Bursa saham Asia bergerak beragam pada Senin (20/7/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
IDXChannel – Bursa saham Asia bergerak beragam pada Senin (20/7/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.
Di saat yang sama, investor juga bersiap menyambut musim laporan keuangan emiten teknologi raksasa Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi ujian berikutnya bagi reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di kawasan, indeks Shanghai Composite menguat 1,60 persen, Hang Seng Hong Kong naik 2,25 persen, sementara ASX 200 Australia dan Straits Times Index (STI) Singapura bergerak cenderung mendatar.
Di sisi lain, pasar saham Korea Selatan turun 2,93 persen. Bursa Jepang tutup karena hari libur nasional.
Sentimen pasar masih dibayangi lonjakan harga minyak.
Minyak mentah Brent naik sekitar 3 persen hingga menembus level USD90 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan, setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kesembilan berturut-turut, yang kemudian dibalas dengan serangan Iran ke sejumlah target di kawasan.
Kenaikan harga energi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan meningkat, meskipun data inflasi konsumen AS pekan lalu menunjukkan perlambatan yang lebih baik dari perkiraan.
Pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga sekitar 29 basis poin hingga akhir tahun. Kontrak berjangka bahkan mencerminkan peluang sekitar 60 persen bagi kenaikan suku bunga pada September.
"Proyeksi kami masih mengarah pada kenaikan suku bunga The Fed yang lebih bertahap pada 2027, tetapi keseimbangan risikonya kini bergeser ke arah kenaikan yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya," kata Kepala Ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, dikutip Reuters.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun kembali menembus level psikologis 5 persen.
Kenaikan yield biasanya membuat aset obligasi lebih menarik dibandingkan saham sekaligus meningkatkan tekanan terhadap valuasi perusahaan, terutama sektor teknologi.
Tekanan itu datang ketika investor mulai mempertanyakan valuasi saham-saham chip dan AI yang dinilai sudah terlalu tinggi.
Philadelphia Semiconductor Index merosot 10 persen sepanjang pekan lalu dan kini telah terkoreksi sekitar 20 persen dari rekor tertinggi yang dicapai pada Juni.
Sentimen sektor AI juga mendapat tekanan setelah perusahaan AI asal China, Moonshot, memperkenalkan model open-weight terbaru bernama Kimi K3 yang diklaim memiliki kemampuan mendekati model AI Fable milik Anthropic.
Kondisi tersebut membuat musim laporan keuangan pekan ini menjadi sorotan utama pasar. Sejumlah raksasa teknologi AS seperti Alphabet, Intel, dan Tesla dijadwalkan merilis kinerja keuangannya.
Meski demikian, analis BofA Savita Subramanian masih optimistis terhadap prospek laba perusahaan. Ia memperkirakan laba emiten S&P 500 mampu melampaui konsensus sekitar 5 persen, dengan pertumbuhan mencapai 28 persen.
Sektor teknologi diperkirakan menjadi kontributor utama, sementara laba perusahaan semikonduktor diproyeksikan melonjak sekitar 130 persen secara tahunan.
Optimisme tersebut membuat kontrak berjangka S&P 500 naik 0,2 persen dan Nasdaq menguat 0,4 persen. Di Eropa, futures Euro Stoxx 50 dan DAX masing-masing naik 0,2 persen, sedangkan FTSE bergerak relatif datar. (Aldo Fernando)





