Bos Toyota Ajak Honda dan Nissan Berkolaborasi, Bendung Ekspansi Mobil Cina

bisnis.com
23 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Industri otomotif Jepang bersiap merapatkan barisan demi menghadapi gempuran masif dari pabrikan kendaraan listrik asal Cina.

Mantan CEO yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Toyota sekaligus Ketua Asosiasi Produsen Mobil Jepang (JAMA), Koji Sato, menyerukan urgensi peralihan strategi dari kompetisi sengit menuju kolaborasi yang lebih erat antar-produsen domestik.

Raksasa otomotif seperti Nissan dan Honda, Sato imbau, untuk memulai proses konstruksi yang lebih kolaboratif sejak tahap awal pengembangan. Alih-alih bersaing pada seluruh aspek kendaraan, kerja sama ini difokuskan pada berbagi komponen fundamental yang tidak memengaruhi identitas utama merek, seperti anyaman kabel (wiring harnesses), sistem pendingin, hingga pengencang (fasteners).

Melalui penyederhanaan komponen lintas manufaktur ini, anggaran riset dan pengembangan (R&D) masing-masing perusahaan dapat dialokasikan secara optimal untuk meningkatkan teknologi perangkat lunak, efisiensi berkendara, serta pengembangan inovasi masa depan.

Praktik berbagi komponen sebenarnya bukan hal baru di ekosistem otomotif Negeri Sakura. Mitsubishi dan Subaru dikenal sebagai rival abadi dalam ajang reli pada era 1990-an dan awal 2000-an. Namun, di balik kap mesin Subaru WRX, konsumen dapat dengan mudah menemukan komponen bertanda logo tiga berlian karena peran besar Mitsubishi sebagai pemasok suku cadang skala besar.

Upaya konsolidasi ini merefleksikan kembali strategi pemulihan ekonomi Jepang pada periode 1960 hingga 1970. Pada masa itu, di bawah arahan pemerintah, berbagai produsen mobil yang terfragmentasi melebur ke dalam kelompok yang lebih besar untuk mendongkrak volume produksi dan kualitas produk. Hasilnya, industri otomotif Jepang bertransformasi dari produsen mobil murah menjadi pemain kelas dunia yang disegani.

Baca Juga

  • Toyota Proyeksi Penjualan Innova Zenix Terkerek Aksi Blue Bird (BIRD)
  • Kinerja Kinclong Ekspor Toyota dan Daihatsu di Tengah Ketidakpastian Global
  • Bocoran Mobil Baru di GIIAS 2026: Toyota, Honda, hingga Wuling

“Automakers seperti Nissan dan Honda beralih dari kompetisi ke proses konstruksi yang lebih kolaboratif, dimulai dari dasar,” kata Sato Dilansir dari Carcoops, Senin (20/7/2026).

Skema kolaborasi dinilai menguntungkan bagi korporasi besar seperti Nissan dan Honda yang tengah menghadapi tekanan pasar, sekaligus menyelamatkan produsen dengan skala lebih kecil seperti Mazda dan Subaru.

Kerja sama pada komponen minor memungkinkan para insinyur Mazda di Hiroshima tetap fokus menggenjot sumber daya demi memastikan pengembangan generasi penerus MX-5 Miata berjalan sukses, atau memacu Subaru menghidupkan kembali lini legendaris WRX STI.

Sejarah mencatat konsolidasi industri otomotif Jepang selalu membawa dampak positif bagi kelangsungan bisnis korporasi maupun kepuasan konsumen. Langkah Toyota mengakuisisi Hino terbukti melahirkan ketangguhan pikap Toyota Hilux, sementara langkah Nissan menyerap Prince melahirkan lini legendaris Skyline GT-R. Di tengah ancaman manufaktur China saat ini, sinergi serupa diharapkan kembali menjadi penyelamat industri otomotif Jepang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Donald Trump Minta FIFA Tunjuk Amerika Serikat Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Lagi
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Dewan Pers Soroti Pernyataan Hotman Paris yang Dinilai Merendahkan Wartawan
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Seseruan Nobar ala Oto Tangerang, Bahas Fitur V2L di Chery Tiggo 9
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
Rekomendasi Serial Netflix dengan Detektif Perempuan Cerdas dan Karismatik
• 17 jam lalubeautynesia.id
thumb
Malam Makin Panas, Warga Kota di Jawa Kehilangan hingga 91 Jam Tidur Setahun
• 16 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.