Kecelakaan di Tol Pandaan-Malang, HiAce Tabrak Truk, Tiga Orang Tewas

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

MALANG, KOMPAS — Kecelakaan maut akibat tabrak belakang kembali terjadi di Jalan Tol Pandaan-Malang, tepatnya di Kilometer 76+800A, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (22/7/2026) malam. Sebuah mobil Toyota HiAce menabrak truk yang melaju di depannya.

Akibat kecelakaan itu, tiga orang meninggal dunia dan lima lainnya luka-luka. Korban meninggal ialah Burhanuddin (46), warga Makassar, Sulawesi Selatan; Oktavivin Tristianto (40), warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan; serta AWM (10). Seluruh korban meninggal dievakuasi ke RSUD Dr Saiful Anwar, Kota Malang.

Adapun korban luka ialah Erniawati (40), Putri (28), MYS (2), Yusdalifa (42), dan BNF (8). Seluruhnya merupakan warga Kabupaten Gowa dan menjalani perawatan di RS Lawang Medika.

"Tampak ada empat hingga lima kendaraan berjejer sehingga terlihat seperti kecelakaan beruntun. Ada mobil pribadi, minibus, dan truk. Minibus itu tampak rusak berat di bagian kiri dan ditutup kain. Lokasinya sebelum turunan Tol Lawang. Saat saya melintas arus lalu lintas belum macet dan polisi sudah berada di lokasi," ujar Kitty, salah seorang pengendara yang melintas.

Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Timur Ajun Komisaris Besar Hendrix Kusuma Wardhana menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan awal, Toyota HiAce bernomor polisi B 7463 WDA melaju dari arah Surabaya menuju Malang melalui lajur lambat.

Setibanya di lokasi kejadian, sebuah bus yang identitasnya belum diketahui melaju dengan kecepatan tinggi dan mendahului HiAce serta truk Hino bernomor polisi DA 8984 CH. Setelah itu, pengemudi HiAce, Awang Darmawan, warga Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Malang, berusaha menyalip truk yang dikemudikan Adolfus Gelu, warga Kecamatan Nangatayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Namun, diduga karena kurang mengantisipasi kondisi lalu lintas dan gagal mengendalikan kecepatan kendaraan, HiAce menabrak bagian belakang truk tersebut.

Baca JugaMengapa ”Microsleep” Masih Menjadi Penyebab Utama Kecelakaan Maut di Tol?

Kecelakaan tabrak belakang di ruas Tol Pandaan-Malang bukan kali pertama terjadi. Pada Rabu (16/7/2026), misalnya, mobil Honda CR-V yang ditumpangi rombongan wisatawan asal Surabaya juga menabrak truk yang berhenti di bahu jalan di Kilometer 72, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Kecelakaan itu menewaskan lima orang dan melukai empat lainnya. Hilangnya konsentrasi pengemudi diduga menjadi penyebab utama.

Sebelumnya, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno mengatakan, berdasarkan data Korps Lalu Lintas Polri dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), faktor manusia (human error) berkontribusi terhadap lebih dari 80 persen kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Menurut Djoko, hilangnya konsentrasi akibat kelelahan, termasuk microsleep, menjadi salah satu penyebab utama, selain perilaku mengemudi melebihi batas kecepatan (speeding).

"Penurunan konsentrasi sedikit saja pada kecepatan tinggi memiliki konsekuensi yang jauh lebih fatal dibandingkan penurunan konsentrasi pada kecepatan rendah di jalan arteri perkotaan," katanya.

Djoko menjelaskan, dampak fatal kecelakaan pada kecepatan tinggi dapat dijelaskan secara ilmiah. Pertama, kecepatan tinggi memangkas waktu reaksi pengemudi. Pada kecepatan 80-100 kilometer per jam, kendaraan bergerak sekitar 22-27 meter setiap detik.

Baca JugaBus Wisata Tabrak Truk di Jalan Tol Pandaan-Malang, 4 Orang Tewas

​Artinya, apabila pengemudi mengalami microsleep selama tiga detik saja, kendaraan dapat melaju tanpa kendali sejauh hampir 80 meter atau setara dengan hampir sepertiga panjang lapangan sepak bola.

Menurut Djoko, kondisi di Tol Pandaan-Malang sebenarnya berbeda. Batas kecepatan di ruas tersebut berkisar 60-80 kilometer per jam karena karakter jalannya yang berbukit dan memiliki tanjakan serta turunan. Namun, tidak sedikit pengendara yang tetap melaju melebihi batas kecepatan.

"Hilangnya konsentrasi juga memangkas waktu yang dibutuhkan pengemudi untuk menginjak rem atau menghindari objek di depan, seperti truk atau pembatas jalan," ujarnya.

Selain itu, kondisi jalan tol yang monoton, terutama pada malam hari, dapat memicu highway hypnosis, yakni keadaan ketika pengemudi tetap mengemudi dalam mode otomatis tanpa kesadaran penuh karena rangsangan visual yang berulang.

"Jika pengemudi sudah lelah, highway hypnosis dapat dengan cepat berubah menjadi microsleep, yaitu episode tidur singkat selama satu hingga 15 detik. Saat microsleep terjadi, koordinasi motorik praktis hilang sehingga kendaraan dapat oleng dalam sekejap," kata Djoko.

Faktor berikutnya ialah tingginya fatalitas benturan pada kecepatan tinggi. Menurut Djoko, saat pengemudi kehilangan konsentrasi, umumnya tidak ada waktu untuk melakukan pengereman sebelum benturan terjadi.

"Kendaraan menghantam objek dengan energi kinetik penuh tanpa mengalami perlambatan. Karena itu, struktur kendaraan sering mengalami kerusakan sangat parah sehingga ruang keselamatan (survival space) bagi penumpang menjadi sangat terbatas," katanya.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Kongres Nasional PMKRI, Sudirman Said Ajak Aktivis Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Piala AFF Putri 2026: Hancurkan Laos 5-0, Indonesia Pertahankan Gelar Juara
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Peristiwa 22 Juli: Bom Guncang 2 Gereja di Jaktim hingga Jokowi Resmi Jadi Presiden
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Pentingnya Sertifikasi Produk Pangan, Obat, dan Kosmetik
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
150 Bangunan-Lapak di Bantaran Kali Petamburan Jakpus Dibongkar, Akan Dibangun RTH
• 17 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.