FIFA secara resmi membuka investigasi terkait insiden kerusuhan yang melibatkan pemain dan staf pelatih Argentina sesaat setelah peluit panjang babak final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, Minggu, (20/7) waktu setempat. Komite disiplin FIFA telah menunjuk petugas khusus untuk mengevaluasi pelanggaran perilaku yang terjadi dalam laga kontra Spanyol tersebut, yang berpotensi berujung pada sanksi larangan bertanding bagi para pemain maupun denda finansial bagi Federasi Sepak Bola Argentina (AFA).
Kronologi Insiden di Stadion MetLifeKekacauan bermula ketika para pemain Spanyol merayakan kemenangan 1-0 mereka di tengah lapangan. Ketegangan memuncak saat gelandang Spanyol, Rodri, melintasi area pemain Argentina, yang kemudian memicu reaksi agresif dari bek Nahuel Molina. Situasi memburuk dengan cepat ketika Leandro Paredes terlibat dalam kontak fisik, termasuk tindakan yang tampak menargetkan area tenggorokan pemain Spanyol, Eric Garcia.
Eskalasi berlanjut saat Thiago Almada dan Roberto Ayala dilaporkan turut melakukan tindakan fisik terhadap pemain Spanyol lainnya, seperti Gavi dan Dani Olmo. Meskipun wasit Slavko Vincic sempat memberikan respons di lapangan, FIFA kini bergerak lebih jauh dengan meninjau ulang rekaman insiden untuk memastikan apakah terdapat pelanggaran kode etik disiplin yang lebih serius.
Insiden ini menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Pengamat sepak bola, Alan Shearer, secara tegas menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak dapat diterima dalam dunia olahraga. Shearer menyebutkan, “Paredes melayangkan dua atau tiga pukulan ke wajah seseorang. Dia benar-benar menyerang. Tidak ada ruang bagi tindakan seperti itu. Kita tahu betapa menyakitkannya kekalahan, tetapi ada cara yang lebih bermartabat untuk menerimanya,” ujarnya seperti dikutip dari BBC.
Di sisi lain, pelatih Argentina, Lionel Scaloni, mencoba meminimalisir dampak dari insiden tersebut dalam wawancara pasca-pertandingan. “Kita harus bersikap anggun dalam kemenangan maupun kekalahan. Hari ini, kami menunjukkan bahwa kami tahu cara menerima kekalahan. Kami kalah dan kami menerimanya, namun itu bukan berarti kami berhenti hidup atau melupakan segala perjuangan kami hingga sampai di tahap ini.”
Tindakan para pemain dan staf Argentina dapat dikategorikan sebagai pelanggaran aturan dasar berperilaku sopan serta mencoreng citra sepak bola atau FIFA. Jaksa penuntut akan mempertimbangkan berbagai faktor pemberat sebelum menjatuhkan putusan.
Jika terbukti bersalah, FIFA memiliki kewenangan penuh untuk menjatuhkan sanksi larangan bermain di level internasional secara global. Selain itu, Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga menghadapi ancaman sanksi tambahan mengingat mereka juga sedang dalam proses investigasi terkait pengibaran spanduk kontroversial yang mendukung klaim kedaulatan negara mereka atas Kepulauan Falkland pasca-laga semifinal melawan Inggris.





