Harga Emas Naik Tipis usai Rilis Data Inflasi Produsen AS

idxchannel.com
12 jam lalu
Cover Berita

Meski demikian, kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga tinggi masih membayangi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Harga Emas Naik Tipis usai Rilis Data Inflasi Produsen AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas berbalik arah dan menguat tipis pada Rabu (15/7/2026) setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) secara tak terduga mencatat penurunan pada Juni.

Meski demikian, kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga tinggi masih membayangi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Baca Juga:
Tekanan Makro Menguat, Saham Ritel Defensif Bisa Jadi Pilihan

Harga emas spot relatif stabil di level USD4.060,70 per troy ons, naik 0,20 persen setelah sebelumnya sempat merosot hampir 1 persen.

"Emas memangkas penurunan pada pagi ini setelah data PPI dirilis lebih rendah dari perkiraan, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga beberapa kali lagi tahun ini," kata Chief Market Strategist Blue Line Futures Phillip Streible, dikutip Reuters.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Menguat di Tengah Meningkatnya Ketegangan AS-Iran

Departemen Tenaga Kerja AS melalui Bureau of Labor Statistics melaporkan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) untuk permintaan akhir turun 0,3 persen pada Juni, setelah kenaikan Mei direvisi turun menjadi 0,6 persen.

Sementara itu, ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan PPI tidak berubah pada Juni, setelah data awal Mei menunjukkan kenaikan 1,1 persen.

Baca Juga:
IHSG Hari Ini Berpeluang Lanjut Menguat ke Area 6.137-6.254, Simak Analisa 4 Saham Berikut

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang sekitar 10,2 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli, turun dari 16,6 persen sebelum data PPI dirilis.

Sehari sebelumnya, data juga menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni.

Di sisi lain, AS mengumumkan telah memulai gelombang baru serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan negara tersebut.

Iran pun mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan, sehingga harga minyak melanjutkan kenaikan pada Rabu.

"Perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang sulit dikendalikan. Jika ketegangan semakin meningkat dan mendorong harga minyak lebih tinggi, emas justru berpotensi menghadapi tekanan penurunan," ujar Senior Research Analyst FXTM Lukman Otunuga.

Menurutnya, jika harga emas menembus kuat di bawah level tersebut, maka harga berpotensi turun menuju USD3.950 hingga USD3.000.

Namun, apabila level USD4.000 mampu bertahan sebagai area dukungan, harga emas berpeluang kembali menguat ke kisaran USD4.100.

Kenaikan biaya energi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,8 persen menjadi USD57,55 per ons. Sementara itu, platinum naik 0,9 persen menjadi USD1.646,47, sedangkan paladium melemah 0,9 persen ke USD1.293,58 per ons. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Ancam Coret Penerima Bansos yang Curi Fasilitas Publik
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Prabowo Disodorkan Nama Jampidsus Baru dan Wakil Kepala Jaksa Agung, Siapa Saja?
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Kejagung Pastikan Timsus Kasus Febrie Diisi Jaksa yang Dinilai Tak Resisten
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kejaksaan Berhasil Tangkap Buronan Kasus Cabul Asal Kota Payakumbuh
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Begini Tanggapan BYD Soal Copotnya Motor Listrik di BYD Tang
• 2 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.