EtIndonesia.com Pada Minggu (19/7/2026), militer Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan udara terhadap Iran. Serangan ini merupakan hari kedelapan berturut-turut operasi militer AS terhadap Iran.
Menurut laporan tersebut, serangan kali ini mencakup sasaran terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai respons atas serangan sebelumnya terhadap pasukan Amerika Serikat di Yordania yang mengakibatkan korban jiwa di pihak militer AS.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dalam pernyataannya mengatakan bahwa sasaran serangan udara meliputi:
- Sistem pengawasan pantai milik militer Iran.
- Fasilitas pertahanan udara.
- Kemampuan operasi maritim.
- Fasilitas penyimpanan rudal.
- Gudang penyimpanan pesawat nirawak (drone).
Tujuan operasi tersebut, menurut CENTCOM, adalah melemahkan kemampuan militer Iran.
Rekaman yang dirilis militer AS menunjukkan bahwa operasi dilakukan menggunakan pesawat tempur serta rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari laut.
Salah satu target berada di sebuah lembah pegunungan. Menurut laporan, Garda Revolusi Iran telah lama menempatkan pangkalan rudal dan peralatan militernya di kawasan pegunungan.
Dalam pernyataannya, militer AS mengatakan bahwa serangan terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di Yordania.
Menurut artikel tersebut, serangan terhadap pasukan AS itu mengakibatkan:
- 2 personel militer AS tewas.
- 1 personel masih dinyatakan hilang.
- 4 personel lainnya mengalami luka-luka.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa selain menyerang sasaran militer, militer AS kini juga menargetkan infrastruktur di dalam wilayah Iran, termasuk:
- Jembatan.
- Fasilitas pembangkit listrik.
Sebagai balasan, menurut artikel tersebut, Iran menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air laut di Kuwait, yang berdampak pada layanan publik di wilayah tersebut.
Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa pada larut malam 18 Juli, pemerintah di Teheran secara resmi mengumumkan pembatalan perjanjian gencatan senjata sementara dan menyatakan dimulainya perang secara penuh.
Selain itu, Amerika Serikat dikabarkan sedang mengirim tambahan kekuatan militer ke Timur Tengah, termasuk:
- Pesawat tempur F-16.
- Pesawat tempur F-35.
- Pesawat pengisian bahan bakar di udara (air refueling tanker).
Laporan gabungan oleh Yan Feng dan Wang Yanchiao, New Tang Dynasty Television.





