Makassar: Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) menilai pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional menunjukkan bahwa provinsi ini merupakan salah satu dapur ekonomi Indonesia.
Ketua Umum DPP Asprindo Jose Rizal memaparkan, pertumbuhan ekonomi Sulsel 2025 tercatat 5,32 persen, di atas rata-rata angka nasional. Ekspor Sulsel tembus USD2,1 miliar didominasi nikel, rumput laut, kakao, dan perikanan. Sementara UMKM Sulsel tercatat sebanyak 1,2 juta unit dan mampu menyerap 70 persen tenaga kerja.
"Dapur ekonomi Indonesia, salah satunya ada di Sulsel. Tapi pertanyaannya, berapa persen dari USD2,1 miliar itu yang masuk ke kantong pengusaha bumiputera? Pertanyaannya, seberapa besar kontribusi dan hasil ekonomi tersebut masuk ke kantong pengusaha Asprindo?” kata Jose dalam keterangan tertulis, Selasa, 21 Juli 2026.
Jose menilai, pelantikan kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asprindo Sulawesi Selatan periode 2025-2030, bukan sekadar seremoni. Menurutnya, ini adalah deklarasi perang ekonomi, melawan kemiskinan serta melawan mental ‘cukup jadi makelar'.
"Pengusaha Asprindo sudah saatnya turun ke sawah, ke laut, ke pabrik, menjemput kolaborasi dengan pemerintah," tegasnya.
Baca Juga :
Kinerja Ekonomi Jelang 2 Tahun Prabowo: Ekonomi Tumbuh, Investasi Terus Menguat(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com) Bangun ekosistem sumber daya yang menembus pasar global Jose juga menyerukan agar pengusaha memaksimalkan sumber daya melalui pembangunan Kampung Industri. Ia mengingatkan pentingnya membangun kapasitas melalui teknologi, modal, dan branding agar produk-produk Asprindo, termasuk UMKM bisa menembus pasar internasional.
"Sulsel punya enam komoditas, emas, nikel, rumput laut, perikanan, kakao, dan pariwisata bahari. Jangan lagi jual mentah. Kita bikin pabrik. Kita bikin Kampung Industri. 1 desa 1 produk juara. Dari bahan baku Takalar, diolah di Makassar, dijual ke dunia," ungkapnya.
Untuk itu, ia memberikan amanah pada para pengurus yang baru dilantik. Pertama, kuasai sumber daya lokal. Kedua, bangun ekosistem tempur. Ketiga, ia mengamanatkan agar pelaku usaha harus mampu naik kelas dengan standar dunia.
"Dana ada, program ada. Tugas kita adalah mengeksekusi. Ingat, kita bukan minoritas di negeri sendiri. Kita adalah mayoritas yang selama ini banyak diam. Harus nya kita tidak boleh diam tapi kita terus bergerak, jangan berhenti. Asprindo jaya, Indonesia kaya. Bergerak, berdaulat, berjaya," tegas dia.
Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pembina Asprindo Jamaluddin Jompa mengingatkan agar pengusaha berusaha untuk tumbuh bersama, saling menguatkan, dengan memelihara persaingan yang sehat, bekerja secara profesional.
“Dunia akademik siap bersinergi dan bekerja sama dengan pengusaha. Banyak riset dari kampus yang bisa diimplementasikan di dunia usaha. Di kampus pun digalakkan entrepreneurship,” ujarnya.
Ketua Dewan Pakar Asprindo Didin S. Damanhuri menyatakan bahwa keberadaan Asprindo sangat strategik sebagai vehicle untuk menumbuhkan dan mengakselerasi pertumbuhan pengusaha pribumi.
“Ini bukan soal dikotomi pribumi dan nonpribumi, tapi ini harus dilihat sebagai amanat konstitusi, pasal 33 UUD. Gerakan Asprindo bertujuan untuk menghapus ketimpangan di bidang ekonomi, di mana pertumbuhan ekonomi saat ini hanya dinikmati segelintir orang," kata Prof Didin.




