Ekonom nilai B50 dorong hilirisasi sawit ke produk turunan lain

antaranews.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai program B50 menjadikan komoditas sawit di Tanah Air memiliki prospek cerah terhilirisasi menjadi produk turunan lainnya yang memiliki nilai tambah tinggi.

Ia menyebut, kelapa sawit tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi, tetapi juga dapat dikembangkan untuk sektor lain seperti farmasi dan pangan.

"Menurut saya prospek sawit sangat cerah apalagi produk turunan sawit lebih dari 200 jenis. Tidak hanya bisa diolah menjadi energi tapi juga farmasi, makanan, dan lain-lain," ujar Esther dihubungi di Jakarta, Jumat.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat hilirisasi sawit dengan mengembangkan berbagai produk turunan. Namun, langkah tersebut harus dibarengi dengan pembangunan ekosistem industri yang kuat agar mampu meningkatkan daya saing di pasar global.

"Indonesia punya peluang besar untuk terus menghilirisasikan sawit menjadi berbagai produk turunan sawit. Tapi paling penting adalah membangun ekosistemnya," katanya.

Esther menjelaskan, strategi pengembangan ekspor produk turunan sawit perlu diarahkan pada diferensiasi produk. Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), tetapi perlu meningkatkan produksi barang bernilai tambah seperti sabun, deterjen, biodiesel, hingga pelumas.

Selain penguatan hilirisasi, Esther mendorong pelaku industri untuk memperhatikan standar mutu serta regulasi perdagangan internasional. Produk turunan sawit, khususnya yang masuk ke sektor pangan dan kosmetik, harus memenuhi standar keamanan serta keberlanjutan yang berlaku di pasar tujuan.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan implementasi biodiesel B50 memberikan manfaat ekonomi nyata bagi negara sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Baca juga: Kementerian ESDM: Program B50 beri manfaat ekonomi nyata

Baca juga: Prabowo: Indonesia hentikan impor solar mulai Juli 2026

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia dalam pernyataan di Jakarta, Jumat menjelaskan, transformasi ini menandai era di mana kedaulatan energi nasional digerakkan langsung oleh komoditas domestik.

Melalui formula baru tersebut, katanya setiap liter solar yang dikonsumsi masyarakat, setengah porsinya kini berasal dari hasil bumi yang ditanam dan diproduksi langsung oleh petani lokal Indonesia.

Menurut dia, keterlibatan penuh komoditas dalam negeri ini diyakini akan memperkuat fundamental ketahanan energi nasional dalam menghadapi gejolak pasar global.

"Program B50 ini beri manfaat ekonomi nyata bagi negara. Implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara sekitar Rp170 triliun sepanjang tahun 2026. Penghematan itu modal penting untuk mendukung pembangunan dan memperkuat perekonomian nasional. Selain itu program ini ditargetkan mampu menciptakan hingga 2,1 juta lapangan kerja baru bagi masyarakat," ungkapnya.

Baca juga: Wamentan: B50 bukti pengembangan pertanian untuk ketahanan energi

Baca juga: Akademisi: Program B50 langkah strategis wujudkan swasembada energi

Baca juga: PLN UPK Flores implementasikan penggunaan B50 di PLTMG Maumere


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Gadis 14 Tahun Dirudapaksa Ketua RT di Lumajang Sejak Duduk di Bangku Kelas 3 SD, Terbongkar Karena Hal Ini!
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Tolak Wacana SPP di Sekolah Negeri, Ono Surono: Negara Wajib Biayai Pendidikan 12 Tahun
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Dubes soroti kesuksesan konservasi gorila gunung di Rwanda
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Jadwal Piala AFF 2026: Skuad Garuda Hadapi Kamboja di Laga Pembuka
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Kembaran GrabFood-GoFood Bersatu, Bisnisnya Tembus Rp 4.000 Triliun
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.