FINAL Piala Dunia 2026 akan berlangsung antara Argentina dan Spanyol. Jutaan mata penggemar sepakbola di seluruh dunia menyaksikan perhelatan akbar itu.
Maka amat penting rasanya untuk memungut makna dari perhelatan ini dari aspek hukum dan keadilan.
Agar perhelatan Piala Dunia ini tak sekedar "tontonan" tapi "tuntunan" (nilai keteladanan) bagi publik terutama para aparatur penegak hukum, khususnya: Hakim.
Piala Dunia dianggap sebagai tontonan menarik karena melibatkan adu strategi, teknik dan ketahanan fisik dan mental pemain.
Bahkan di dalamnya terdapat mega bisnis dan meja judi dan pertaruhan.
Publik di seluruh dunia boleh saja terbelah dan berpihak pada salah satu tim negara favoritnya, namun hanya satu sosok yang tak boleh berpihak: wasit, yakni Slavko Vincic dari Slovania.
Di tengah sorak sorai penonton jutaan manusia di televisi dan ribuan penonton di tribun lapangan tertuju pada para pemain, namun wasit berdiri sendiri nyaris luput dari perhatian.
Wasit tak boleh menunjukkan identitas dan kecenderungannya dalam memimpin pertandingan.
Baca juga: Tekuk Inggris, Lionel Scaloni Ungkap Lawan Tak Percaya Diri
Yang ia perlihatkan adalah identitas keadilan. Maka pluit yang ada di tangannya bukan sekedar alat untuk menghentikan permainan, namun simbol pertandingan hanya akan bermakna jika dijalankan secara jujur, adil dan setara.
Bertemunya Wasit dan Hakim
Manakala peluit Wasit adalah simbol keadilan di lapangan, maka palu Hakim di pengadilan adalah simbol keadilan di ruang sidang.
Keduanya memang lahir dari profesi yang berbeda, tetapi memiliki roh sama.
Wasit menjaga agar pertandingan berjalan fair. Hakim menjaga agar hukum ditegakkan secara fair pula.
Wasit tak boleh memihak salah satu negara dalam pertandingan. Hakim pun demikian tidak boleh memihak pada pencari keadilan (yustiabelen), kekuasaan, iming-iming suap uang ataupun tekanan politik. Keduanya sama-sama menjadi penjaga kepercayaan publik.
Maka pertandingan sepak bola tidak hanya dimenangkan oleh tim yang mencetak gola terbanyak.