Saat Nyawa Ojol Jadi Taruhan, Terpaksa Terima Pesanan Antar Kulkas hingga Kasur

kompas.com
20 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik kemudahan layanan pesan antar barang di era digital, ada risiko keselamatan yang setiap hari dihadapi para pengemudi ojek online (ojol).

Tak sedikit kurir roda dua yang terpaksa mengangkut barang jauh melebihi kapasitas aman, mulai dari kasur, tumpukan paket berukuran besar, hingga kulkas.

Sekretaris Jenderal Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI), Einstein Dialektika, mengatakan kondisi tersebut masih kerap luput dari perhatian publik maupun pemerintah.

Baca juga: LBH Jakarta Buka Pos Pengaduan Ojol, Driver Kini Bisa Laporkan Suspend hingga Putus Mitra

"Agak miris sih sebenarnya teman-teman dari kurir online ya. Kapasitas overload barang itu yang kadang-kadang luput sama kita, padahal ada dimensinya, barang yang bisa dibawa atau yang tidak bisa dibawa," kata Einstein dalam konferensi pers peluncuran Pos Pengaduan Pekerja Transportasi Online di Gedung LBH Jakarta, Senin (20/7/2026).

Menurut Einstein, pemandangan pengemudi ojol yang membawa muatan berlebih kini justru menjadi hal yang lumrah di jalanan.

Ia menilai banyak pengemudi terpaksa menerima pesanan karena khawatir reputasi atau rating mereka menurun jika membatalkan order.

Baca juga: Tinggalkan Motor 2 Menit untuk Ambil Paket, Ojol di Tangerang Jadi Korban Curanmor

"Bahkan beberapa contoh, kita melihat ada driver online membawa kulkas dua pintu, terus membawa paket yang bubble wrap ya, itu pun kadang sampai dua sampai tiga," ungkapnya.

Einstein mengaku pernah mengalami sendiri risiko membawa paket berdimensi besar.

Menurut dia, hembusan angin di jalan raya dapat membuat sepeda motor sulit dikendalikan sehingga membahayakan keselamatan pengemudi.

Ironisnya, apabila barang yang diangkut rusak akibat kecelakaan, pengemudi juga kerap diminta bertanggung jawab.

Baca juga: Ojol yang Hilang Motor di Tangerang Masih Syok, HP Sampai Terjatuh dan Rusak

"Saya pernah bawa itu yang bubble wrap kayak guling gede itu, rasanya kayak naik perahu layar. Setiap ada angin itu kita ke kiri, ke kanan, ke belakang. Asli itu kayak naik perahu layar. Keselamatan kita juga terancam," ujarnya.

Einstein juga menyoroti lemahnya pengawasan aplikator terhadap batas dimensi dan berat barang yang dikirim melalui platform e-commerce.

Padahal, menurut dia, ketentuan mengenai ukuran dan berat maksimal barang sebenarnya sudah ada. Namun, implementasinya di lapangan dinilai tidak berjalan dengan baik.

Baca juga: Viral Ojol Menangis dan Minta Tolong Warganet Usai Motor Hilang di Tangerang

"Padahal dulu di Grab dan di Gojek itu sudah ditentukan dimensinya berapa, beratnya berapa. Tapi pada action di lapangannya, nah itu yang kadang-kadang kita saling menyalahkan. 'Oh toh bisa-bisa saja dari e-commerce-nya', ya kita yang bawa-bawa aja gitu kan," ucapnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Risiko Kecelakaan Ditanggung Sendiri

Ketua Umum Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia (Speta), Iwan Setyawan, mengatakan persoalan tidak berhenti pada risiko kecelakaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
UMM Jadi Pelopor Dongkrak Panen Padi Hingga 8,5 Ton Per Hektar di Bondowoso
• 21 jam laluberitajatim.com
thumb
Pemerintah Kaji Insentif Pajak PFII, PPh 0% 50 Tahun Belum Final
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Polisi Usut Keberadaan Atlet Golf Jesslyn Wijaya yang Diduga Diculik: Tidak Ada di Kota Jakarta
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Bahlil Prediksi Mobil Hidrogen Akan Bersaing Ketat dengan EV di Masa Depan
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Yusril Anggap Wajar Biaya Lepas Status WNI Rp5 Juta: Tinggal Dipatuhi!
• 7 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.