Ericsson Indonesia menilai pengembangan kecerdasan buatan alias AI di Indonesia tidak akan berjalan optimal tanpa percepatan pembangunan jaringan 5G. Menurut perusahaan, AI dan 5G merupakan dua teknologi yang saling bergantung sehingga keterlambatan penyediaan spektrum akan memperlambat adopsi AI di dalam negeri.
President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby mengatakan, AI membutuhkan jaringan yang stabil, andal, dan memiliki latensi rendah. Karena itu, konektivitas melalui 5G menjadi fondasi utama agar berbagai layanan AI dapat dimanfaatkan secara luas.
"Penundaan pada 5G akan menghambat baik proses adopsi 5G itu sendiri maupun output yang diharapkan dari adopsi AI," kata Nora dalam wawancara ekslusif dengan Katadata.co.id, Kamis (16/7).
Menurut dia, meningkatnya penggunaan aplikasi AI dalam beberapa tahun ke depan akan mendorong kebutuhan terhadap kapasitas jaringan yang lebih besar. Oleh karena itu, Indonesia perlu memastikan pembangunan jaringan 5G berjalan seiring dengan pertumbuhan penggunaan AI.
5G Menjadi Fondasi AINora menjelaskan, 5G bukan hanya berfungsi sebagai teknologi komunikasi generasi terbaru, tetapi menjadi fondasi seluruh ekosistem digital. Hal ini mulai dari pusat data hingga layanan AI.
Ia mengatakan AI yang digunakan langsung oleh pengguna membutuhkan jaringan dengan performa tinggi. "Jika kita fokus kepada 5G dengan spektrum yang tepat dan pada lokasi yang tepat, 5G akan bisa menjawab banyak kebutuhan AI, termasuk penggunaan AI di sisi pengguna (edge), serta menyediakan jaringan yang bisa diandalkan," ujarnya.
Namun, Indonesia masih berada pada tahap awal pembangunan 5G. Selain spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz yang mulai dialokasikan pemerintah, masih diperlukan spektrum mid-band serta pita 3,5 GHz untuk meningkatkan kapasitas jaringan.
"Masih ada banyak hal yang perlu dikerjakan untuk membuat jaringan siap menghadapi permintaan terhadap AI," katanya.
Tidak hanya menjadi pengguna jaringan, Ericsson juga mulai memanfaatkan AI. Perusahaan baru-baru ini meluncurkan AI for RAN yang membantu proses pembuatan keputusan dalam performa jaringan 5G secara real-time, lebih dekat dengan pelanggan, dan dengan kualitas yang lebih baik.
“Misalnya, operator bisa mengambil tindakan secara langsung untuk meningkatkan daya jaringan, atau meningkatkan kualitas jaringan yang didedikasikan untuk koneksi tertentu jika diperlukan,” kata Nora.
Ia menambahkan, sebelumnya hal-hal seperti itu harus dilakukan dari pusat atau secara tersentral. Namun kini bisa dilakukan langsung menggunakan RAN sehingga memberikan performa yang lebih baik dengan latensi yang lebih rendah.
Percepatan Spektrum Perlu Terus DilanjutkanEricsson juga menyambut dimulainya proses alokasi spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz oleh Pemerintah Indonesia. Namun perusahaan menilai langkah tersebut baru menjadi awal.
Nora mengatakan Indonesia masih membutuhkan tambahan spektrum, terutama mid-band dan 3,5 GHz. Jaringan ini dibutuhkan agar 5G mampu mengakomodasi lonjakan trafik AI di masa mendatang.
"Kami akan terus mengadvokasi spektrum berikutnya untuk mid-band dan 3,5 GHz agar jaringan menjadi lebih siap dan semakin andal," ujarnya.
Terlebih dalam riset terbaru, Ericsson Mobility Report (EMR) Juni 2026, pengguna jaringan 5G di Indonesia masih akan terus meningkat. Laporan ini menyebutkan pengguna jaringan 5G di Indonesia hingga akhir 2025 sudah mencapai 14%, sisanya 86% masih menggunakan Long Term Evolution (LTE) atau 4G.
Namun, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia Stanislaus Bawono mengatakan angka ini akan bertambah pada lima hingga enam tahun ke depan atau pada 2031. “Kami melihat subscription dari 5G itu akan meningkat dari 14% menjadi 56%,” kata Stanislaus dalam Ericsson Mobility Report Juni 2026, di Jakarta, Selasa (23/6).
Sayangnya, pertumbuhan pengguna jaringan 5G di Indonesia masih lebih kecil dibandingkan dengan negara lain. Stanislaus mencontohkan seperti di India per akhir tahun lalu, pengguna jaringan 5G sudah tebus 35%, sisanya masih menggunakan jaringan 2G. Lalu pada 2031, diprediksi pengguna 5G di India sudah tembus 81%.
Bahkan untuk negara yang lebih maju di Amerika Utara, pengguna 5G pada akhir 2025 sudah mencapai 79%. “Mereka (negara-negara di Amerika Utara) menuju ke 92% pengguna 5G pada tahun 2031,” ujarnya.
Stanislaus yakin lelang spektrum yang saat ini tengah disiapkan Pemerintah Indonesia akan mendukung perluasan penggunaan 5G.
Di masa depan, teknologi 5G bisa menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital. Menurutnya, jaringan 5G menjadi infrastruktur yang memungkinkan ekonomi digital berkembang pertama melalui transformasi digital.
“Transformasi digital mungkin kita lihat bukan cuma dari sisi konsumer tapi juga kita lihat dari sisi industri, kita lihat dari sisi pemerintah, e-government, dan lain-lain,” katanya.
Sementara itu, secara global, laporan EMR mencatat sebanyak 162 juta pengguna 5G baru pada kuartal I 2026. Penambahan itu menjadikan total langganan 5G secara global mencapai angka 3,1 miliar.
Angka ini diperkirakan akan terus tumbuh pesat dan lebih dari dua kali lipat menjadi 6,4 miliar pada akhir 2031. Saat ini sekitar 390 operator secara global telah meluncurkan layanan 5G secara komersial. Angka ini dengan lebih dari 90 di antaranya telah meluncurkan jaringan 5G Standalone.
Riset EMR mengungkapkan jaringan 5G menangani 48% dari seluruh trafik data seluler pada akhir 2025. Penggunaan jaringan ini diperkirakan akan meningkat menjadi 85% pada 2031.




