Melihat Tata Kelola Sistem PKT Lewat Penanganan Banjir

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Banjir Tidak Mengenal Batas, Bencana Buatan Manusia Mengungkap Sistem

 oleh Huang Guangci

Setiap kali Tiongkok mengalami banjir besar dan penduduk mengalami kerugia serius, Tiongkok yang dikuasai oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) selalu mengeluarkan pernyataan resmi yng berbunyi: “Ini adalah peristiwa cuaca ekstrem yang terjadi sekali dalam seabad” atau “sekali dalam seribu tahun terakhir.” Seolah-olah hanya dengan satu kata “bencana alam,” semua tanggung jawab dapat dilimpahkan kepada alam.

Namun, yang seharusnya dipertimbangkan oleh orang adalah: apakah banjir hanyalah bencana alam, ataukah banjir diperparah menjadi malapetaka karena kelemahan sistemik?

Banjir bukanlah fenomena cuma terjadi di Tiongkok.

Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan negara-negara lain semuanya pernah mengalami banjir parah. Tidak ada negara yang kebal terhadap kekuatan alam. Namun, kerugian yang diderita oleh berbagai negara yang menghadapi hujan deras yang sama dapat sangat jauh berbeda.

Makna peradaban modern bukanlah untuk menghilangkan banjir, tetapi untuk meminimalkan bencana yang ditimbulkannya.

Apakah suatu negara memiliki mekanisme peringatan dini yang baik, pengelolaan waduk yang ilmiah, penyebaran informasi yang transparan, fasilitas drainase yang kuat, pengawasan media yang independen, dan akuntabilitas yang tulus atas kelalaian tugas—ini adalah standar penting untuk mengukur tingkat tata kelolanya.

Badai hujan dahsyat di Kota Zhengzhou, Provinsi Henan pada tahun 2021 menjadi kasus yang menggugah pikiran. Meskipun curah hujan yang sangat deras memang sangat jarang terjadi, tetapi apakah masalah peringatan dini berfungsi? Apakah kapasitas drainase kota memadai untuk menangani risiko-risiko tersebut? Apakah manajemen darurat di kereta bawah tanah dan ruang bawah tanah dilakukan tepat waktu? dan sebagainya ini telah memicu perdebatan publik yang luas. Setelah kejadian tersebut, banyak keluarga korban dan anggota masyarakat menyerukan agar pemerintah dapat mengungkapkan informasi lebih lanjut, memetik pelajaran, dan meningkatkan sistem manajemen daruratnya. Menuntut pemerintah pusat agar tidak cuma mengaitkan semuanya ini dengan “cuaca ekstrem” saja yang tidak cukup untuk meredakan keluhan publik dan meningkatkan kepercayaan terhadap pemerintah.

Dalam beberapa tahun terakhir, orang sering melihat fenomena lain setiap terjadi banjir besar, yaitu propaganda dan pemberitaan publik sering lebih digahulukan, yang meramaikan publisitas adalah gambar-gambar tentang upaya penyelamatan, arahan kepemimpinan, dan kisah-kisah yang menyentuh hati, sementara kekhawatiran paling mendesak dari mereka yang berada di daerah bencana adalah di daerah mana lagi air banjir akan dilepaskan, penduduk daerah mana yang membutuhkan evakuasi, dan sejauh mana risikonya. Namun, informasi yang sangat penting untuk keselamatan masyarakat ini justru sangat minim atau bahkan tidak ada.

Pemerintah modern harus memprioritaskan untuk memberi tahu rakyat fakta kebenaran, daripada berfokus pada pembentukan citranya.

Jika pengungkapan informasi tidak memadai, jika pengawasan media dibatasi, dan jika pendapat para ahli tidak dapat sepenuhnya masuk ke dalam diskusi publik, maka banyak kerugian yang seharusnya dapat dikurangi mungkin akan terjadi berulang kali.

Sementara itu, beberapa daerah sangat tertarik untuk membuat proyek-proyek yang bersifat pamer dan proyek-proyek pencitraan, mengabaikan investasi jangka panjang seperti membangun drainase bawah tanah, fasilitas pengendalian banjir, dan pengelolaan sungai dan lainnya. Masalah yang tidak terlihat dalam keadaan normal akhirnya terungkap oleh satu badai hujan.

Yang lebih menggugah pikiran adalah banyaknya liputan media setelah bencana besar. Para petugas penyelamat tentu layak dihormati, tetapi jika fokus liputan media hanya pada pembentukan citra, alih-alih benar-benar memeriksa masalah, menyelidiki penyebabnya secara publik, dan memperbaiki sistem, maka tidak menutupi kemungkinan tragedi serupa akan terjadi kembali.

Tata kelola yang benar-benar maju tidak takut mengakui kesalahan.

Negara-negara seperti Jepang dan Jerman biasanya melakukan investigasi setelah bencana besar, merangkum pengalaman, merevisi peraturan, meningkatkan rencana manajemen darurat, dan menerima pengawasan media. Hanya dengan terus menerus menghadapi masalah, kita dapat terus mengatasinya dan mengurangi kemungkinan terjadinya bencana di masa depan.

Sistem yang kurang pengawasan dan akuntabilitas publik dengan mudah menciptakan siklus seperti ini: bencana terjadi – propaganda dan daya tarik emosional lebih dikedepankan – tanggung jawab diremehkan – kurangnya refleksi – dan menunggu bencana berikutnya.

Aih bah tidak akan memilih negara, juga tidak dapat memilih sistem.

Namun, apakah suatu sistem menghormati kehidupan, menjamin hak untuk mengetahui, dan menerima pengawasan akan secara langsung memengaruhi skala bencana yang disebabkan oleh air bah.

Evaluasi modernisasi suatu negara seharusnya tidak cuma melihat gedung-gedung pencakar langitnya, pertumbuhan PDB, atau besarnya parade militer, tetapi evaluasi juga harus mempertimbangkan apakah warga biasa menerima informasi yang tepat waktu dan akurat selama hujan deras, apakah mereka dapat mengungsi dengan aman, apakah investigasi publik dilakukan setelahnya, dan apakah mereka yang bertanggung jawab atas kelalaian benar-benar dimintai pertanggungjawaban.

Pada akhirnya air bah akan surut.

Tetapi masyarakat tidak akan melupakan apakah mereka diberi tahu tepat waktu sebelum air bah datang? Apakah menerima bantuan yang memadai, dan mengetahui kebenaran selama bencana.

Banjir mengungkapkan lebih dari sekadar ketinggian sungai, banjir mencerminkan tingkat tata kelola suatu negara. Banjir tidak hanya menghanyutkan jalan dan rumah, tetapi juga menguji sejauh mana suatu sistem menghormati kehidupan.

Ketika pemerintah suatu negara memprioritaskan rakyatnya, bencana alam dapat mengurangi kerugian. Namun ketika pemerintah memprioritaskan menjaga citranya, bencana alam lebih mungkin meningkat menjadi bencana buatan manusia.

Inilah peringatan sebenarnya yang ditinggalkan kepada kita setiap kali terjadi banjir besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Jamin Investor Untung di Proyek Gas Masela
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Get The Look: Inspirasi Gaya Berkebaya Kasual ala Maudy Ayunda
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Kejagung Benarkan Periksa Febrie Adriansyah sebagai Tersangka Kasus Korupsi dan TPPU
• 4 jam laluokezone.com
thumb
PORPROV XVIII Sulsel 2026: Makassar Harus Tetap Menjadi Raja Olahraga
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Persib Bergerak Cari Pengganti Frans Putros, Igor Tolic Pastikan Sudah Punya Rencana
• 5 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.