Deretan mural berwarna-warni sudah hampir sepekan menghiasi tanggul laut di Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjungmas, Kota Semarang, Senin (20/7/2026). Lukisan yang mengangkat tema biota laut, budaya pesisir, sejarah, hingga simbol-simbol nasionalisme itu menghadirkan wajah baru kampung nelayan yang selama ini lebih dikenal sebagai kawasan yang kerap dilanda banjir rob.
Pagi itu, mural menjadi latar beragam aktivitas warga di kawasan pesisir. Anak-anak mengayuh sepeda menyusuri jalur di samping tanggul. Berada di balik dinding beton, sejumlah nelayan mulai menyiapkan perahu untuk melaut menjelang siang. Beberapa warga tampak membersihkan ikan di depan rumah, sementara pemancing duduk berjajar menghadap laut menunggu kailnya disambar ikan.
Pemandangan tersebut menghadirkan sisi lain Tambaklorok. Sebelumnya, kawasan tersebut selama bertahun-tahun bergulat dengan banjir rob akibat pasang air laut. Untuk mengurangi dampaknya, pemerintah membangun tanggul laut sebagai bagian dari penataan Kampung Nelayan Tambaklorok. Tanggul yang membentang sekitar 3,6 kilometer itu berfungsi melindungi permukiman warga dari limpasan air laut dan gelombang pasang.
Kini, bentangan beton yang semula polos berubah menjadi kanvas raksasa. Warna-warna cerah menghiasi dinding tanggul, berpadu dengan taman-taman kecil di sejumlah titik. Ruang yang sebelumnya identik sebagai infrastruktur pengendali rob perlahan berkembang menjadi ruang publik. Warga memanfaatkannya untuk berjalan kaki, bersepeda, memancing, berolahraga, hingga menikmati matahari terbenam di pesisir utara Semarang.
Agus, ketua RT setempat, mengatakan, hampir seluruh mural merupakan hasil karya warga yang dikerjakan secara swadaya. Pengerjaannya dilakukan secara bertahap dengan semangat gotong royong untuk mempercantik lingkungan tempat tinggal mereka.
Menurut Agus, mural mengubah wajah Tambaklorok yang sebelumnya didominasi bentangan beton. Kehadiran lukisan dan taman-taman kecil membuat lingkungan terasa lebih ramah bagi warga dan pengunjung. ”Dulu kesannya keras karena yang terlihat hanya tembok beton. Sekarang lebih berwarna, lebih lembut, apalagi ada taman-tamannya dan orang yang datang juga lebih nyaman,” katanya.
Aktivitas warga dengan latar hiasan mural di Tambaklorok, Kota Semarang. (KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA)
Dinding tanggul bercat biru dengan bayangan pohon. (KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA)
Lukisan lumba-lumba dengan latar nelayan pulang melaut. (KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA)
Mural bagi warga bukan sekadar hiasan. Lukisan-lukisan yang menggambarkan kehidupan bawah laut, budaya pesisir, dan alam menjadi penanda identitas kampung nelayan yang kehidupannya bergantung pada laut. Di tempat yang dahulu lebih sering dikenang karena rob, kini anak-anak dapat bersepeda dengan latar mural, pemancing menikmati sore di tepi tanggul, sementara nelayan tetap bersiap melaut.
Perubahan itu menunjukkan bagaimana sebuah infrastruktur pelindung pesisir perlahan juga menjadi ruang hidup yang mempererat hubungan warga dengan kampungnya.





