Bank sentral Korea Selatan atau Bank of Korea (BOK) pada Kamis (16/7) menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak Januari 2023, seiring meningkatnya inflasi di negara tersebut.
BOK menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen, sesuai dengan perkiraan median ekonom yang disurvei Reuters.
Bank sentral menyatakan, keputusan ini diambil karena inflasi diperkirakan akan tetap berada di atas target BOK sebesar 2 persen untuk waktu yang cukup lama. BOK menyebut inflasi diproyeksikan tetap tinggi selama beberapa waktu karena dampak kenaikan harga energi baru akan sepenuhnya terasa setelah jeda waktu tertentu.
Inflasi utama Korsel pada Juni naik menjadi 3,2 persen, yaitu level tertinggi sejak 2023, seperti dikutip dari CNBC.
Bank sentral juga menyoroti ketidakpastian yang berasal dari nilai tukar won, laju pemulihan permintaan domestik, serta kenaikan upah. BOK memproyeksikan inflasi utama pada 2026 mencapai 2,7 persen, sementara inflasi inti diperkirakan sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 2,4 persen.
Bulan lalu, BOK menyatakan pembayaran bonus kinerja dalam jumlah besar di sejumlah perusahaan teknologi informasi (TI) berpotensi mendorong kenaikan upah yang lebih luas, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Korsel juga terdampak pelemahan nilai tukar won yang sempat menyentuh level terendah dalam 17 tahun, yakni 1.561,5 won per dolar AS pada 5 Juni. Awal bulan ini, mata uang tersebut kembali mendekati level tersebut dengan menyentuh 1.559 won per dolar AS.
Namun, won menguat pada bulan ini dan terakhir diperdagangkan di level 1.484,86 per dolar AS. Gubernur BOK Shin Hyun Song dilaporkan mengatakan kepada parlemen Korsel pekan lalu masih terdapat ruang yang cukup besar bagi won untuk terus menguat ke depan.
“Saat ini kami mencatat surplus transaksi berjalan yang sangat besar,” ujar Shin.
Suku bunga yang lebih tinggi umumnya mendukung penguatan mata uang karena menarik arus masuk modal asing. Kebijakan moneter yang lebih ketat juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang mencapai 3,8 persen pada kuartal I, menjadi pertumbuhan terkuat sejak kuartal IV 2021.
Meski demikian, kenaikan suku bunga dilakukan di tengah kondisi pasar keuangan Korsel yang bergejolak. Pergerakan saham perusahaan semikonduktor Samsung Electronics dan SK Hynix memicu volatilitas tinggi pada indeks acuan Kospi.
Indeks Kospi sempat anjlok lebih dari 6 persen setelah saham Samsung dan SK Hynix merosot mengikuti pelemahan saham-saham chip di Amerika Serikat (AS) pada perdagangan malam sebelumnya.
Ekonom Senior Asia Capital Economics Gareth Leather menilai BOK masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga.
Dalam catatannya setelah keputusan tersebut diumumkan, Leather mengatakan inflasi kemungkinan tetap berada di atas target hingga akhir tahun, sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap kuat, sehingga pengetatan kebijakan moneter lanjutan masih mungkin dilakukan.
“Data terbaru menunjukkan perekonomian berada dalam posisi yang cukup kuat untuk menghadapi suku bunga yang lebih tinggi,” ujar Leather.
Ia mencatat ekspor Korsel pada Juni melonjak 71 persen secara tahunan dalam denominasi dolar AS, laju pertumbuhan tercepat sejak 1978.
Meski penjualan ritel masih mengalami penurunan secara riil dan menjadi perhatian, Leather tetap memperkirakan ekonomi Korsel akan tumbuh sebesar 4,0 persen tahun ini, lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar.





