Rasa Group Bidik Ekspansi Ekspor ke Timur Tengah hingga Jepang

bisnis.com
21 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Rasa Group memperluas pasar ekspor dengan membidik kawasan Asia hingga Timur Tengah sebagai tujuan ekspansi berikutnya, seiring pertumbuhan bisnis perusahaan di industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B).

CEO Rasa Group Sherley Ruslie mengatakan produk perusahaan saat ini telah dipasarkan ke sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Kamboja. Selanjutnya, perusahaan menargetkan ekspansi ke Timur Tengah, disusul Inggris, Australia, Korea Selatan, dan Jepang.

Menurutnya, strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi merek Indonesia di pasar internasional, bukan sekadar meningkatkan volume ekspor.

"Yang kami ekspor adalah brand kami, bukan sekadar komoditas. Kami ingin membawa nilai tambah produk Indonesia ke pasar internasional," ujar Sherley, dikutip Bisnis, Minggu (19/7/2026).

Dia mengatakan ekspansi tersebut didukung pertumbuhan bisnis perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Volume produksi Rasa Group disebut tumbuh lebih dari 50% per tahun seiring meningkatnya jumlah pelanggan aktif dan permintaan dari sektor F&B.

Saat ini, Rasa Group melayani puluhan ribu outlet dan ribuan merek di Indonesia maupun Asia Tenggara melalui jaringan distribusinya. Sekitar 50% pendapatan perusahaan berasal dari produk custom atau private label, sedangkan sisanya disumbang oleh merek milik perusahaan, termasuk Drip.

Baca Juga

  • Kolesom Jumbo Viral, LPPOM: Kandungan Alkohol 19,7% Masuk Kategori Khamr
  • Menkop Blak-blakan Alasan Manajer Kopdes Diberi Pelatihan Selama 2 Pekan

Selain mengembangkan bisnis ekspor, Rasa Group juga meluncurkan House of Rasa, fasilitas yang ditujukan untuk mendukung kolaborasi dan pengembangan produk di industri F&B.

Fasilitas tersebut dilengkapi Preference Lab, Culinary Lab, Coffee Experience Center, Training Center, serta Networking Venue untuk mendukung inovasi produk dan kolaborasi pelaku industri.

Sherley mengatakan House of Rasa merupakan investasi strategis perusahaan dan akan dikembangkan ke sejumlah kota besar di Indonesia.

"Kami tidak melihat House of Rasa hanya sebagai pusat keuntungan, tetapi sebagai fondasi membangun ekosistem industri F&B di seluruh Indonesia," katanya.

Di sisi lain, dia mengakui industri F&B masih menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, inflasi, hingga perubahan kebijakan impor. Harga kakao, misalnya, meningkat dalam dua tahun terakhir akibat gangguan produksi dan cuaca, sementara harga gula terdorong pembatasan impor.

Untuk menjaga daya saing, perusahaan memilih meningkatkan skala produksi dan memperluas pasar dibandingkan meneruskan seluruh kenaikan biaya kepada konsumen.

"Kami harus menjaga harga tetap kompetitif. Karena itu strategi kami adalah memperbesar volume produksi dan memperluas pasar agar profitabilitas tetap terjaga," ungkapnya.

Dengan strategi tersebut, Sherley optimistis Rasa Group masih mampu mencatatkan pertumbuhan bisnis dua digit sepanjang 2026, didukung prospek industri F&B di pasar domestik maupun internasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Golkar Minta Dua Kadernya yang Adu Jotos di DPRD Riau Minta Maaf ke Publik
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Penempatan SAL di Himbara Tak Ada Masalah, Purbaya Tegaskan Terus Berkoordinasi Erat dengan BI
• 36 menit laluidxchannel.com
thumb
Longsor di Chongqing, Tiongkok, Kamera Dasbor Rekam Detik-Detik Mencekam
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
Sidang Putusan Praperadilan Kedua Roy Suryo Digelar Hari Ini
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Daftar Juara Piala Dunia Sepanjang Sejarah: Spanyol Samai Rekor Prancis dan Uruguay
• 18 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.