Bisnis.com, JAKARTA — Aliran dana asing mulai kembali mengalir ke pasar saham domestik setelah sempat mengalami tekanan jual sepanjang tahun berjalan.
Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp1,22 triliun di seluruh pasar pada perdagangan Kamis (16/7), dengan saham-saham perbankan menjadi salah satu tujuan utama.
Masuknya kembali dana asing tersebut ikut mengangkat sentimen terhadap sektor keuangan. Salah satu saham yang mendapat dorongan kuat adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), yang melonjak 170 poin atau 9,77% ke level Rp1.910 pada perdagangan terakhir pekan kemarin.
Penguatan BRIS menjadi kenaikan tertinggi di antara saham emiten perbankan pada perdagangan tersebut. Transaksi saham BRIS mencapai 64,8 juta saham dengan nilai turnover sebesar Rp116,6 miliar dan frekuensi transaksi sebanyak 15.134 kali.
Dari sisi pasar, posisi antrean beli (bid) BRIS tercatat berada di level 1.910 dengan jumlah 21.281 lot, sementara antrean jual (ask) berada di level 1.915 dengan 6.062 lot. Kondisi tersebut menunjukkan minat beli terhadap saham bank syariah terbesar di Indonesia itu masih cukup kuat.
Selain sentimen eksternal dari masuknya dana asing, penguatan saham BRIS juga didukung oleh kinerja fundamental perseroan yang masih solid.
Baca Juga
- BSI (BRIS) Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan Rp77,06 Triliun, Setara 23% Portofolio
- Fokus Dana Murah dan Digital, Laba BSI (BRIS) Naik 16,73% hingga Mei 2026
- BSI (BRIS) Targetkan Naik Kelas ke KBMI 4 Paling Lambat 2030
Pada kuartal I/2026, BSI mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun, meningkat 17,1% secara tahunan. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,4% year on year (YoY) serta peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi 5,6% dari sebelumnya 5,3%.
Dari sisi kualitas laba, beban provisi perseroan turun sebesar 6,8% YoY, sehingga turut mendukung peningkatan profitabilitas.
Sementara dari sisi pendanaan, dana murah (current account saving account/CASA) BSI tumbuh 21,4% YoY. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan tabungan sebesar 20% dan giro sebesar 24%.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia menilai prospek BRIS turut ditopang oleh perkembangan ekosistem bisnis perseroan, khususnya pada segmen haji dan emas.
Jumlah nasabah haji BSI meningkat 20% YoY menjadi 6,7 juta nasabah, sementara jumlah nasabah emas melonjak 46% menjadi 762.000 nasabah.
Atas kinerja tersebut, Ciptadana mempertahankan rekomendasi buy terhadap saham BRIS dengan target harga Rp2.900 per saham.
Masih Dalam Tren Pemulihan
Investor Relation BSI Rizky Budinanda mengatakan penguatan saham BRIS perlu dilihat dalam konteks pemulihan setelah mengalami koreksi cukup dalam dalam setahun terakhir.
“Meski mencatat lonjakan tajam hari ini, perlu dicatat bahwa saham BRIS masih berada dalam tren pemulihan setelah mengalami koreksi signifikan dalam setahun terakhir,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (19/7/2026).
Menurut dia, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi pergerakan saham ke depan, termasuk tekanan biaya dana dan potensi dilusi akibat kewajiban pemenuhan aturan free float minimum.
“Sejumlah tantangan seperti tekanan biaya dana serta potensi dilusi akibat kewajiban pemenuhan aturan free float minimum tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati investor,” pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





