lorong-lorong pasar, menjadi penanda bahwa perdagangan batu akik di kawasan ini belum benar-benar padam.
Di luar bangunan pasar, suasananya tampak lebih lengang dibanding masa keemasan batu akik sekitar satu dekade lalu.
Baca juga: Kontes Batu Akik yang Kembalikan Kejayaan Pasar Rawa Bening
Beberapa pedagang menggelar lapak sederhana di atas trotoar menggunakan meja lipat atau kain merah sebagai alas untuk memajang dagangan mereka.
Kotak-kotak kecil berisi cincin batu akik tersusun rapi berdampingan dengan bongkahan batu alam yang belum dipoles.
Di sudut lain, benda-benda antik seperti keris, mata tombak, besi tua, hingga logam lawas ikut dipajang sebagai pelengkap dagangan.
Warna-warni batu alam menghiasi etalase kecil. Ada batu berwarna hijau tua, biru, merah kecoklatan, hitam pekat, hingga batu dengan corak menyerupai lukisan alami.
Sebagian sudah terpasang pada cincin berbahan perak maupun logam biasa, sementara sebagian lain masih berupa batu lepas yang siap dibentuk sesuai keinginan pembeli.
Sesekali, pengunjung berhenti di depan lapak. Mayoritas merupakan pria paruh baya yang tampak telaten mengamati batu satu per satu.
Mereka membolak-balik batu di telapak tangan, mengarahkan ke cahaya matahari untuk melihat kejernihan dan seratnya, lalu berdiskusi dengan pedagang mengenai asal-usul batu maupun kisaran harganya.
Di salah satu lapak, seorang pria terlihat jongkok di depan keranjang berisi batu alam mentah. Tangannya sibuk memilah bongkahan batu sambil sesekali bertanya kepada pedagang mengenai jenis dan daerah asalnya.
Tak jauh dari sana, pengunjung lain menunjuk sebuah cincin batu akik yang tersusun rapi dalam kotak etalase sebelum akhirnya menawar harga.
Meski lalu lintas pengunjung tidak seramai beberapa tahun silam, aktivitas jual beli masih berlangsung. Pedagang tetap melayani pembeli, sementara suara mesin poles dari dalam pasar terus bekerja hampir tanpa jeda.
Baca juga: Sedih Sekali Pendidikan Ditentukan Cuaca Cerita Influencer Gen Z Perjuangkan Pendidikan Anak di Wilayah 3T
Berbeda dengan bagian luar pasar yang relatif sepi, suasana di dalam gedung Pasar Rawa Bening masih menunjukkan denyut perdagangan yang cukup hidup. Lorong-lorong dipenuhi kios batu akik yang berjajar rapat.
Beberapa pedagang tampak sibuk memoles batu, memperbaiki dudukan cincin, hingga melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Di beberapa kios, pembeli duduk berdampingan dengan pedagang sambil mengamati batu menggunakan lampu sorot kecil untuk memastikan warna dan motifnya.
Ada pula yang membawa koleksi pribadi untuk diperiksa atau dipoles ulang.
Mesin gerinda yang berputar tanpa henti menghasilkan suara khas yang hampir terdengar dari setiap sudut pasar.
Aktivitas tersebut menjadi gambaran bahwa perdagangan batu akik di Rawa Bening memang tak lagi bergantung pada tren, melainkan bertahan karena komunitas kolektor yang masih aktif.
Salah seorang pedagang batu akik sekaligus barang antik, Irwan (39), mengatakan kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibanding masa ketika batu akik menjadi fenomena nasional.
"Dulu bapak-bapak suka kumpul bawa barangnya masing-masing, jadi ramai. Sekarang sudah beda, ada perubahan," kata Irwan saat ditemui Kompas.com, Selasa.





