Tongkat Estafet Jatuh, Tangis Pecah di Garis Finis MilkLife Athletics Challenge

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Tangis Ghaitsa Luffi Arachman pecah di garis finis usai tongkat estafetnya terjatuh. Ia menangis lantaran merasa mengecewakan rekan setim. Bertugas sebagai pelari penentu, ia gagal membawa timnya menjadi yang tercepat.

Ghaitsa berlaga di nomor estafet 8X50 meter KU 12 babak final MilkLife Athletics Challenge 2026 pada Kamis (16/7) di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Namun, saat hendak berlari menuju garis finis, tongkat estafetnya terjatuh.

Sebagai pelari terakhir di tim, ia merasa bersalah. Setelah tongkat estafetnya lepas dari genggaman, ia didahului peserta lainnya. Alhasil, ia gagal mengamankan slot podium juara.

Setelah memasuki garis finis, ia masih menutup kedua matanya yang berlinang air mata. Ghaitsa masih menangis bahkan sampai ke lorong stadion. Pelukan hangat dari ayahnya seakan menenangkannya.

Ia bersama ayahnya kemudian menuju ke tribun stadion. Di situ, tangis siswi SD Unggulan Muslimat NU itu belum berakhir.

"Saya menyesal tidak bisa membantu teman-teman meraih juara. Tongkatnya tadi jatuh. Belum sempat saya pegang sudah dilepas teman. Kemudian didahului lawan," katanya kepada kumparan, Kamis (16/7).

Rekan setim tak ada yang menyalahkannya. Namun, rasa bersalah dalam dirinya tetap muncul karena tidak bisa membayar kepercayaan rekan-rekannya. Terlebih, dirinya bertugas sebagai pelari penentu.

Ditambah lagi, ia sudah mempersiapkan ajang ini lewat latihan keras. Siswi kelas 6 SD itu berlatih rutin lima kali dalam sepekan. Bahkan ia juga berlatih pukul 05.00 WIB. Kemudian berlanjut menuntut ilmu di sekolah.

"Sebenarnya saya tidak selalu menangis kalau gagal. Tetapi untuk hari ini saya merasa tidak bisa menjawab kepercayaan tim," sambungnya.

Sadar kalau momen tak bisa diulang, ia ikhlas di nomor lari estafet 8X50 meter belum naik podium. Ia bertekad untuk mengevaluasi diri menjadi lebih baik untuk ajang selanjutnya.

"Semoga ke depannya bisa lebih baik," imbuhnya.

Sementara itu, ibu dari Ghaitsa, Ayu Wulandari menjelaskan, putrinya menangis karena merasa bersalah gagal memberikan yang terbaik. Bagi Ayu Wulandari sebenarnya hal tersebut tidak menjadi persoalan yang besar.

"Kalah menang dalam pertandingan sebenarnya hal biasa. Tapi Ghaitsa ini dia merasa bersalah karena gagal membayar kepercayaan teman-temannya," ujarnya kepada kumparan, Kamis (16/7).

Ayu Wulandari menyampaikan, putrinya sudah rutin berlatih setiap hari. Di matanya, Ghaitsa sosok yang tangguh dan ceria.

"Mungkin di lomba ini tadi berbeda. Apalagi dia penentu kan. Ia merasa bersalah gitu," terangnya.

Sebenarnya, SD Unggulan Muslimat NU sudah mengantongi tiga juara pertama. Dua gelar lahir di nomor beregu, lari kana dan formula 1. Satu gelar individu lahir dari Ghaitsa di nomor lari 1000 meter putri.

"Kalau sudah seperti ini, biasanya saya hibur Ghaitsa soal kalah dan menang merupakan hal biasa. Teman-temannya juga tidak masalah. Apalagi sudah dapat tiga gelar juara," imbuhnya.

Reporter: Vega M. Ula


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Yusril: DPR Sedang Bikin Draf Baru RUU Perampasan Aset
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Pertamina Dukung Proyek Pembangkit Sampah Energi Listrik, Perkuat Solusi Pengelolaan Sampah
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Indonesia Resmi Jadi Negara Pendiri Organisasi AI Dunia di Bawah PBB
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kata Sudirman Said Usai Diperiksa Kejagung sebagai Saksi Kasus Petral
• 31 menit lalukumparan.com
thumb
Hotman Paris Resmi Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
• 1 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.