Pantau - Konten kreator sekaligus aktivis Ferry Irwandi mengajak mahasiswa menguasai kemampuan storytelling sebagai bekal penting di tengah derasnya arus informasi digital saat menjadi pembicara dalam talkshow Dies Natalis ke-45 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di Semarang yang diikuti ratusan mahasiswa, dosen, dan pelajar SMK di Kota Semarang.
Ferry mengingatkan generasi muda agar tidak takut memulai belajar berbicara dan bercerita karena menurutnya kemampuan berbicara maupun storytelling bukan semata-mata ditentukan oleh bakat, melainkan dapat dibentuk melalui latihan yang dilakukan secara konsisten.
Ia mengungkapkan, "Jangan pernah merasa, gua enggak ada bakat storytelling nih atau gua enggak ada bakat speaking nih. Itu semua bisa dilatih."
Storytelling Dinilai Lebih Bermakna daripada Sekadar InformasiFerry menjelaskan informasi yang disampaikan dalam bentuk cerita lebih mudah dipahami, lebih mampu menggugah emosi audiens, serta menjadi kekuatan yang hingga kini belum dapat digantikan oleh teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Ia mencontohkan peristiwa banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 yang membuat perhatian publik tertuju ke daerah terdampak karena masyarakat mengetahui kondisi di lapangan melalui storytelling dan video yang dibagikan warga di media sosial.
Menurut Ferry, masyarakat kemudian menilai penanganan pemerintah belum maksimal dan perbaikan yang diprioritaskan bukan rumah warga maupun layanan pendidikan.
Ia mengatakan, "Itulah kenapa storytelling jadi penting sekali, karena ada rasa di situ, ada nuansa di situ. Ada makna di situ yang membuat informasi itu didapat dengan lebih baik."
Ferry mengakui AI mampu menyusun cerita, tetapi pola cerita yang dihasilkan masih cenderung seragam, sedangkan manusia memiliki pengalaman, sudut pandang, dan emosi yang membuat sebuah cerita menjadi lebih hidup.
Pesan yang Kuat Harus Diimbangi dengan SubstansiFerry menegaskan kemampuan bercerita harus diimbangi dengan kualitas isi pesan karena penyampaian yang menarik tidak akan berarti apabila substansi pesannya lemah.
Ia juga mengajak peserta memahami karakter audiens sebelum berbicara atau membuat konten dengan menyesuaikan pilihan bahasa, sudut pandang, serta cara penyampaian pesan.
Ia mengatakan, "Kita harus memahami dulu. Kita harus mapping dulu target audiens kita siapa. Karena itu sangat penting banget."
Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo mengatakan seminar dan talkshow merupakan agenda rutin dalam setiap peringatan dies natalis universitas.
Menurut Sapto, Dies Natalis UPGRIS ke-45 mengusung tema "Memberi Makna" yang menjadi pijakan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi dan catur darma melalui keteladanan.
Ia mengatakan, “Tujuannya memberikan bekal kepada generasi muda agar mampu mengomunikasikan gagasan, membangun narasi, memengaruhi perubahan, dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat di era digital.”




