Banyuwangi (beritajatim.com) – Parade Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 berlangsung spektakuler. Aneka ragam busana yang mengusung konsep fashion carnival bertema “Puputan Bayu” itu kembali menegaskan perpaduan selera global dengan keluhuran lokalitas dapat tersaji dengan apik.
Karnaval diawali dengan kesenian Kuntulan Ewon. Dilanjutkan dengan parade Tari Seblang, Gandrung, Jaranan Buto, dan Barong yang disajikan cukup kolosal, membuat nuansa lokalitas Banyuwangi terasa kuat.
Beragam jenis tarian khas daerah menjadi pembuka yang menggugah kemeriahan BEC yang digelar Sabtu (18/7/2026).
Ratusan talenta dengan aneka kostum bertema “Perang Bayu” memukau hadirin dan para wisatawan yang datang. Mereka berjalan di sepanjang 2 kilometer dari Taman Blambangan menuju Jalan Ahmad Yani.
“Globalisasi tidak boleh menyingkirkan budaya, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang terwariskan oleh nenek moyang kita. Justru kemajuan haruslah menjadi medium untuk terus melestarikan budaya kita,” tegas Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Pagelaran parade kostum Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) sukses menyihir ribuan pasang mata penonton pada event yang telah memasuki tahun ke-14 itu.
Budaya dan tradisi khas Banyuwangi itu kemudian disusul dengan parade fashion bercita rasa dunia. Dengan menyajikan desain dan tata rias modern, namun tetap berakar pada inspirasi lokal, menjadikan parade terasa megah dan unik.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, nilai-nilai lokal harus tetap berdaulat di tengah kemajuan zaman. “BEC adalah etalase utama untuk menunjukkan keindahan budaya Banyuwangi di panggung dunia,” pujinya.
Mengusung tema Perang Bayu, menjadikan BEC 2026 tak hanya spektakuler, namun juga mengandung pesan historis yang kuat. Episode sejarah terpenting dalam derap kehidupan rakyat Blambangan itu menjadi pengingat akan nilai-nilai perjuangan.
Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat (PD AMAN) Osing Banyuwangi, Wiwin Indiarti, menjelaskan bahwa Perang Bayu adalah salah satu perang penting melawan kolonialisme. Kerajaan Blambangan menunjukkan kegigihan yang luar biasa untuk menjaga kedaulatannya.
“Nilai-nilai kegigihan perjuangan dalam Perang Bayu ini harus direvitalisasi dengan baik. BEC menjadi titik awal yang baik untuk menggugah kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga tanah air, budaya, dan alam kita, sebagaimana dulu Rempeg Jogopati dan ribuan rakyat Blambangan rela mati demi kemerdekaan bangsa,” tutur penulis alih bahasa Babad Tawangalun itu. [kun]




