JAKARTA, KOMPAS.com - Pulau Sumatera kembali menghadapi persoalan bahan bakar minyak (BBM), antrean kendaraan menjadi pemandangan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Selama beberapa waktu terakhir, sejumlah SPBU di Medan, Sumatera Utara, dilaporkan kehabisan stok Pertalite dan Pertamax.
Kawasan di Lhokseumawe, Aceh, mengalami kelangkaan BBM jenis solar dan Pertalite sekitar sepekan terakhir. Antrean menjadi tak terelakkan.
"Saya antre panjang sekali baru kebagian setelah menunggu lama. Habis waktu sampai 30 menit antre buat antre minyak saja," ujar warga asal Lhokseumawe, Martunis, saat ditemui Kompas.com, awal pekan ini.
Baca juga: Kelangkaan BBM di Lhokseumawe, Warga: Saya Antre Panjang Sekali Baru Dapat
Fenomena tersebut bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, sejumlah wilayah di Sumatra juga sempat mengalami kelangkaan solar bersubsidi.
Kemudian pada Mei 2026, kelangkaan Pertalite juga terjadi di sejumlah SPBU di Sumatra Barat.
Nelayan kecil menjadi kelompok yang paling rentan karena bergantung pada BBM bersubsidi untuk melaut.
Ketika pasokan tersendat, aktivitas perekonomian terganggu. Di Sumatera Barat, misalnya, nelayan yang bergantung pada BBM bersubsidi sulit berlayar untuk menangkap ikan.
Lantas, mengapa kelangkaan BBM bisa terjadi?
Distribusi terganggu
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai kelangkaan BBM dapat dipicu oleh sejumlah faktor, salah satunya gangguan dalam rantai distribusi.
Penjelasan tersebut sejalan dengan keterangan PT Pertamina. Perusahaan pelat merah itu mengakui penyaluran BBM di sejumlah wilayah Sumatera Utara sempat terkendala akibat penyesuaian operasional armada distribusi.
Lalu, terjadi peningkatan kebutuhan masyarakat selama masa libur sekolah.
Namun, Fahmy berpandangan kendala tersebut semestinya dapat diantisipasi.
Pasalnya, gangguan distribusi kali ini bukan disebabkan oleh kondisi luar biasa seperti bencana alam yang menghambat pengiriman BBM. Terlebih, libur sekolah adalah agenda tahunan yang seharusnya dapat diantisipasi lebih awal.
"Saya yakin tiap tahun libur itu kan sudah ada. Dan mestinya Pertamina sudah membuat proyeksi, kalau liburan misalnya, harus nambah (stok) berapa. Artinya alasan itu nggak tepat," kata Fahmy saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/7/2026).