Babak Baru Proyek Abadi Masela Usai Terkatung-katung 28 Tahun

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah hampir 3 dekade terkatung-katung, Proyek LNG Abadi, Blok Masela akhirnya mulai memasuki tahap pembangunan. Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, tersebut pada Kamis (16/7/2026).

Bagi pemerintah, seremoni tersebut menjadi penanda bahwa salah satu proyek gas terbesar di Asia Pasifik akhirnya bergerak menuju tahap konstruksi. Namun, pelaku industri memandang groundbreaking hanyalah awal dari perjalanan panjang sebelum gas pertama benar-benar mengalir.

Prabowo pun mengirimkan pesan tegas kepada seluruh pemangku kepentingan. Setelah penantian selama hampir 30 tahun, proyek tersebut tidak boleh kembali tersendat.

"Alhamdulillah, hari ini kita mulai pembangunan dan pembangunan tidak boleh terhambat. Harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya," ujar Prabowo.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Sejak pertama kali ditemukan pada akhir 1998, Blok Masela menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana proyek hulu migas raksasa dapat kehilangan momentum akibat perubahan desain pengembangan, pergantian mitra, hingga negosiasi bisnis yang berkepanjangan.

Kini, proyek yang dioperatori Inpex Corporation melalui Inpex Masela Ltd. itu memasuki tahap baru setelah desain rekayasa terinci (front end engineering design/FEED) dimulai pada September 2025. Produksi perdana ditargetkan berlangsung pada periode 2029–2030.

Baca Juga

  • Bahlil Janji Pemilik Lahan Terimbas Proyek Masela Dapat Ganti Rugi
  • Masela jadi Pelajaran, Pengamat: Intervensi Berlebih Bisa Hambat Proyek Migas Strategis
  • Prabowo Prioritaskan Pasar Domestik, 60% LNG Masela Tak Diekspor

Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan Pada Acara Groundbreaking Proyek Abadi Mela (Blok Masela) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar melalui tayangan telekoferensi video di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (16/7/2026)./BPMI Sekretariat Presiden

Proyek Jumbo Bernilai Rp376 Triliun

Skala Proyek LNG Abadi menjadikannya salah satu investasi energi terbesar yang sedang berjalan di Indonesia. Total investasi proyek diperkirakan mencapai US$20,9 miliar atau sekitar Rp376 triliun. 

Dengan kapasitas produksi mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun, proyek tersebut juga akan menghasilkan gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) dan kondensat sekitar 35.000 barel per hari.

Konsorsium proyek terdiri atas Inpex Masela Ltd. sebagai operator dengan hak partisipasi 65%, PT Pertamina Hulu Energi Masela sebesar 20%, serta Petronas Masela Sdn. Bhd. sebanyak 15%.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memperkirakan proyek tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang sangat besar. Menurutnya, kontribusi terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai US$137,8 miliar atau setara Rp247,72 triliun (asumsi kurs Rp17.990 per US$). 

Di tingkat daerah, proyek itu diproyeksikan mampu meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB) Provinsi Maluku hingga US$95 miliar dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar US$92 miliar.

"Pertumbuhan ekonomi oleh kontribusi dari PDB nasional sekitar US$137,8 miliar serta peningkatan PDRB Provinsi Maluku sebesar US$95 miliar dan PDRB Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar US$92 miliar," tutur Bahlil.

Selain itu, fase konstruksi diperkirakan menyerap hingga 12.000 tenaga kerja, dengan prioritas bagi pekerja maupun pelaku usaha lokal. Pembangunan berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari jalan, listrik hingga fasilitas umum juga diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.

Jika sebelumnya Proyek Abadi lebih dikenal sebagai proyek ekspor LNG, arah kebijakan pemerintah mulai bergeser. Dalam dokumen plan of development (PoD), sekitar 60% produksi LNG awalnya memang dialokasikan untuk pasar ekspor, sedangkan 40% diperuntukkan bagi kebutuhan domestik. 

Porsi tersebut kini menjadi perhatian pemerintah seiring meningkatnya kebutuhan gas nasional. Bahlil mengungkapkan, LNG domestik dari Masela nantinya akan diserap oleh PT PLN (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN), serta PT Pupuk Indonesia (Persero). Ketiga BUMN tersebut diproyeksikan menjadi tulang punggung pemanfaatan gas Masela di dalam negeri.

Sementara itu, CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda mengatakan bahwa Proyek LNG Abadi Masela telah dinanti semua pihak terkait. Pihaknya pun menegaskan bakal memperkuat kontribusi Inpex kepada wilayah Tanimbar.

Hal ini diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan sumber daya lokal, kemampuan, pemberdayaan usaha lokal, dan berbagai program pengembangan masyarakat termasuk di bidang pendidikan dan kesehatan. 

Tahun ini, pihaknya merencanakan program pelatihan kejuruan khusus sebagai langkah pertama dalam mengembangkan kapasitas tenaga kerja lokal. 

"Selama fase konstruksi EPC, yang direncanakan akan dimulai tahun depan, partisipasi tenaga kerja lokal ditargetkan mencapai setidaknya 20% dari total tenaga kerja lokal," ucap Ueda.

Menjawab Krisis Gas Nasional dan Tantangannya

Pengamat ekonomi energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti berpendapat, dimulainya pembangunan Masela menjadi titik balik penting bagi ketahanan energi Indonesia.

Dia mengatakan, penurunan produksi gas nasional berlangsung secara struktural dalam beberapa tahun terakhir. Pada saat yang sama, pasokan gas pipa menuju kawasan industri Jawa Barat juga terus mengalami penurunan.

Dalam simulasi yang dilakukannya, pasokan domestik dari Masela berpotensi mencapai sekitar 498 billion British thermal unit per day (BBtud). Angka tersebut hampir setara dengan seluruh kebutuhan gas industri penerima program harga gas bumi tertentu (HGBT) sebelum terjadi krisis pasokan.

Artinya, apabila alokasi domestic market obligation (DMO) diarahkan secara tepat, Masela berpotensi menjadi solusi permanen terhadap defisit gas domestik yang selama ini membebani industri manufaktur.

"DMO Masela sebesar sekitar 498 BBtud setara dengan seluruh kebutuhan gas industri HGBT sebelum krisis. Artinya, Masela sanggup menutup defisit struktural tersebut bila alokasinya tepat sasaran," kata Yayan kepada Bisnis.

Tidak hanya itu, skenario alokasi gas yang lebih besar bagi sektor manufaktur diperkirakan mampu menurunkan harga gas campuran menjadi sekitar US$9 hingga US$9,4 per million metric British thermal unit (MMBtu).

Yayan menekankan bahwa dampaknya tidak kecil. Impor LNG komersial dapat ditekan, kebutuhan subsidi pemerintah berkurang, sementara surplus konsumen diperkirakan mencapai Rp13 triliun hingga Rp15 triliun setiap tahun mulai 2030.

Di sisi lain, keberadaan fasilitas carbon capture and storage (CCS) juga memperkuat posisi gas alam sebagai energi transisi menuju target net zero emission 2060.

Meski demikian, dimulainya konstruksi tidak serta-merta menghilangkan seluruh tantangan proyek. Dia mengingatkan bahwa manfaat ekonomi Masela baru akan dirasakan ketika proyek benar-benar beroperasi. Selama periode 2026–2029, pemerintah tetap harus menanggung mahalnya biaya pemenuhan gas domestik melalui LNG impor.

Dalam simulasi yang disusunnya, mempertahankan harga HGBT menggunakan LNG impor membutuhkan tambahan biaya sekitar Rp1 triliun hingga Rp1,5 triliun setiap tahun.

Apabila pasokan sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar, sekitar 17% permintaan gas industri diperkirakan hilang akibat mahalnya harga gas. Kondisi tersebut berpotensi memperparah penutupan industri padat energi serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Risiko lainnya berasal dari volatilitas harga LNG global. Yayan mengatakan bahwa dengan asumsi sekitar 60% produksi diekspor, perubahan harga minyak dunia dari US$60 menuju US$80 per barel diperkirakan dapat mengubah pendapatan proyek hingga sekitar US$1,3 miliar setiap tahun.

Belum lagi risiko pembengkakan biaya investasi. Dengan nilai investasi sekitar US$20 miliar dan biaya modal sekitar 8%, keterlambatan 2 tahun saja diperkirakan menambah beban bunga konstruksi sekitar US$3,2 miliar.

"Risiko lainnya, biaya-peluang fiskal. Insentif fiskal yang diberikan agar proyek ekonomis harus sepadan dengan bagi hasil negara, renegosiasi di tengah jalan justru menjadi sumber kemandekan baru," imbuh Yayan.

Lima Pekerjaan Rumah

Yayan menilai terdapat sedikitnya lima prasyarat agar Masela tidak kembali mengalami keterlambatan. Pertama, pemerintah harus menjaga kepastian regulasi dan tidak lagi mengubah skema proyek yang telah disepakati.

Kedua, disiplin terhadap target konstruksi harus dijaga karena setiap tahun keterlambatan berpotensi menambah biaya miliaran dolar AS. Ketiga, kontrak pembeli LNG domestik maupun ekspor perlu dipastikan sebelum memasuki puncak konstruksi.

"Kepastian pembeli dan infrastruktur penerima. Kontrak jual-beli LNG jangka panjang dan komitmen serapan domestik harus final sebelum puncak konstruksi, termasuk kesiapan terminal penerima dan interkoneksi pipa domestik agar DMO benar-benar terserap," jelas Yayan.

Keempat, formula alokasi gas domestik harus memberikan porsi lebih besar kepada sektor manufaktur agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Kelima, koordinasi antara Inpex, Pertamina, Petronas, pemerintah daerah serta masyarakat lokal harus dijaga agar persoalan sosial tidak kembali menjadi sumber keterlambatan proyek.

Pandangan serupa juga disampaikan praktisi migas sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo. Dia berpendapat, milestone paling menentukan dalam proyek migas bukanlah groundbreaking, melainkan final investment decision (FID).

Selama keputusan investasi final belum diambil dan perjanjian jual beli gas (gas sales agreement/GSA) belum sepenuhnya rampung, kepastian jadwal produksi masih menyimpan tanda tanya.

Dia menjelaskan, pekerjaan engineering, procurement, construction and installation (EPCI) umumnya berlangsung sekitar 36 bulan setelah kontrak diberikan. Oleh sebab itu, apabila FID maupun GSA mengalami keterlambatan, target produksi pada 2029 berpotensi kembali bergeser.

Hadi juga mengingatkan agar pemerintah tidak terlalu jauh mengintervensi keputusan teknis para profesional sebagaimana pernah terjadi pada masa lalu. Menurutnya, perubahan desain maupun arah pengembangan proyek justru menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan proyek-proyek migas berskala besar di Indonesia.

"Intinya serahkan kepada para profesional untuk penyusunan PoD proyek raksasa berdasarkan profesionalisme dan kompetensi sehingga jelas perhitungannya. Intervensi pemerintah yang terlalu dalam dan sampai mengubah skenario yang dibuat para ahli, akhirnya menyebabkan proyek-proyek raksasa delay dan kehilangan momentum," jelas Hadi. 

Pada akhirnya, groundbreaking Masela memang menjadi momentum penting bagi industri migas Indonesia. Namun, sejarah panjang proyek tersebut menunjukkan bahwa seremoni bukanlah garis akhir.

Keberhasilan sesungguhnya baru akan diuji ketika keputusan investasi final benar-benar tuntas, kontrak penjualan gas telah terkunci, konstruksi berjalan sesuai jadwal, dan gas pertama berhasil diproduksi sesuai target pada penghujung dekade ini.

Apabila seluruh tahapan itu dapat dilewati tanpa hambatan, Masela tidak hanya akan menjadi proyek LNG terbesar yang pernah dibangun Indonesia, tetapi juga fondasi baru bagi ketahanan energi nasional sekaligus motor pertumbuhan ekonomi Indonesia timur selama puluhan tahun ke depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hakim Lerai Debat di Sidang Eks Ketua Ombudsman: Terserah Saksilah
• 22 jam laludetik.com
thumb
Gedung Putih Skors Operator Teleprompter yang Taruhan Soal Isi Pidato Trump
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Kisah Ainun Ubah Cara Pandang Warga Kampung di Sulsel Tentang Perempuan Bersama PNM
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Kejagung: Febrie Adriansyah Masih Berstatus Tersanga di 3 Sprindik Baru
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
AS Lanjut Serang Iran, Wamenlu: Belum Ada WNI yang Dilaporkan Terluka
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.