Pengamat: TPA Terbakar Bukan karena Kemarau, tapi Tata Kelola Buruk

kompas.com
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah kebakaran terjadi di tempat pemrosesan akhir (TPA) dalam sebulan terakhir, yakni di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pada Selasa (30/6/2026) dan TPA Cipayung, Depok, Jawa Barat, pada Kamis (16/7/2026).

Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI) Mahawan Karuniasa menilai, musim kemarau bukan menjadi penyebab utama kebakaran TPA.

Menurut dia, kebakaran lebih berkaitan dengan buruknya tata kelola di lokasi tersebut.

"Narasi yang tepat bukan 'TPA terbakar karena kemarau', tetapi TPA yang tata kelolanya buruk menjadi sangat mudah terbakar ketika memasuki musim kemarau," ujar Mahawan kepada Kompas.com saat dihubungi via WhatsApp, Minggu (19/7/2026).

Baca juga: Setelah 11 Hari, Akhirnya Kebakaran TPA Jatiwaringin Tangerang Padam

Meski bukan penyebab utama, Mahawan mengatakan, musim kemarau dapat memperbesar risiko kebakaran.

Hal itu terjadi ketika tiga unsur segitiga api, yakni bahan bakar, oksigen, dan sumber panas atau penyulut, lebih mudah bertemu.

"Bahan bakarnya tersedia sangat banyak, seperti kertas, plastik, tekstil, kayu, daun kering, sampah organik kering, residu rumah tangga, serta kemungkinan e-waste seperti baterai lithium. Oksigen masuk melalui celah-celah timbunan, terutama pada TPA terbuka atau open dumping," kata Mahawan.

"Sementara panas atau penyulut dapat berasal dari puntung rokok, pembakaran liar, percikan alat berat, korsleting, baterai rusak, atau api kecil yang tidak terdeteksi," lanjut dia.

Baca juga: Kondisi Terkini TPA Cipayung Depok Usai Kebakaran: Api Padam, Truk Kembali Angkut Sampah

Menurut Mahawan, kondisi kemarau membuat sampah menjadi lebih kering dan kelembapan udara menurun.

Selain itu, angin dapat mempercepat rambatan api, sementara proses pemadaman menjadi lebih sulit.

Risiko tersebut semakin besar pada TPA yang masih menerapkan sistem open dumping.

Sebab, masih banyak sampah organik yang masuk ke TPA, penutupan tanah minim, pengelolaan gas dan lindi belum optimal, serta pengawasan terhadap berbagai sumber penyulut api masih lemah.

Di sisi lain, gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Metana tidak terbakar dengan sendirinya, tetapi dapat menjadi berbahaya ketika bercampur dengan udara dan bertemu sumber panas.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Pada TPA yang masih menerapkan open dumping, gas tersebut tidak tertangkap dengan baik sehingga dapat bergerak melalui rongga dan retakan timbunan sampah sebelum akhirnya memicu kebakaran ketika terdapat penyulut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Aktor Intelektual Culik-Bunuh Kacab Bank Ilham Divonis 10-13 Tahun Penjara
• 13 jam laludetik.com
thumb
Proyek Gorong-gorong Bikin Jalan Ciledug Macet Tiap Hari
• 15 jam laludetik.com
thumb
Penjual Roti di Surabaya Edarkan Narkoba untuk Penuhi Kebutuhan
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kebakaran Hanguskan 3 Tempat Usaha di Surabaya, Diduga Dipicu Kebocoran Elpiji
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Sindiran Halus Frank Hutapea di Tengah Hotman Paris Menyampaikan Permintaan Maaf dan Klarifikasi
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.