jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut penguatan pengawasan hutan seharusnya dengan memanfaatkan teknologi terkini untuk mempercepat deteksi berbagai persoalan di lapangan.
Dia mengatakan pemanfaatan teknologi berupa drone atau pesawat nirawak bisa membantu petugas memperoleh data serta memetakan kondisi hutan.
BACA JUGA: Menhut Raja Juli Dinilai Pulihkan Kepercayaan Investor terhadap Perdagangan Karbon
Hal itu disampaikan Raja Juli dalam pertemuan dengan petinggi PT Dirgantara Indonesia di kantor Kemenhut, Jakarta Senin (20/7/2026).
"Kita butuh teknologi. Drone salah satunya, bagaimana kemudian membantu pasukan darat (Tim UPT Kemenhut) untuk mengidentifikasi problem-problem yang muncul di lapangan,” ujar eks Plt Wakil Kepala Otorita IKN itu.
BACA JUGA: WWF Indonesia Apresiasi Upaya Menhut Raja Juli Memperkuat Ranger di 13 Taman Nasional
Dalam pertemuan itu, Raja Juli didampingi Wamenhut Rohmat Marzuki beserta jajaran Dirjen Kemenhut.
Selain itu, hadir Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan, Direktur Produksi Dena Hendriana, Direktur Teknologi, dan Managemen Risiko Ony Arifianto.
BACA JUGA: Menhut Dinilai Berperan Sentral dalam Menjaga Kredibilitas Perdagangan Karbon Hutan
Menurut Raja Juli, teknologi drone dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi indikasi pembalakan liar, pembukaan lahan, aktivitas pertambangan ilegal, hingga hotspot secara lebih cepat.
“Kebutuhan itu kebutuhan kecepatan untuk membantu pasukan darat (tim UPT Kemenhut), dibantu dengan teknologi yang bisa mendeteksi hotspot, pembukaan lahan, illegal logging, illegal mining,” lanjutnya.
Raja Juli melanjutkan pemantauan secara rutin memungkinkan potensi gangguan di kawasan hutan dapat diketahui sejak dini.
Dia mengatakan data dan informasi yang diperoleh dari pemantauan selanjutnya bisa diteruskan ke Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) maupun unit teknis lain.
Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu mengatakan teknologi drone termal dapat mendukung pemantauan hotspot maupun satwa.
Namun, Raja Juli mengatakan Kemenhut akan mengevaluasi efektivitas perangkat drone yang telah dimiliki, termasuk bidang planologi dan konservasi sumber daya alam dan ekosistem (KSDAE), sebelum menentukan kebutuhan penguatan atau peningkatan teknologi.
"Ini alat yang sudah existing akan dievaluasi efisiensinya seperti apa, kalau memang ada pengadaan lagi misalkan apakah mungkin ini bisa mengkompensasikan atau mengupgrade apa yang kita sudah miliki,” ujar dia. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Menhut Ungkap Info Penting Soal Penyelamatan Gajah, Ternyata...
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan




