Ferran Torres menjadi penentu kemenangan melalui golnya pada babak tambahan waktu. Hasil tersebut membawa Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua setelah sebelumnya menjadi juara pada 2010.
Namun, turnamen yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu tidak hanya meninggalkan cerita mengenai sang juara. Format 48 peserta, kejutan negara debutan, perubahan aturan, hingga pertunjukan hiburan pada laga final ikut menjadi bahan perbincangan.
Media Afrika Selatan, Sowetan, merangkum sejumlah hal yang dinilai berhasil dan kurang berhasil selama turnamen. Ada banyak warna baru yang menyegarkan, tetapi beberapa eksperimen juga dianggap membuat sepak bola semakin dekat dengan kepentingan hiburan dan komersial.
1. Format 48 Tim Membuka Ruang bagi Negara Kecil
Salah satu keberhasilan terbesar Piala Dunia 2026 terletak pada penggunaan format 48 tim. Sebelum turnamen berlangsung, penambahan jumlah peserta sempat dikhawatirkan akan menurunkan kualitas pertandingan dan menghasilkan terlalu banyak laga yang timpang.
Kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya terbukti. FIFA melalui Arsène Wenger menilai persaingan tetap berlangsung ketat. Sejumlah negara yang sebelumnya jarang masuk dalam peta kekuatan sepak bola dunia bahkan mampu menyulitkan tim unggulan.
Tanjung Verde menjadi salah satu contoh paling menarik. Menurut Sowetan, tim berjuluk Blue Sharks tersebut tidak terkalahkan pada fase grup, menahan Spanyol tanpa gol, lalu memaksa Argentina bermain hingga babak tambahan pada fase gugur.
Baca juga: Tanjung Verde dan Pelajaran untuk Timnas Indonesia
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa status debutan tidak selalu berarti hanya menjadi pelengkap. Tanjung Verde mampu bersaing melalui organisasi permainan yang disiplin dan keberanian menghadapi negara dengan tradisi sepak bola lebih kuat.
Lebih jauh, kemunculan tim seperti Tanjung Verde menunjukkan bahwa jarak antara kekuatan tradisional dan negara berkembang mulai menyempit. Pembinaan pemain, teknologi analisis pertandingan, dan pengalaman pesepak bola di berbagai liga luar negeri perlahan mengubah wajah kompetisi internasional.
2. Wakil Afrika Tampil Lebih Berani
Piala Dunia 2026 juga menjadi turnamen yang mengesankan bagi sepak bola Afrika. Dari sepuluh negara yang tampil, sembilan di antaranya berhasil melewati fase grup. Tunisia menjadi satu-satunya wakil Afrika yang tidak melanjutkan langkah ke babak gugur.
Maroko, Tanjung Verde, Mesir, Ghana, Afrika Selatan, Republik Demokratik Kongo, Senegal, Pantai Gading, dan Aljazair berhasil menjaga perjalanan mereka tetap hidup setelah fase grup.
Capaian tersebut terasa penting karena dalam daftar itu hanya Maroko, Senegal, dan Ghana yang sebelumnya pernah melewati fase grup Piala Dunia. Pada edisi 2026, keberhasilan wakil Afrika tidak lagi tampak sebagai kejutan yang berdiri sendiri.
Turnamen kali ini seolah memberikan panggung yang selama bertahun-tahun terlalu sempit. Tim-tim Afrika tidak hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik. Permainan mereka terlihat lebih terstruktur, matang ketika bertahan, serta cukup percaya diri dalam menguasai bola di hadapan tim unggulan.
Penampilan tersebut menjadi sinyal bahwa perkembangan sepak bola Afrika mulai bergerak lebih merata. Bukan hanya satu atau dua negara yang mampu bersaing, melainkan sejumlah tim dengan karakter permainan yang berbeda.
3. Aturan Baru Membuat Laga Lebih Efisien
Selain perluasan jumlah peserta, perubahan regulasi pertandingan turut memperoleh apresiasi. Salah satunya adalah kewenangan penggunaan VAR untuk memeriksa keputusan tendangan sudut yang terlihat jelas keliru, selama pemeriksaan dilakukan sebelum permainan dimulai kembali.
Aturan pergantian pemain juga diperketat. Pemain yang diganti harus meninggalkan lapangan melalui batas terdekat dalam waktu sepuluh detik.
Apabila melewati batas tersebut tanpa alasan cedera atau keselamatan, pemain pengganti tidak dapat langsung memasuki lapangan. Ia harus menunggu hingga penghentian permainan berikutnya setelah satu menit waktu pertandingan berjalan.
Kebijakan ini dirancang untuk membatasi praktik membuang waktu saat pergantian pemain. Kebiasaan pemain berjalan sangat lambat menuju bangku cadangan menjadi lebih sulit dilakukan tanpa membawa konsekuensi bagi timnya.
Aturan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dalam pertandingan yang berlangsung ketat, beberapa puluh detik dapat memengaruhi ritme permainan dan peluang terakhir bagi tim yang sedang tertinggal.
4. Jeda Hidrasi Dianggap Memutus Momentum
Tidak semua eksperimen mendapat sambutan positif. Dalam evaluasinya, Sowetan memasukkan jeda hidrasi sebagai salah satu catatan negatif karena dianggap terlalu sering memutus momentum pertandingan.
Dalam sejumlah laga, permainan sedang berlangsung cepat ketika wasit menghentikan pertandingan untuk memberi kesempatan para pemain minum. Dari sisi kesehatan, jeda tersebut tentu penting untuk membantu pemain beradaptasi dengan suhu tinggi.
Namun, dari sudut pandang penonton, dampaknya terasa berbeda. Intensitas yang mulai terbentuk mendadak terhenti. Tim yang sedang berada di bawah tekanan juga memperoleh kesempatan untuk memperbaiki formasi dan menerima instruksi tambahan dari pelatih.
Masalah utamanya bukan terletak pada kebutuhan pemain untuk menjaga kondisi tubuh, tetapi pada pola penerapannya. Ketika penghentian terasa terlalu kaku, pertandingan seakan memiliki sejumlah babak kecil di luar dua babak utama.
Di satu sisi, keselamatan pemain harus tetap menjadi prioritas. Di sisi lain, penerapannya perlu diatur secara proporsional agar tidak terlalu mengganggu aliran pertandingan.
5. Halftime Show di Final Picu Perdebatan
Halftime Show atau Pertunjukan Paruh Waktu pada laga final menjadi salah satu inovasi paling mencolok. FIFA menghadirkan Madonna, Shakira, BTS, Justin Bieber, Burna Boy, dan sejumlah penampil lain dalam produksi hiburan berskala global.
FIFA menyebut bagian inti pertunjukan tersebut berlangsung sekitar 11 menit. Namun menurut Sowetan, keseluruhan proses jeda dan pertunjukan membuat waktu istirahat berlangsung lebih dari 20 menit.
Bagi sebagian penonton, konsep tersebut menawarkan tontonan besar yang memadukan sepak bola dan budaya populer. Final Piala Dunia tidak lagi diposisikan sebagai pertandingan olahraga semata, tetapi juga sebagai acara hiburan global.
Namun, tradisi sepak bola hanya mengenal jeda antarbabak selama 15 menit. Pertunjukan yang terlalu panjang dikhawatirkan mengganggu kondisi fisik pemain dan memutus konsentrasi yang telah terbentuk sepanjang babak pertama.
Perdebatan tersebut memperlihatkan benturan dua kepentingan. FIFA ingin memperluas daya tarik komersial dan membuat final terasa semakin megah. Sementara itu, sebagian pendukung tidak ingin Piala Dunia berubah terlalu jauh menjadi pertunjukan hiburan bergaya Amerika.
Lampu, panggung, dan deretan musisi dunia mungkin bekerja sangat baik di layar televisi. Namun, sepak bola memiliki ritmenya sendiri. Ritme itu tidak selalu nyaman ketika para pemain harus menunggu panggung selesai dibongkar.
6. Penangguhan Hukuman Balogun Jadi Kontroversi
Catatan minus lainnya datang dari kasus penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Ia menerima kartu merah ketika menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar.
FIFA kemudian menangguhkan pelaksanaan larangan bermain satu pertandingan yang diterimanya. Sanksi tersebut ditempatkan dalam masa percobaan selama satu tahun sehingga Balogun tetap dapat tampil menghadapi Belgia.
Keputusan itu memicu perdebatan karena kasusnya melibatkan pemain dari salah satu negara tuan rumah. Sejumlah pihak mempertanyakan alasan FIFA memberikan penangguhan ketika hukuman kartu merah umumnya langsung berlaku pada pertandingan berikutnya.
Keputusan disipliner memang hampir selalu membuka ruang perbedaan pendapat. Namun, ketika kasus menyangkut tim tuan rumah, transparansi menjadi semakin penting.
FIFA perlu menjelaskan dasar hukum dan proses pengambilan keputusan secara terbuka. Penjelasan yang jelas diperlukan agar publik tidak melihat adanya perlakuan khusus terhadap pemain atau negara tertentu.
Piala Dunia 2026 Tidak Sempurna, tetapi Sulit Dilupakan
Secara keseluruhan, Piala Dunia 2026 memperlihatkan bahwa format 48 tim mampu menghadirkan lebih banyak cerita tanpa otomatis menurunkan mutu kompetisi.
Negara debutan tampil berani. Wakil Afrika berkembang pesat. Sementara itu, tim-tim besar tidak lagi dapat menjalani fase awal dengan terlalu santai.
Di sisi lain, turnamen ini menunjukkan bahwa sepak bola modern terus bergerak semakin dekat dengan kepentingan komersial. Jeda pertandingan, pertunjukan musik, sponsor, dan aturan baru ikut membentuk pengalaman menonton.
Sebagian inovasi berhasil membuat kompetisi terasa lebih segar dan terbuka. Sebagian lainnya dianggap berlebihan dan mengganggu karakter dasar pertandingan.
Piala Dunia 2026 mungkin bukan turnamen yang sempurna. Namun, dari kejutan Tanjung Verde hingga pesta juara Spanyol di Stadion New York New Jersey, edisi ini memiliki cukup banyak cerita untuk dibicarakan bahkan setelah peluit terakhir berbunyi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KAH)





