Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan peluang penyelesaian damai dengan Amerika Serikat hanya sekitar 10% sebelum konflik bersenjata pecah. Meski demikian, Teheran tetap memilih menempuh jalur diplomasi sebagai upaya terakhir untuk menghindari perang.
Araghchi mengatakan Iran sejak awal berupaya memanfaatkan setiap ruang negosiasi demi mencapai tuntutan negaranya tanpa harus terlibat dalam konflik militer.
Menurutnya, peluang keberhasilan memang sangat kecil, tetapi perundingan tetap perlu dilakukan karena masih membuka kemungkinan tercapainya solusi damai.
"Perundingan memiliki beberapa tujuan. Salah satunya adalah kemungkinan menemukan cara melalui negosiasi untuk mencapai tuntutan kami dan kami tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu," kata Araghchi dalam wawancara yang dipublikasikan Anadolu pada Minggu (19/7/2026), dilansir dari Antara.
Dia menegaskan pemerintah Iran tidak ingin menutup pintu diplomasi meski prospek keberhasilannya terbatas.
"Kami mengatakan bahwa meskipun hanya ada peluang 10% untuk mencapai hasil selain perang melalui negosiasi, kami harus memanfaatkan kesempatan itu," ujarnya.
Baca Juga
- AS Gempur Iran Sembilan Hari Beruntun, Konflik Selat Hormuz Kian Memanas
- Iran Tangguhkan Perjanjian Damai karena AS Langgar Komitmen
Araghchi mengatakan apabila seluruh upaya diplomatik gagal membuahkan hasil, setidaknya Iran telah menunjukkan kepada masyarakat internasional, rakyatnya, maupun pihak lawan bahwa seluruh jalur damai telah ditempuh sebelum konflik semakin meluas.
Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memburuk setelah operasi militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan pesawat nirawak yang menyasar sejumlah negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat.
Situasi sempat mereda setelah kedua negara menyepakati nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk membuka jalan menuju penyelesaian damai.
Namun, kesepahaman tersebut tidak bertahan lama. Sengketa mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz kembali memicu eskalasi sehingga kedua negara kembali terlibat aksi saling serang dalam beberapa pekan terakhir.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran masyarakat internasional terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Pernyataan Abbas Araghchi menunjukkan Iran belum sepenuhnya menutup peluang penyelesaian melalui jalur diplomatik meski situasi keamanan terus memburuk.
Bagi Teheran, negosiasi bukan hanya bertujuan mencari kesepakatan, tetapi juga menjadi cara menunjukkan bahwa pemerintah telah mengupayakan seluruh langkah damai sebelum mengambil keputusan yang lebih keras.





