VIVA – Piala Dunia 2026 telah resmi menutup tirainya. Timnas Spanyol tampil sebagai juara setelah menaklukkan Argentina pada partai final yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, Senin dini hari WIB, 20 Juli 2026.
Di balik pesta kemenangan La Furia Roja, ada satu kisah lain yang tak kalah menyita perhatian. Penyerang Timnas Prancis, Kylian Mbappe, memang berhasil mengukir sejarah dengan menyabet penghargaan Sepatu Emas (Golden Boot). Namun, pencapaian individu itu belum mampu menghapus rasa kecewa setelah Les Bleus gagal membawa pulang trofi juara.
Mbappe kembali menunjukkan statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia. Sepanjang turnamen, striker Real Madrid tersebut tampil tajam dengan mencetak 10 gol, sekaligus menjadi top skor Piala Dunia 2026.
Catatan tersebut membuat Mbappe menciptakan sejarah baru. Ia menjadi pemain pertama yang dua kali meraih Golden Boot Piala Dunia, melampaui banyak legenda yang hanya sekali menyandang status pencetak gol terbanyak.
Meski demikian, pencapaian itu terasa hambar. Prancis datang ke Amerika Serikat dengan target merebut kembali gelar juara dunia. Skuad asuhan Didier Deschamps digadang-gadang sebagai salah satu favorit berkat kombinasi pemain berpengalaman dan generasi muda bertalenta.
Perjalanan Les Bleus justru terhenti di semifinal. Situasi semakin pahit setelah mereka kembali menelan kekalahan 4-6 saat menghadapi Inggris dalam perebutan tempat ketiga. Harapan menutup turnamen dengan setidaknya membawa medali perunggu pun sirna.
Akan tetapi kapten timnas Prancis itu tetap menjalankan perannya sebagai motor serangan. Ia terus mencetak gol, memimpin lini depan, serta berkali-kali menjadi pembeda ketika Prancis berada dalam tekanan.
Sayangnya Ketajaman Mbappe tidak mampu menutupi rapuhnya permainan tim secara keseluruhan. Ketika organisasi pertahanan kehilangan keseimbangan dan performa tim menurun, kontribusi individu sebesar apa pun tak cukup mengubah hasil akhir.
Kegagalan ini juga menjadi penutup yang kurang manis bagi Didier Deschamps. Selama bertahun-tahun, Mbappe berkembang menjadi megabintang dunia di bawah arahan pelatih tersebut. Karena itu, kegagalan mempersembahkan gelar pada turnamen yang diyakini menjadi akhir era Deschamps terasa meninggalkan penyesalan tersendiri.





