REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Hadi, SKM., MKep. Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Jakarta & Ketua Dewan Pembina Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia
Di sebuah puskesmas terpencil, perawat sering menjadi tenaga kesehatan pertama, bahkan satu-satunya yang ditemui masyarakat ketika sakit. Ia menangani demam anak, merawat luka, memberikan edukasi kesehatan, mengunjungi keluarga, mendampingi keadaan darurat, hingga mengambil keputusan awal sebelum pasien dirujuk.
Di kota besar, perawat berjaga di instalasi gawat darurat, kamar operasi, ruang intensif, unit hemodialisis, ruang kanker, dan bangsal perawatan. Ketika sebagian besar orang tertidur, perawat tetap berada di sisi pasien: memantau perubahan kondisi, memberikan obat, mencegah komplikasi, menenangkan keluarga, dan memastikan pelayanan terus berjalan.
Perawat hadir dari tempat paling sunyi di pelosok desa hingga rumah sakit modern di kota metropolitan. Namun, di balik besarnya kebutuhan terhadap profesi ini, penghargaan yang diterima masih jauh dari sepadan. Inilah paradoks profesi perawat Indonesia: dibutuhkan di mana-mana, dicari berbagai negara, tetapi masih dipinggirkan di negeri sendiri.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dicari Dunia
Kebutuhan dunia terhadap perawat terus meningkat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan dunia masih akan mengalami kekurangan sekitar 4,5 juta perawat pada 2030. Kesenjangan terbesar terdapat di Afrika, Asia Tenggara, kawasan Mediterania Timur, dan sebagian Amerika Latin. WHO menegaskan investasi pada perawat diperlukan untuk membangun sistem kesehatan yang efektif, tangguh, dan berkelanjutan.
Indonesia seharusnya mampu mengambil peluang tersebut. Pada Juni 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 768.623 perawat telah teregistrasi. Dalam periode 2022–2024, sebanyak 1.294 lulusan Poltekkes Kemenkes tercatat bekerja di 14 negara, termasuk Jepang, Jerman, Arab Saudi, Belanda, dan Singapura.
Namun, angka itu belum mencakup berbagai lulusan dari PTN dan PTS. Pendidikan perawat Indonesia diselenggarakan dalam bentuk akademi, sekolah tinggi, institut, politeknik, dan universitas. Dalam kenyataannya, sebagian besar program studi keperawatan dan pendidikan profesi Ners justru berada di bawah pembinaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Berdasarkan penelusuran terhadap Data Program Studi Pendidikan Tinggi Tahun 2025 yang bersumber dari PDDikti, Indonesia sedikitnya memilik 299 perguruan tinggi menyelenggarakan pendidikan vokasi keperawatan.
Jenjang pendidikan Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners mencakup lebih dari 340 institusi, 42 program studi Magister Keperawatan, 4 perguruan tinggi penyelenggara Program Studi Spesialis Keperawatan dan 4 perguruan tinggi penyelenggara Program Studi Doktor Keperawatan. Besarnya basis pendidikan belum diimbangi dengan formasi pekerjaan, jenjang karier, dan pengakuan kompetensi yang proporsional.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.