Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons ramainya “Liga Aspal” di kawasan Menteng Jaya, Jakarta Pusat, yang digelar warga di atas jalan aspal akibat minimnya lapangan sepak bola dan ruang publik.
Pramono mengaku mengikuti perkembangan turnamen tersebut dan melihat antusiasme anak-anak yang bermain di tengah keterbatasan fasilitas olahraga.
“Terus terang saya ngikuti Liga Aspal, karena saya melihat adanya kegembiraan di anak-anak yang memanfaatkan itu. Walaupun tentunya yang namanya aspal itu bukan tempat untuk bermain sepak bola,” kata Pramono usai menghadiri Wisuda Mahasiswa Pendidikan Kader Mubalig (PKM) Angkatan XXXII Tahun 2025 dan Studium General Angkatan XXXIII Tahun 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (17/7).
Pramono mengakui Jakarta masih menghadapi keterbatasan ruang terbuka untuk berolahraga, terutama dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 11 juta jiwa.
Lebih lanjut Pramono juga menyinggung lokasi Liga Aspal yang berada di sekitar lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
“Tapi karena keterbatasan fasilitas di Jakarta dengan jumlah penduduk yang sebegini banyak, 11 juta orang, termasuk tempatnya sebenarnya itu tempat KAI,” ujarnya.
Meski begitu, Pramono memastikan Pemprov DKI akan terus menambah fasilitas olahraga, termasuk membangun kembali lapangan sepak bola di sejumlah lokasi.
“Sehingga dengan demikian, Pemerintah DKI Jakarta tetap berpikir untuk menyediakan fasilitas olahraga bagi anak-anak. Walaupun belum semuanya bisa dilakukan, tetapi beberapa sekarang ini kita bangunkan kembali,” ucap Pram.
Liga Aspal Lahir Karena Tak Ada Lapangan Sepak Bola
Sebelumnya, Ketua Karang Taruna RW 08 Kelurahan Menteng Jaya, Andhika Prasetia atau Odoy, mengatakan Liga Aspal lahir pada 20 Juni lalu karena warga tidak memiliki lapangan sepak bola.
“Kalau Liga Aspal sendiri kan ini karena kita mainnya di aspal ya, karena memang di Menteng Jaya ini ruang lapangannya itu terbatas banget bahkan enggak ada di RW kita,” kata Odoy saat ditemui, Minggu (5/7).
Menurut Odoy, warga sempat mengusulkan pemanfaatan lahan tidur milik PT KAI yang berada tak jauh dari permukiman untuk dijadikan ruang terbuka dan lapangan olahraga. Bersama warga, mereka bahkan bergotong royong membersihkan lahan tersebut selama sekitar tiga bulan.
Namun, setelah lahan selesai dibersihkan, usulan pemanfaatan lahan itu tidak mendapat persetujuan.
“Pas kita masuk pertama itu enggak dibales sama sekali. Tapi ketika udah bersih, udah rata dengan tanah, surat KAI baru keluar. Isinya pasal-pasal, seolah-olah kita mau ambil lahannya,” ujar Odoy.
Ia berharap ke depan tersedia ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan, mulai dari bermain sepak bola, senam, hingga menjadi tempat berkumpul warga.
“Harapan besarnya juga bisa mereka tuh apa yang mereka cita-citakan mungkin jadi pemain bola profesional bisa dimulai dari aspal tapi nanti juga bisa main di rumput, rumput Gelora Bung Karno,” katanya.





